Gara-gara Tiga Ratus Ribu Rupiah
January 15, 2017


Cerpen Julia Hartini (Suara Merdeka, 15 Januari 2017)

gara-gara-tiga-ratus-ribu-rupiah-ilustrasi-hery-purnomo-suara-merdeka

Gara-gara Tiga Ratus Ribu Rupiah ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Krincing uang logam seribu rupiah jatuh dari dompet kumal dan bau apak milik Raf. Itu adalah uang terakhir yang dipertahankan setelah seharian laki-laki tersebut tak makan. Dengan cepat, dia mengambil koin, dan melihatnya dalam-dalam. Saat itulah, dia teringat sesuatu. Sebab itu, matanya yang kuyu mulai menampakkan geliat. Masih ada harapan bahwa dia tak harus mati kelaparan.

Tiga bulan yang lalu Badri datang ke rumahnya malam-malam untuk meminjam uang. Saat itu, Raf baru mendapat uang setelah membantu seorang laki-laki tua mendorong mobil yang mogok di atas flyover. Uang tersebut disimpan untuk melamar Nurasih di kampung. Namun, dia tak bisa menolak permohonan Badri. Ujian anak Badri yang tinggal beberapa hari lagi lebih penting daripada meminang kekasihnya yang bisa dilakukan kapan saja. Badri berjanji mengembalikan utang setelah gaji dibayar oleh bosnya. (more…)

Kaki yang Ketiga
January 8, 2017


Cerpen Hartoko Supriadi (Suara Merdeka, 08 Januari 2017)

kaki-yang-ketiga-ilustrasi-suara-merdeka

Kaki yang Ketiga ilustrasi Suara Merdeka

Tanah lapang di tepi desa, tempat sapi dan kambing merumput itu kini disulap menjadi arena pertandingan yang meriah. Kompetisi sepak bola antar kampung sudah beberapa hari ini berlangsung. Bila sore menjelang, tempat yang biasa sunyi sepi itu berubah menjadi riuh dan gegap gempita. Acara dipandu oleh reporter amatir lewat pengeras suara. Gayanya lincah memilin dan menjalin kata-kata. Seperti reporter dalam tayangan televisi, menarik dan enerjik. Membius penonton yang datang berduyun lalu berhimpun. Laksana gerombolan semut yang merubung gula-gula.

Penonton yang berdesakan di tepi lapangan itu sesungguhnya terbelah menjadi dua. Masing-masing mendukung dan menjagoi kesebelasan kampungnya. Tetapi mereka seperti bersepakat, ingin menyaksikan pertandingan dan permainan yang memikat. Mereka pun mengidolakan bintang lapangan yang sama. Kusuma yang dijuluki Si Geledek, putra dari kepala desa. Tendangannya terkenal keras luar biasa. Bila mendapatkan bola, si kulit bundar itu seperti lengket di kakinya. (more…)

Gorengan di Tepian Perempatan
November 13, 2016


Cerpen Uri Pradanasari (Suara Merdeka, 13 November 2016)

 

Semarang. Klakson kendaraan bersahutan. Setiap pengendara mobil dan motor ingin menjadi pemenang ketika melewati perempatan. Salip kanan, lewat kiri, atau tetap di tengah garis putih putus-putus menjadi pilihan. Senggol sedikit menjadi pertengkaran. Langgar peraturan, dikejar polisi, dihentikan di jalan. Sepi selepas dini hari, jam kerja datang, kemacetan tak terhindarkan.

Pekat, malam. Lampu merah siaga setiap saat, saksi bisu transisi langit gelap dan terang. Cat warna zebra cross pembatas jalan sering kali menjadi persinggahan bagi orang-orang yang mencari uang di jalanan. (more…)

Dari Iklan Koran Kuning
November 6, 2016


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 06 November 2016)

dari-iklan-koran-kuning-ilustrasi-putut-wahyu-widodo-suara-merdeka

Dari Iklan Koran Kuning ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Aji sampai pada rakaat terakhir shalat duhanya ketika Jibi berteriak-teriak dari luar rumah mengabarkan bahwa salah satu kambing milik Aji yang dititiprawatkan kepadanya baru saja beranak. “Kambingnya tidak sakit. Kambingnya beranak manusia,” teriak Jibi. (more…)

Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya
October 30, 2016


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 30 Oktober 2016)

perempuan-yang-tergila-gila-pada-mesin-cucinya-ilustrasi-suara-merdeka

Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya ilustrasi Suara Merdeka

“Akan kutunjukkan sesuatu,” katanya sambil menyeret tanganku menuju ruang dapur.

“Lihatlah!” serunya riang.

Di depan kamar mandi, di sebelah pintu, aku melihat benda terkutuk itu. Sebuah mesin cuci dengan penutup di bagian atas. Persis ibu-ibu gemuk yang mendekam karena kekenyangan.

Aku pun bertanya. “Mesin cuci? Kamu beli mesin cuci? Untuk apa?” (more…)

Bapak dan Ribuan Nisan
October 23, 2016


Cerpen Ryan Rachman (Suara Merdeka, 23 Oktober 2016)

bapak-dan-ribuan-nisan-ilustrasi-farid-suara-merdeka

Bapak dan Ribuan Nisan ilustrasi Farid/Suara Merdeka

Memang, saat ini bapak sudah tidak terlalu ngaya untuk membuat nisan dalam jumlah banyak. Bapak sudah tidak sekuat dulu. Terlebih lagi bapak baru setengah tahun lalu sembuh dari stroke. Lumpuh separuh itu menyerang bapak tepat setahun yang lalu.

Bapak memang punya riwayat darah tinggi dan emosi yang labil. Sering bapak membentak-bentak karyawannya jika melakukan kesalahan. Tak jarang ibu, aku dan adikku juga menjadi sasaran kemarahannya. (more…)