Relikui Ibu
February 19, 2017


Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 19 Februari 2017)

relikui-ibu-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Relikui Ibu ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

CAHAYA berwarna kuning kunyit masih melimpahi kamar ibu, ketika kami mendapati si bungsu duduk bersimpuh meluberkan tangis. Tangan si bungsu menggenggam gulungan rambut tipis yang sebagian besar telah memutih. Rambut ibu. Sementara di hadapannya dompet kain kesayangan ibu tergeletak di lantai menumpahkan isinya: sejumlah uang receh dan remah-remah potongan kuku. Kuku ibu. (more…)

Advertisements

Sebelas Orang Gila di Kotaku
February 12, 2017


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 12 Februari 2017)

sebelas-orang-gila-di-kotaku-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Sebelas Orang Gila di Kotaku ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

SEMALAM akubermimpi kedatangan seorang lelaki dengan rambut habis dicukur. Sisi rambutnya yang rapi hingga cambang di pipi tampak berkilat diminyaki, tak berbau, barangkali ia memakai minyak kemiri atau zaitun. Si lelaki tersenyum. Meski merasa cukup akrab dengan senyuman itu, sesungguhnya aku tak mengingat apa pun. Sampai ia menepuk pundakku dan berkata, “Terima kasih, Sampeyan telah mencukur dan memberi kami pakaian. Teruslah mencukur dan memberi pakaian, mudah-mudahan keburukan-keburukan Sampeyan juga terpangkas dan apa yang Sampeyan kenakan tak mudah tersingkap.” (more…)

Kekayi
February 5, 2017


Cerpen Oka Rusmini (Jawa Pos, 05 Februari 2017)

kekayi-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Kekayi ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

PEREMPUAN tua itu masih menyisakan gurat-gurat kecantikan yang tidak dimiliki perempuan-perempuan lain di negeri ini. Matanya tajam, mata seorang penari yang begitu menggoda. Jika menatapnya, lelaki pasti akan bertekuk lutut dan menghamba kepadanya. Kerlingnya bisa mematahkan hati. Lelaki paling setia pun akan tunduk, takluk, dan melupakan istri yang dicintainya.

Mata itu mampu mengatur hidupnya, sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dialah perempuan yang sadar bahwa tubuh perempuan adalah alat, tepatnya senjata mematikan! Jika perempuan mampu memainkan dengan baik dan penuh percaya diri, tubuh itu bernama: kekuasaan! (more…)

Perihal Orang-Orang China di Belijong
January 29, 2017


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 29 Januari 2017)

perihal-orang-orang-china-di-belijong-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Perihal Orang-Orang China di Belijong ilustrasi Bagus Hariadi – Jawa Pos

“ALANGKAH besarnya kota ini!” seloroh ayahku suatu hari, kemudian terkekeh. Aku –yang waktu itu baru duduk di bangku kelas dua entah tiga SD– juga ikut tertawa geli begitu memahami apa maksud kelakarnya. Seketika itu pula, terbayanglah olehku Taiping Jong dan Taisi Jong [1] dalam cerita-cerita Akong. Ah, samudra yang terhampar demikian luas!

Kecuali Kota Kecamatan Kelapa yang nyaris seluruh warganya orang Melayu, setiap kota di pulau kecil kami memang memiliki sebuah nama China-Hakka. Pinkong untuk Pangkalpinang, Liatkong untuk Sungailiat, Komuk untuk Koba, Sabang untuk Toboali, Buntu untuk Muntok, Nampong untuk Jebus, dan Belijong untuk Belinyu. [2] Ya, begitu pun dengan nama kampung dan jalan-jalan. Ada yang memperoleh nama Hakka-nya dulu, ada pula yang terlebih dulu diberi nama Melayu. (more…)

Pertunjukan Hari Ketujuh
January 22, 2017


Cerpen S. Prasetyo Utomo (Jawa Pos, 22 Januari 2017)

pertunjukan-hari-ketujuh-ilustrasi-bagus-hariyadi-jawa-pos

Pertunjukan Hari Ketujuh ilustrasi Bagus Hariyadi/Jawa Pos

INI hari ketujuh Kodrat dan orang-orang lembah Gunung Bokong menggelar pertunjukan di luar pagar istana negara, menanti presiden berkenan menghampiri mereka. Tetapi mungkinkah presiden berkenan keluar dari istana negara, menemui mereka, dan bertanya, “Mengapa Saudara menggelar pertunjukan di tempat ini?”

Kodrat ingin mengatakan semuanya kepada presiden bahwa pabrik semen yang didirikan di lembah Gunung Bokong merusak alam di daerah kapur itu, mematikan mata air, dan menghancurkan bumi tempat mereka bertani. Ia, mewakili kehendak warga, menyampaikan pesan agar pabrik semen itu segera ditutup. (more…)

Sepatu Jinjit Aryanti
January 15, 2017


Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 15 Januari 2017)

sepatu-jinjit-aryanti-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Sepatu Jinjit Aryanti ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

PERMUKAAN tanah di bawah sana tampak botak-botak seperti rambut lelaki tua yang rontok. Dari jendela kamar di lantai 25, aku melihat gedung-gedung telah merebahkan bayangan. Matahari hampir paripurna dalam putarannya.

Pada gedung-gedung menjulang yang belum usai pembangunannya itu, tangga-tangga dengan katrol raksasa tak lagi bergerak, lehernya mendongak ke langit seperti kerangka pemangsa purba yang beku. Sementara bangunan-bangunan yang lebih pendek tampak seperti kotak-kotak berserakan dengan warna kelabu dan atap biru. Bangunan masih belum padat. Mobil-mobil terparkir di sekitarnya. Tak ada tanda-tanda denyut kehidupan di sana. Suasana sepi terasa dari pucuk-pucuk bangunan hingga ke bawah. (more…)