Kematian Kelima
January 7, 2017


Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 07-08 Januari 2017)

kematian-kelima-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Kematian Kelima ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

ANGIN mendesir mengusir daun-daun kering. Kerisik itu menyadarkanku, ternyata tinggal kami berdua di depan makam sahabat yang baru saja dikebumikan. Jantungnya berhenti mendadak dan keluarganya gagal menyelamatkan, meskipun anak bungsunya kesetanan menyetir menembus lalu lintas padat Jakarta semalam, menuju rumah sakit.

“Kita tinggal berdua, Mam.” Suaraku ditangkap dengan kesedihan mendalam. Penyesalan juga menggenang di mata Hargumam. Namanya Harsoyo, namun kami berempat mengubah panggilan kepadanya sesuai dengan kebiasaannya bergumam.

“Hmm…” Ia menggeleng. Air matanya tak sembunyi. Dia pensiun dua bulan lalu, tapi bukan karena itu tangisnya pecah. “Detak. Akhirnya engkau berhenti berdetik. Hmm….” (more…)

Menjelang Badai Pasir
November 12, 2016


Cerpen Jamil Massa (Koran Tempo, 12-13 November 2016)

menjelang-badai-pasir-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Menjelang Badai Pasir ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

MELIHAT tamu asing itu makan dengan lahap, mau tak mau aku harus mengakui kebenaran kata-kata Sang Bapa: Ketenteraman hati dimulai dengan memberi makan orang lapar. Ini sungguh bukan tabiatku. Bukan kebiasaanku membiarkan orang asing masuk ke rumahku yang mungil ini, lalu menyuguhinya persediaan makanan terbaik yang aku punya.

Aku hanya mengikuti anjuran Sang Bapa untuk tidak menolak tamu. Menurut lelaki tua itu, seorang tamu seringkali akan memberikan berkah yang tidak pernah diduga-duga. Berkah yang bisa berbentuk harta benda, atau kabar gembira, atau setidaknya doa. Menjamu tamu, terutama yang sedang melakukan perjalanan jauh, juga adalah perkara yang bisa menyenangkan Tuhan. Sebuah cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah hamba-Nya yang baik. (more…)

Chicago May
November 5, 2016


Cerpen Ernita Dietjeria (Koran Tempo, 05-06 November 2016)

chicago-may-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Chicago May ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

KABUT awal musim dingin mengapung di sepanjang Michigan Avenue di jantung downtown Chicago. Dia merapatkan mantel untuk menahan angin dari arah Danau Michigan yang mulai mengiris ngilu tulang-tulangnya. Langkahnya lebar menapak trotoar kelabu yang basah. Ketukan stiletto yang membungkus kakinya berbaur derap langkah pejalan kaki lainnya. Pagi itu, dia memilih satu panggung untuk beraksi: Magnificent Café.

Dia mendorong pintu kaca kafe yang dingin dan berembun. Hawa hangat berbaur aroma kopi dan roti cinnamon menyambut kedatangannya. Meja-meja kecil dipenuhi pengunjung yang sibuk menikmati kopi sambil menyimak koran pagi. (more…)

Alangkah Gelap Pagi Itu, Jan
October 29, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 29-30 Oktober 2016)

alangkah-gelap-pagi-itu-jan-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Alangkah Gelap Pagi Itu, Jan ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

IA keluar rumah pukul lima pagi dan ditemukan mati dua jam kemudian di bawah batang kelapa. Lalu kau berkata, berhenti meratap, Sare!

 

KAU sama sekali tidak bersedih atas kematian suamiku. Kau hanya marah karena kematian itu mengoyak harga dirimu. Berhari-hari kau mengunjungi rumahku, duduk di pangkal tangga, mengasah kuduk bermata tajam dan berkilat putih. Berkali-kali kau berkata, Semua akan kubalaskan, Jan, semua pasti kubalaskan. (more…)

Reuni
October 22, 2016


Cerpen Mona Sylviana (Koran Tempo, 22-23 Oktober 2016)

reuni-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Reuni ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

YANG tidak boleh dilakukan kalau berniat datang ke acara reuni adalah memikirkan hal-hal yang tidak relevan.

Dari balik terali jendela saya melihat ke jalan depan rumah. Udara menyengat. Tidak ada angin masuk dari daun jendela yang sengaja saya buka. Di langit utara, di kejauhan sana, awan tampak melamuri langit dengan gelap. Mungkin sore nanti akan turun hujan sederas hari-hari belakangan ini.

Saya menunggu. (more…)

Tahun Ini Ratih Juga Ingin Menangis
October 15, 2016


Cerpen Alpha Hambally (Koran Tempo, 15-16 Oktober 2016)

tahun-ini-ratih-juga-ingin-menangis-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Tahun Ini Ratih Juga Ingin Menangis ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

MOBIL jip butut dengan asap knalpot yang pekat itu akhirnya menemukan tempat parkir, meski sedikit jauh dari pintu masuk Taman Kota, tempat warga kota Pekanbaru biasa menghirup udara apabila langit sedang sehat. Tapi seorang lelaki di dalam mobil itu belum juga turun. Dia memicingkan mata ketika cahaya matahari sore menerpa wajahnya.

Si lelaki terlihat gugup di balik kemudi. Berkali-kali dia bercermin di kaca spion, merapikan rambutnya yang tidak kusut sama sekali. Masih berat hatinya untuk turun dari mobil. Dia mengambil sapu tangan dan membersihkan wajahnya yang tidak kotor sama sekali.

Sekali lagi dia melihat ke kaca spion, mengencangkan kerah kemejanya, berusaha menutupi kegugupan pada wajahnya, yang pada dasarnya memang terlihat seperti itu. (more…)