Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di Tepi Persimpangan
February 19, 2017


Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 19 Februari 2017)

laki-laki-yang-menyeberang-dan-perempuan-di-tepi-persimpangan-ilustrasi-sigit-santoso-kompas

Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di Tepi Persimpangan ilustrasi Sigit Santoso/Kompas

Bagian I: Laki-laki yang Menyeberang

Setiap kali sebuah peran dimasukinya, laki-laki itu tahu, ada jiwa baru yang tumbuh. Jiwa-jiwa baru yang memesona. Jiwa-jiwa baru yang menyeretnya dalam pusaran. Semakin ia mengenal jiwa-jiwa itu, semakin ia merasa kerdil. Kecil. Sebuah arus kecil dalam luasnya samudra. Semakin banyak yang belum dikuasainya. Ia seperti perenang pemula di tengah-tengah perenang olimpiade. Diam-diam, ia merasa iri. Pada jiwa-jiwa besar yang telah dimasukinya. Ia sengaja membiarkan dirinya terserap, diombang-ambingkan pusaran, timbul tenggelam menuju dasar yang amat jauh dan dalam. Ia tak mau menjadi sepotong wajah yang menawan. (more…)

Advertisements

Kehidupan di Dasar Telaga
February 12, 2017


Cerpen S Prasetyo Utomo (Kompas, 12 Februari 2017)

kehidupan-di-dasar-telaga-ilustrasi-polenk-rediasa-kompas

Kehidupan di Dasar Telaga ilustrasi Polenk Rediasa/Kompas

APA aku mesti jadi Sobrah?” kelakar Arum, perempuan setengah baya itu, sebelum ia menaiki anak tangga untuk mencapai bibir perahu bermesin. Arum memandangi Suman, lelaki setengah baya, teman seperjalanannya dari kota. Lelaki itu masih berdiri di tepi telaga, terdiam. Cekatan lelaki setengah baya itu menaiki anak tangga, memijak papan dasar perahu. Duduk di bangku kayu, berdampingan dengan Arum, Suman merasakan guncangan agak menyentak saat tukang perahu—yang sudah memutih rambutnya, tetapi masih kekar—menghidupkan mesin. Lambat, perahu bercat biru tua itu mengarungi telaga. Tak ada perahu lain. Lelaki setengah baya itu berseloroh dalam hati: apa salahnya melakukan sobrah? (more…)

Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya
February 5, 2017


Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 05 Februari 2017)

paman-klungsu-dan-kuasa-peluitnya-ilustrasi-sandi-jaya-saputra-kompas

Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya ilustrasi Sandi Jaya Saputra/Kompas

Di sekitar jalan simpang tiga dekat pasar, nama Paman Klungsu sudah lama mapan. Dia adalah sosok yang punya kuasa di tempat itu. Dengan andalan lengking peluitnya, Paman Klungsu bisa mengatasi kemacetan lalu lintas, terutama di pagi hari. Pada saat itu, para pedagang laki-laki dan perempuan seperti beradu cepat mencapai pasar. Mereka naik sepeda atau motor dengan dua keranjang di bagian belakang. Puluhan anak SMP dan SMA dengan motor yang knalpotnya dibobok juga berebut keluar dari jalan kampung ke jalan raya. Tanpa helm, tanpa SIM. Tetapi mereka kelihatan tak peduli dan amat percaya diri. Guru-guru SD, beberapa di antaranya sudah bermobil ikut menambah kepadatan lalu lintas di simpang tiga itu. Maka, orang bilang, untung ada Paman Klungsu yang dengan lengking peluitnya bisa memuat semua menjadi lancar. (more…)

Rumah Batu Kakek Songkok
January 29, 2017


Cerpen Lina PW (Kompas, 29 Januari 2017)

rumah-batu-kakek-songkok-ilustrasi-kun-adnyana-kompas

Rumah Batu Kakek Songkok ilustrasi Kun Adnyana/Kompas

“Jadi juga pesan pasir?” tanya Sabang pada ayahnya, dengan napas tersengal.

Sabang tinggal tak jauh dari rumah Kakek Songkok, panggilan sang ayah oleh warga kampung. Ia memperhatikan sebuah pikap menurunkan pasir, lalu tergopoh-gopoh menghampiri ayahnya.

“Iye, kita bikin baru rumah kita, jadi rumah batu,” jawab Kakek dengan senyum mengembang sembari membenahi letak songkok. Karena songkok itulah ia dipanggil Kakek Songkok oleh warga kampung. Peci tak pernah lepas dari kepala Kakek. Bahkan, seluruh anaknya kerap memanggil ayah mereka dengan Kakek Songkok. (more…)

Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba
January 22, 2017


Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 22 Januari 2017)

sekoci-dan-sepasang-lumba-lumba-ilustrasi-hadi-soesanto-kompas

Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba ilustrasi Hadi Soesanto/Kompas

ARIMBI tak mengerti mengapa tiba-tiba ia sudah berada dalam sekoci itu. Semalam demamnya menjadi-jadi, badannya panas sekali. Saat itu—yang Arimbi ingat, Sugi datang dan membopong tubuhnya, lalu membaringkannya di suatu tempat yang dingin dan agak keras. Arimbi tak yakin di mana tempat itu. Apakah di puskesmas, atau di kamar Sugi, atau barangkali masih di kamar Arimbi sendiri. Tapi kini Arimbi tahu, di mana semalam Sugi membaringkan tubuhnya. Di dalam sebuah sekoci. Ya. Di dalam sebuah sekoci.

Kini, sekoci itu bergoyang-goyang ringan di tengah laut lepas. Dengan Arimbi yang duduk telimpuh sambil memandang laut yang bagai tanpa ujung. Laut lepas dengan warna abu-abu. Seorang diri. Tanpa Sugi. Dan tanpa siapa pun. (more…)

Veronika Punya 4 Ayah 4 Ibu
January 15, 2017


Cerpen Gatot Prakosa (Kompas, 15 Januari 2017)

veronika-punya-4-ayah-4-ibu-ilustrasi-rachmawati-widyasari-kompas

Veronika Punya 4 Ayah 4 Ibu ilustrasi Rachmawati Widyasari/Kompas

Sepasang burung pipit hinggap di bahunya. Dia terkejut, dan burung-burung kecil itu terbang. Di pohon talok di pekarangan bangsal perawatan, belakang kami, keduanya bercicit. Seekor pipit, entah salah satu dari dua yang tadi atau pipit lainnya, hinggap di atas kepalaku. Lalu seekor lagi menyusul ke bahu kananku. Aku merasa seperti nabi Sulaiman.

“Apa aku masih berbau keju? Burung pipit barangkali suka keju.”

“Gaklah, Yah. Kalau bau, semua orang pasti lari ketakutan.” (more…)