Rumah Sebelum Tangga
March 25, 2017


Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 25-26 Maret 2017)

Dunia Sebelum Tangga ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.png

Dunia Sebelum Tangga ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Sudah satu jam ia berada di kamar ini, membelakangi jendela yang terkuak dan tertahan oleh kait besi. Televisi 14 inci model lama yang tak diproduksi lagi bertengger di atas rak. Di sampingnya setumpuk buku-buku bersampul keras, beberapa di antaranya memperlihatkan juntaian pita pembatas berwarna merah yang keluar dari lipatan halaman. (more…)

Advertisements

Perempuan Tinggi Berbuku Besar
March 18, 2017


Cerpen Yusrizal KW (Koran Tempo, 18-19 Maret 2017)

Perempuan Tinggi Berbuku Besar ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.png

Perempuan Tinggi Berbuku Besar ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Langkah perempuan itu panjang-panjang. Kalau berjalan wajahnya sedikit tertekuk ke depan mengiringi irama tubuhnya yang kurus agak bungkuk. Rambutnya lujur, beruban. Berkaca mata tebal, selalu mengempit buku besar ukuran folio berwarna batik-batik hijau. Kalau bicara, sesekali membenarkan letak kaca matanya yang sering melorot dari puncak hidungnya. (more…)

Menunggu
March 11, 2017


Cerpen Mona Sylviana (Koran Tempo, 11-12 Maret 2017)

Menunggu ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.jpg

Menunggu ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Jendela terbuka. Angin kencang menerbangkan tirai jendela. Ranting pohonan saling tabrak. Daun-daun, kertas, plastik pembungkus, terseret-seret di permukaan jalan depan rumah. Awan putih bergerombol membuat langit serupa ladang cendawan. (more…)

Pohon-pohon Tetangga, Ayam-ayam Tetangga
March 4, 2017


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 04-05 Maret 2017)

Pohon-pohon Tetangga, Ayam-ayam Tetangga ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo

Pohon-pohon Tetangga, Ayam-ayam Tetangga ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

BERDIRI di pinggiran Kampung Sabdodadi menatap ke lembah utara, tak ada yang terlihat kecuali kerimbunan pohon menyerupai hutan lebat. Lembah itu terhubung seutas jalan tanah yang becek saat penghujan dan keras berdengking di hari panas. Malam hari lembah akan gulita sebab tiang listrik tak sampai ke situ, bahkan sore hari saja suasananya sudah suwung, sepi. Jarang orang lewat jika tidak terpaksa benar. Nah, di lembah itu ada sebuah rumah, lokasinya terpencil dekat sungai kecil yang bergemuruh saat hujan dan senyap saat kemarau. Itulah rumah Kakek-Nenek Karimata, sepasang orang tua yang kesehariannya hidup dengan pohon-pohon dan ayam tetangga. (more…)

Sepupu
February 25, 2017


Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 25-26 Februari 2017)

sepupu-ilustrtasi-munzir-fadly-koran-tempo

Sepupu ilustrtasi Munzir Fadly/Koran tempo

Pada usiaku yang ke-14 tahun, sepupu yang paling kusayangi memutuskan pindah agama dan menjadi seorang pembaca kitab yang taat. Sebelumnya, di mataku, dia seorang pelari yang hebat dan aku selalu senang melihatnya mengenakan kaus kaki panjang garis-garis hitam-putih dalam berbagai perlombaan yang diikutinya dan menunggu satu hari ia melempar kaus kaki itu ke dalam keranjang khusus barang-barang yang tak berguna lagi, dan aku segera memungutnya untuk kusimpan diam-diam dalam lemariku. Ketika sepupuku memutuskan pindah agama, aku sama sekali tidak merasa kehilangan dia, tapi di rumah bibiku seolah telah terjadi sebuah kematian yang mengerikan dan mereka berkabung hingga bertahun-tahun lamanya. Mereka memutuskan tidak berhubungan lagi dengan sepupuku dan semua orang dilarang bertemu dengannya dan aku merasa beruntung sekali telah menyimpan kaus kaki bekas itu. Paling tidak, dengan memiliki kaus kaki itu, aku merasa sepupuku tidak pergi ke mana-mana. Dia masih duduk di depanku, bercerita dengan mulutnya yang cenderung kecil dan sepasang matanya yang pemarah tentang seekor lutung yang tampak merana dalam kandang di kebun binatang, dan sepupuku terus bertanya-tanya kenapa manusia sering tega kepada makhluk lain. Itu tindakan brutal, kata sepupuku. Aku tidak punya pandangan sejauh itu. Fakta bahwa bibiku sangat menyukai dan mendukung adanya kebun binatang dan sering mengajakku ke sana di akhir pekan atau musim liburan membuatku harus hati-hati dalam mengeluarkan pendapat. (more…)

Tambang Nanah
February 18, 2017


Cerpen Hary B. Kori’un (Koran Tempo, 18-19 Februari 2017)

tambang-nanah-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Tambang Nanah ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

“LALU yang terjadi, kalian tahu? Semua rig yang mengangguk-angguk itu, yang mereka sebut pipa angguk, yang selama ini memompa minyak dari dalam perut bumi dan mengalirkannya ke pipa-pipa yang panjangnya beratus kilometer menuju penampungan di tepi laut, tiba-tiba berbau amis. Sangat tajam menusuk hidung. Semua pekerja terkejut. Mereka tak mampu menahan bau amis yang menyengat tajam itu. Bahkan lama-lama berubah menjadi bau busuk. Mereka banyak yang muntah meski telah menutup hidung dan mulut dengan sapu tangan atau dengan segala apa yang ada yang bisa digunakan untuk menutup mukanya…” (more…)

Taktik Kiri Merah
February 11, 2017


Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 11-12 Februari 2017)

taktik-kiri-merah-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Taktik Kiri Merah ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

AKU pembunuh bayaran pemula. Aku baru bisa membunuh dua orang. Kini aku tengah bersiap untuk membunuh seorang jenderal. Agar bisa melepaskan diri dari kejaran militer atau polisi, aku perlu meniru bunglon. Aku perlu bermimikri menjadi siapa pun.

Tak sulit mengubah wajah dan nama di Bangkok. Pichet Rodchareon, temanku, bisa menyulap parasku menjadi raut siapa pun. Bisa saja dokter bedah plastik itu membongkar-pasang wajahku menjadi serupa muka badak, celeng, atau anjing dengan moncong berlendir. Bisa. Namun, atas permintaanku, kini dia sedang berusaha menjadikan aku sebagai Sirikit. Tentu bukan Sirikit si ratu tua yang tambun, melainkan putri langsing berusia 20-an dengan wajah Asia beralis setengah tebal dan rambut hitam sebahu. (more…)