Ha-hi-hu-he-hooo
November 13, 2016


Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 13 November 2016)

ha-hi-hu-he-hooo-ilustrasi-adi-wirawan-kompas

Ha-hi-hu-he-hooo ilustrasi Adi Wirawan/Kompas

“… dan adalah aku berasal dari perut bumi, yang kemudian dimuntahkan lewat kawah-kawah gunung, menjelma debu, pasir, dan batu-batu. Itulah sebabnya, aku menyimpan seribu satu dongeng yang bisa kau jadikan permata hidupmu…,” bisikan itulah yang dengan jelas selalu menggema di lorong telinganya, melekat erat pada sanubarinya yang bening.

Dia berjalan, seperti meneliti setiap jengkal tanah yang akan dilaluinya. Di matanya, seolah setiap butir kerikil, atau pasir, bahkan debu sekalipun adalah penting. Terkadang, dia terdiam di sebuah titik, seperti mengamati, mengajak bicara pada sesuatu yang dipandanginya, kemudian tersenyum, bahkan tertawa riang. Lalu, tangannya mulai mengorek-orek tanah, mengeluarkan sebungkah pecahan batu, membersihkannya dari sisa tanah dan menempelkannya ke telinga kanannya. (more…)

Nelayan yang Malas Melepas Jala
November 6, 2016


Cerpen Damhuri Muhammad (Kompas, 06 November 2016)

nelayan-yang-malas-melepas-jala-ilustrasi-amelia-budiman-kompas

Nelayan yang Malas Melepas Jala ilustrasi Amelia Budiman/Kompas

Bagaimana sebaiknya kau mengumpamakan persekutuan dua manusia yang sama-sama meringkuk di lubuk asmara, tapi tak mungkin hidup bersama? Seorang penasihat hubungan percintaan spesialis usia setengah tua (es-te-we) pernah menyarankan; andaikan kau dan kekasih gelapmu sedang dilanda kegemaran mencari kesenyapan di sebuah pulau asing, atau sebut saja pulau tak bernama. Tapi kalian hanya boleh berada di sana sepanjang petang! Sebelum malam sempurna kelam, kalian sudah harus berlayar kembali ke pulau masing-masing. Kau pulang ke pangkuan suamimu. Kekasih gelapmu kembali menunaikan tugas mengurus keluarganya.  (more…)

Terumbu Tulang Istri
October 30, 2016


Cerpen Made Adnyana Ole (Kompas, 30 Oktober 2016)

terumbu-tulang-istri-ilustrasi-iyan-sagito-kompas

Terumbu Tulang Istri ilustrasi Iyan Sagito/Kompas

Apakah tubuh menggiring perahu atau perahu menyeret tubuh, dari tepi ke tengah laut? Kayan tak pernah bertanya. Satu hal ia tahu, tubuh dan perahu seakan memiliki rasa pedih dan ngilu yang sama—pedih dan ngilu yang meluncurkan mereka dalam satu garis lurus di atas landai ombak, di laut utara, saban pagi, saat matahari memanjat langit di terang timur.

Ini ritual sederhana, seperti hukuman pada harapan sia-sia. Jelang cahaya, Kayan keluar pondok, menyapa dingin, menghirup asin, menuju pantai. Ia lepas perahu dari ikatan. Meloncat naik, dan bersatulah tubuh bersama perahu menuju lapang lautan. Di tengah laut, ketika garis cahaya menyelip di bawah gelombang, tubuh Kayan terlontar dari perahu. (more…)

Telepon dari Istanbul
October 23, 2016


Cerpen Vika Wisnu (Kompas, 23 Oktober 2016)

telepon-dari-istanbul-ilustrasi-sunaryo-kompas

Telepon dari Istanbul ilustrasi Sunaryo/Kompas

Di Hagia Sophia seseorang lelaki asing menepuk bahu perempuan yang berdiri tak jauh di depannya dan bertanya, “Anda dari Indonesia?”. Si perempuan menoleh hingga rambutnya seolah melayang, mengiyakan dengan girang, ribuan kilo dari kampung halamannya di Pasuruan, ada yang mengenalinya, “Benar!” senyumnya lebar. Tapi takdir telah memilihkan akhir dari percakapan itu. Keduanya sama-sama terperanjat ketika mata mereka kemudian bersitatap. Beberapa detik tak bertuan sampai suara perempuan itu mengambil alih, “Apa kabar?”, nadanya sehalus arumanis hangat. Si lelaki tergeragap, lalu menukas lekas-lekas, “Oh, özür dilerim—saya minta maaf. Maaf. Salah orang.” Ia bahkan menolak berhenti sebentar atau sekedar menengok ulang, begitu terburu-buru. Perjumpaan memang bisa terjadi sesingkat itu. (more…)

Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau Pergi
October 16, 2016


Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 16 Oktober 2016)

sebelum-dan-setelah-perang-sebelum-dan-setelah-kau-pergi-ilustrasi-mangu-putra-kompas

Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau Pergi ilustrasi Mangu Putra/Kompas

 

PERANG yang baru saja selesai telah mengubah banyak hal kecuali cinta kita, Arung. Saya harus pergi. Makassar setelah Ventje Sumual menyerah dan Permesta dibubarkan, bukan lagi Makassar yang membuat leluhur saya datang sebagai pedagang kulit penyu, ratusan tahun yang lalu. Nyawa saya terancam, kau tahu itu. Dan cinta? Cinta tidak pernah cukup dijadikan alasan untuk bertahan. Karena itu saya memilih pergi. Ketika surat ini kau baca, barangkali saya sudah tiba di Tiongkok. Tidak usah khawatir, ada Hanafi yang membantu kepulangan saya. Surat ini saya tulis ketika dia tiba-tiba menghubungi untuk menjemput, demi keamanan, katanya. Aku meremas tanpa menyelesaikan surat itu, setelah menghela napas panjang, setelah gagal menahan air mata yang tiba-tiba jatuh. Dan, tentu saja, setelah menyesali semuanya. (more…)

Kisah Ganjil Seorang Penggali Kubur
October 9, 2016


Cerpen Sandi Firly (Kompas, 09 Oktober 2016)

kisah-ganjil-seorang-penggali-kubur-ilustrasi-roni-supriatna-kompas

Kisah Ganjil Seorang Penggali Kubur ilustrasi Roni Supriatna/Kompas

Karena kisah makam keramat seorang penggali kubur yang kudapatkan sore itu begitu memikat, malam harinya aku langsung menuliskannya menjadi sebuah cerpen dengan sangat lancar. Namun, ketika akan memasuki paragraf-paragraf akhir, aku baru sadar kalau cerpen ini atau tepatnya kisah itu—yang segera kamu baca, memiliki cacat logika.

Aku tidak akan memberitahumu di mana letak cacatnya itu, sampai nanti—setelah kamu menyelesaikan membaca cerpennya, aku akan ceritakan pertemuanku kembali dengan Pak Darman, orang tua pengurus makam yang mengisahkan kepadaku tentang Syam, penggali kubur yang makamnya dikeramatkan di kampung kecil yang namanya sebaiknya tidak perlu aku sebutkan.

Begini cerpen tentang kisah itu. (more…)