Meninggalkan Semut di Masjid
February 19, 2017


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 19 Februari 2017)

meninggalkan-semut-di-masjid-ilustrasi-farid-s-madjid-suara-merdeka

Meninggalkan Semut di Masjid ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Hujan turun. Butiran-butiran air sebesar biji jagung menghajar genting dan ranting, pohon dan kebun, dan memaksa orang-orang menyembunyikan diri dalam rumah masing-masing. Angin buruk berembus. Tiang listrik di ujung gang bergoyang-goyang. Tiga dahan besar pohon trembesi di pinggir jalan patah dan melintang dari tepi ke tepi yang lain. Itulah salah satu sore terburuk sepanjang 1987. (more…)

Advertisements

Kisah Kegembiraan Penghabisan
February 12, 2017


Cerpen Nicko Fernando (Suara Merdeka, 12 Februari 2017)

kisah-kegembiraan-penghabisan-ilustrasi-suara-merdeka

Kisah Kegembiraan Penghabisan ilustrasi Suara Merdeka

Malam itu, aku dan adik-adikku berkumpul di samping lahan kosong, yang tak lama lagi bakal ditanami sebuah gedung. Seperti gedung-gedung lain di kota kami. Seperti biasa, usai menghabiskan pagi hingga petang untuk bekerja, aku dan adik-adikku menghabiskan malam untuk saling bercerita. (more…)

Pacar Terakhir
February 5, 2017


Cerpen Eka Handriana (Suara Merdeka, 05 Februari 2017)

pacar-terakhir-ilustrasi-putut-wahyu-widodo-suara-merdeka

Pacar Terakhir ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Semua ini berawal dari Wawan. Kekosongan kampung ini dan segala kekacauan yang kemudian mengisi, semua karena Wawan. Aku membencinya. Bukan hanya karena dia telah mencampakkanku, lalu kawin dengan gadis kota yang ia bawa ke kampung setiap lebaran dengan sedan mulus. Lebih dari itu.

Kubenci Wawan karena dialah bibit kehancuran tempat tinggalku ini. (more…)

Lelaki Subur
January 29, 2017


Cerpen Danang Cahya Firmansah (Suara Merdeka, 29 Januari 2017)

lelaki-subur-ilustrasi-suara-merdeka

Lelaki Subur ilustrasi Suara Merdeka

Saat ngopi di warung pertigaan jalan, Gober merenung, gelisah. Tangan kanannya memegangi kening, tangan kiri memegang rokok menyala. Gelas kopi di hadapannya masih penuh, belum setetes pun dia teguk. Gober memikirkan biaya untuk melanjutkan sekolah anak-anaknya. Dia memijit-mijit kening, kebingungan.

“Kenapa, Pak?” tanya Mak Ijah, pemilik warung, pada Gober.

“Bingung, Mak. Anak-anakku butuh biaya.”

“Anakmu berapa ta?”

“Enam.” (more…)

Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue
January 22, 2017


Cerpen Utami Panca Dewi (Suara Merdeka, 22 Januari 2017)

air-mata-yang-terperangkap-dalam-sepotong-kue-ilustrasi-suara-merdeka

Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue ilustrasi Suara Merdeka

A Ma masih di kelenteng melakukan sembahyang untuk leluhur ketika Lilian sibuk mengelus-elus sepotong kue keranjang yang paling kecil pada tumpukan paling atas. Lilian memutuskan untuk tinggal di rumah dan tidak mengikuti langkah A Ma. Bukan saja karena ia tak mau repot menahan mulutnya dari keharusan bersin berulang-ulang setiap kali menghirup aroma dupa yang terbakar. Bukan pula karena sengaja ingin menyakiti hati A Ma. Ia ingin di rumah saja, meresapi setiap kesedihan yang terperangkap dalam kue-kue keranjang berbentuk bundar dan berwarna cokelat itu.

Ini hari terakhir sebelum Tahun Baru tiba. Dan hidangan Imlek telah disiapkan A Ma untuk menyambut kedatangan sinchia. Sepiring siu mie (mie panjang umur), teh telur, jeruk mandarin, daging ikan, ayam dan babi. Termasuk setumpuk kue keranjang tiga tingkat yang semakin ke atas semakin mengecil dan mengerucut. (more…)

Gara-gara Tiga Ratus Ribu Rupiah
January 15, 2017


Cerpen Julia Hartini (Suara Merdeka, 15 Januari 2017)

gara-gara-tiga-ratus-ribu-rupiah-ilustrasi-hery-purnomo-suara-merdeka

Gara-gara Tiga Ratus Ribu Rupiah ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Krincing uang logam seribu rupiah jatuh dari dompet kumal dan bau apak milik Raf. Itu adalah uang terakhir yang dipertahankan setelah seharian laki-laki tersebut tak makan. Dengan cepat, dia mengambil koin, dan melihatnya dalam-dalam. Saat itulah, dia teringat sesuatu. Sebab itu, matanya yang kuyu mulai menampakkan geliat. Masih ada harapan bahwa dia tak harus mati kelaparan.

Tiga bulan yang lalu Badri datang ke rumahnya malam-malam untuk meminjam uang. Saat itu, Raf baru mendapat uang setelah membantu seorang laki-laki tua mendorong mobil yang mogok di atas flyover. Uang tersebut disimpan untuk melamar Nurasih di kampung. Namun, dia tak bisa menolak permohonan Badri. Ujian anak Badri yang tinggal beberapa hari lagi lebih penting daripada meminang kekasihnya yang bisa dilakukan kapan saja. Badri berjanji mengembalikan utang setelah gaji dibayar oleh bosnya. (more…)