Tambang Nanah
February 18, 2017


Cerpen Hary B. Kori’un (Koran Tempo, 18-19 Februari 2017)

tambang-nanah-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Tambang Nanah ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

“LALU yang terjadi, kalian tahu? Semua rig yang mengangguk-angguk itu, yang mereka sebut pipa angguk, yang selama ini memompa minyak dari dalam perut bumi dan mengalirkannya ke pipa-pipa yang panjangnya beratus kilometer menuju penampungan di tepi laut, tiba-tiba berbau amis. Sangat tajam menusuk hidung. Semua pekerja terkejut. Mereka tak mampu menahan bau amis yang menyengat tajam itu. Bahkan lama-lama berubah menjadi bau busuk. Mereka banyak yang muntah meski telah menutup hidung dan mulut dengan sapu tangan atau dengan segala apa yang ada yang bisa digunakan untuk menutup mukanya…” (more…)

Advertisements

Taktik Kiri Merah
February 11, 2017


Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 11-12 Februari 2017)

taktik-kiri-merah-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Taktik Kiri Merah ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

AKU pembunuh bayaran pemula. Aku baru bisa membunuh dua orang. Kini aku tengah bersiap untuk membunuh seorang jenderal. Agar bisa melepaskan diri dari kejaran militer atau polisi, aku perlu meniru bunglon. Aku perlu bermimikri menjadi siapa pun.

Tak sulit mengubah wajah dan nama di Bangkok. Pichet Rodchareon, temanku, bisa menyulap parasku menjadi raut siapa pun. Bisa saja dokter bedah plastik itu membongkar-pasang wajahku menjadi serupa muka badak, celeng, atau anjing dengan moncong berlendir. Bisa. Namun, atas permintaanku, kini dia sedang berusaha menjadikan aku sebagai Sirikit. Tentu bukan Sirikit si ratu tua yang tambun, melainkan putri langsing berusia 20-an dengan wajah Asia beralis setengah tebal dan rambut hitam sebahu. (more…)

Madubun dan Cerita Kematiannya
February 4, 2017


Cerpen Ahda Imran (Koran Tempo, 04-05 Februari 2017)

madubun-dan-cerita-kematiannya-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Madubun dan Cerita Kematiannya ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

KETIKA kau membaca cerita ini, Madubun sudah mati, barangkali sebulan yang lalu.Cerita ini dibuat berdasarkan catatan seorang bekas pengikutnya yang paling setia. Perempuan lulusan sebuah universitas di Bristol, Inggris, yang kepadanya Madubun banyak mengisahkan perjalanan hidupnya. Dengan detail kekaguman yang luar biasa, dalam tulisan tangan yang rapih, perempuan itu mencatatnya di buku tulis bersampul peta dunia. Dan dua hari setelah peristiwa di Kota Suci, kepada penulis cerita ini perempuan itu menyerahkan buku catatannya lewat seorang kurir. Dalam surat pendek yang tampak ditulis tergesa-gesa, ia meminta agar penulis cerita ini menyimpan buku tersebut. Ia tak mengatakan alasan mengapa buku itu diserahkannya kepada penulis cerita ini. Kami memang sudah lama saling mengenal meski tidak bisa disebut berteman. Menulis cerita berdasarkan catatan pribadi seseorang tentu bukanlah ide yang baik. Tapi itu baik juga dilakukan supaya kau mengetahui siapa sebenarnya Madubun dan cerita di balik kematiannya. Lebih penting lagi, seperti tulis perempuan itu dalam suratnya, agar kita tahu betapa menyusahkannya menjadi manusia. (more…)

B-2
January 21, 2017


Cerpen Arswendo Atmowiloto (Koran Tempo, 21-22 Januari 2017)

b-2-ilustrasi-munzir-fadly

B-2 ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Bangunan, atau sisa sebuah  bangunan, itu terletak di tempat yang strategis untuk ditempati. Bagian depannya bisa masuk ke dalam jalan raya, bagian samping kanan masuk dalam bagian dari kompleks perumahan. Bangunan, atau sisa bangunan, barang kali dulunya sebuah rumah. Punya nomor lengkap, sebagai B-2. Namun agak susah dijelaskan apakah tadinya bagian dari suatu kompleks perumahan. Karena di sebelahnya, tak ada nomor lain. Juga tak ada blok A atau C, atau yang lainnya.

Kehadirannya seakan sendiri, dan memiliki sebutan B-2. Alamat persisnya juga susah, karena dianggap tak mengikuti nama jalan di depannya. Menurut cerita di situ pernah tumbuh pohon rambutan yang sangat lezat dan menggiurkan. Kemudian muncul cerita bahwa pohon rambutan itu berhantu. Banyak jenis hantu yang menempati. Dan itu dibenarkan oleh mereka yang tinggal di dekatnya, mereka yang menghuni kompleks. (more…)

Tegak Dunia
January 14, 2017


Cerpen Iksaka Banu (Koran Tempo, 14-15 Januari 2017)

tegak-dunia-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Tegak Dunia ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Setelah mendaki beberapa anak tangga curam, tibalah ia di bangsal atas kubu itu. Rambut cokelatnya langsung berkibar diterpa angin laut yang menerobos bebas dari deretan jendela bangsal. Ia menghampiri pintu utama, dan berdiri terpaku di sana. Bau laut yang belum begitu akrab bagi hidungnya kembali menyerbu. Tetapi aroma amis bercampur pesing itu tak sanggup mengalihkan rasa takjubnya melihat pemandangan yang terhampar di depan mata: Sebuah lapangan luas berbentuk segitiga, dikelilingi tembok setinggi kira-kira dua meter. Di balik tembok itu, ia bisa memilih obyek pemandangan. Sebelah kiri, sebatang sungai lurus lebar. Sementara jauh di utara, lautan luas dengan deretan kapal layar yang tampak seperti miniatur hiasan dalam botol. (more…)

Kematian Kelima
January 7, 2017


Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 07-08 Januari 2017)

kematian-kelima-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Kematian Kelima ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

ANGIN mendesir mengusir daun-daun kering. Kerisik itu menyadarkanku, ternyata tinggal kami berdua di depan makam sahabat yang baru saja dikebumikan. Jantungnya berhenti mendadak dan keluarganya gagal menyelamatkan, meskipun anak bungsunya kesetanan menyetir menembus lalu lintas padat Jakarta semalam, menuju rumah sakit.

“Kita tinggal berdua, Mam.” Suaraku ditangkap dengan kesedihan mendalam. Penyesalan juga menggenang di mata Hargumam. Namanya Harsoyo, namun kami berempat mengubah panggilan kepadanya sesuai dengan kebiasaannya bergumam.

“Hmm…” Ia menggeleng. Air matanya tak sembunyi. Dia pensiun dua bulan lalu, tapi bukan karena itu tangisnya pecah. “Detak. Akhirnya engkau berhenti berdetik. Hmm….” (more…)