Orang yang Tak Bisa Berbohong
March 26, 2017


Cerpen Mardi Luhung (Kompas, 26 Maret 2017)

Orang yang Tak Bisa Berbohong ilustrasi Nyoman Sujana Kenyem - Kompas

Orang yang Tak Bisa Berbohong ilustrasi Nyoman Sujana Kenyem/Kompas

Siapa pun tahu, Dia tak bisa berbohong. Apa yang diomongkan selalu benar. Dan selalu tepat pada sasaran. Mangkanya, di kampung, jika ada persoalan penting dan membutuhkan orang yang tak bisa berbohong, maka orang-orang selalu menunjuk Dia. Dan menyatakan: “Dalam sejarah kampung, kita beruntung mempunyai warga seperti Dia. Sehingga, kebenaran selalu dapat terjaga. Kebenaran, yang bagi orang lain sulit untuk diomongkan, tapi bagi Dia selalu saja dapat diomongkan.” Tapi, kini, orang-orang di kampung mencuekkan dia. Dia ada atau tak ada, tak ada yang peduli. Jadi, semacam pepatah: “Datang tanpa muka, pergi tanpa punggung,” itulah Dia. Dia yang mungkin lebih banyak hidup dan bergerak sendirian.  Dia yang ketika berjumpa dengan orang-orang, lebih banyak dijauhi. Dan lebih banyak seperti angin. Terasa tapi tak terjamah. (more…)

Advertisements

Gegasi dalam Cerita kakek
March 19, 2017


Cerpen Herman RN (Kompas, 19 Maret 2017)

Gegasi dalam Cerita Kakek ilustrasi Najib Amrullah - Kompas

Gegasi dalam Cerita Kakek ilustrasi Najib Amrullah/Kompas

ANAK kecil harus tidur cepat. Kalau tidak, nanti dimakan gegasi. Begitu kata kakekku saban malam.

“JADI kita tidak boleh keluar malam hari ya, Kek? Kalau aku mau lihat bola di langit, Kek? Bolanya terang sekali. Bola itu cuma ada malam hari, Kek. Boleh, Kek?” (more…)

Saat Maut Batal Menjemput
March 12, 2017


Cerpen Radhar Panca Dahana (Kompas, 12 Maret 2017)

Saat Maut Batal Menjemput ilustrasi Radhar Panca Dahana

Saat Maut Batal Menjemput ilustrasi Radhar Panca Dahana/Kompas

AKU tahu, di tiap “sakit itu”, “tak siapa pun di situ”. Kesendirian, kadangkala juga sebuah kesunyian, memang adalah watak sakit yang sebenarnya. Tapi tidak kali ini. “Sakit ini”, rasa sakit yang ada sekarang ini, bahkan “aku pun tidak di sini”. Entah kenapa. Aku belum paham, apakah ini hikmah atau jati diri sakit yang sesungguhnya. Yang melampaui kesadaran biologis bahkan kepekaan psikologisku. Ah… aku…aku sesungguhnya tidak cemas pada “sakit ini atau itu”, aku juga tidak peduli ini watak atau jati diri sakit yang sesungguhnya atau bukan. Apa yang kucemaskan hanyalah kesadaran dan kepekaan itu. Adakah aku masih memilikinya? (more…)

Bukit Cahaya
March 5, 2017


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 05 Maret 2017)

Bukit Cahaya ilustrasi Ashady - Kompas

Bukit Cahaya ilustrasi Ashady/Kompas

PADA usia lima tahun, sebagaimana lelaki-lelaki kecil penggemar perkelahian yang lain, kau membayangkan malaikat adalah semut yang mampu menghajar seekor gajah. Tak lama kemudian kau juga membayangkan ia sebagai ulat yang bisa melahap gunung dalam sekali telan. Kau tidak pernah menyangka bisa saja bocah lain menggambarkan malaikat sebagai siput yang memangsa Adam dan Hawa yang sedang tidur lelap. Saat itu kau tidak menangis ketika seorang guru berbisik, “Malaikat itu mirip kuda terbang yang melesat ke langit dan tak pernah kembali.” (more…)

Cemani yang Tak Mau Pergi
February 26, 2017


Cerpen Angelina Enny (Kompas, 26 Februari 2017)

cemani-yang-tak-mau-pergi-ilustrasi-i-made-arya-dwita-dedok-kompas

Cemani yang Tak Mau Pergi ilustrasi I Made Arya Dwita Dedok/Kompas

Riza bingung setengah mati. Setengah hatinya ingin melepas si Itam pergi, setengah hatinya lagi berkata tidak. Galaunya melebihi saat ia menimbang akan meminang Rani atau malah meninggalkannya. Seakan mengetahui persoalan hatinya yang tak kunjung reda, si Itam berkokok kencang. Kok! Padahal, hari belumlah pagi. Seiring dengan kokokannya yang makin lama makin keras, aliran darah Riza semakin deras. Merah melumuri hatinya. Marah menyelimuti tubuhnya. Ia marah pada segala. Pada orangtuanya, pada dirinya sendiri, pada keadaan. Mengapa ayahnya mati meninggalkan utang? Mengapa pula ibunya sakit di kala ekonomi semakin sulit? Mengapa pula ia harus lahir sebagai anak pertama yang harus menanggung semua? Dua adiknya masih butuh sekolah. Ibunya perlu obat. Dan, ia butuh otak untuk memutar semuanya. (more…)

Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di Tepi Persimpangan
February 19, 2017


Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 19 Februari 2017)

laki-laki-yang-menyeberang-dan-perempuan-di-tepi-persimpangan-ilustrasi-sigit-santoso-kompas

Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di Tepi Persimpangan ilustrasi Sigit Santoso/Kompas

Bagian I: Laki-laki yang Menyeberang

Setiap kali sebuah peran dimasukinya, laki-laki itu tahu, ada jiwa baru yang tumbuh. Jiwa-jiwa baru yang memesona. Jiwa-jiwa baru yang menyeretnya dalam pusaran. Semakin ia mengenal jiwa-jiwa itu, semakin ia merasa kerdil. Kecil. Sebuah arus kecil dalam luasnya samudra. Semakin banyak yang belum dikuasainya. Ia seperti perenang pemula di tengah-tengah perenang olimpiade. Diam-diam, ia merasa iri. Pada jiwa-jiwa besar yang telah dimasukinya. Ia sengaja membiarkan dirinya terserap, diombang-ambingkan pusaran, timbul tenggelam menuju dasar yang amat jauh dan dalam. Ia tak mau menjadi sepotong wajah yang menawan. (more…)

Kehidupan di Dasar Telaga
February 12, 2017


Cerpen S Prasetyo Utomo (Kompas, 12 Februari 2017)

kehidupan-di-dasar-telaga-ilustrasi-polenk-rediasa-kompas

Kehidupan di Dasar Telaga ilustrasi Polenk Rediasa/Kompas

APA aku mesti jadi Sobrah?” kelakar Arum, perempuan setengah baya itu, sebelum ia menaiki anak tangga untuk mencapai bibir perahu bermesin. Arum memandangi Suman, lelaki setengah baya, teman seperjalanannya dari kota. Lelaki itu masih berdiri di tepi telaga, terdiam. Cekatan lelaki setengah baya itu menaiki anak tangga, memijak papan dasar perahu. Duduk di bangku kayu, berdampingan dengan Arum, Suman merasakan guncangan agak menyentak saat tukang perahu—yang sudah memutih rambutnya, tetapi masih kekar—menghidupkan mesin. Lambat, perahu bercat biru tua itu mengarungi telaga. Tak ada perahu lain. Lelaki setengah baya itu berseloroh dalam hati: apa salahnya melakukan sobrah? (more…)