Tambang Nanah

February 18, 2017 - Leave a Response

Cerpen Hary B. Kori’un (Koran Tempo, 18-19 Februari 2017)

tambang-nanah-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Tambang Nanah ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

“LALU yang terjadi, kalian tahu? Semua rig yang mengangguk-angguk itu, yang mereka sebut pipa angguk, yang selama ini memompa minyak dari dalam perut bumi dan mengalirkannya ke pipa-pipa yang panjangnya beratus kilometer menuju penampungan di tepi laut, tiba-tiba berbau amis. Sangat tajam menusuk hidung. Semua pekerja terkejut. Mereka tak mampu menahan bau amis yang menyengat tajam itu. Bahkan lama-lama berubah menjadi bau busuk. Mereka banyak yang muntah meski telah menutup hidung dan mulut dengan sapu tangan atau dengan segala apa yang ada yang bisa digunakan untuk menutup mukanya…” Read the rest of this entry »

Advertisements

May dan Revolver Tua

February 12, 2017 - Leave a Response

Cerpen Wina Bojonegoro (Media Indonesia, 12 Februari 2017)

may-dan-revolver-tua-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

May dan Revolver Tua ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

DOR…dor…

Suara itu memaksa May membuka mata. Ia tergagap bangun, dengan spontan meraba sesuatu di bawah bantal. Oh masih ada, desahnya lega. Benda itu tetap di tempat, tidak panas, tidak berasap. Enam peluru masih utuh dalam lubang masing-masing. Read the rest of this entry »

Kisah Kegembiraan Penghabisan

February 12, 2017 - Leave a Response

Cerpen Nicko Fernando (Suara Merdeka, 12 Februari 2017)

kisah-kegembiraan-penghabisan-ilustrasi-suara-merdeka

Kisah Kegembiraan Penghabisan ilustrasi Suara Merdeka

Malam itu, aku dan adik-adikku berkumpul di samping lahan kosong, yang tak lama lagi bakal ditanami sebuah gedung. Seperti gedung-gedung lain di kota kami. Seperti biasa, usai menghabiskan pagi hingga petang untuk bekerja, aku dan adik-adikku menghabiskan malam untuk saling bercerita. Read the rest of this entry »

Sebelas Orang Gila di Kotaku

February 12, 2017 - Leave a Response

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 12 Februari 2017)

sebelas-orang-gila-di-kotaku-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Sebelas Orang Gila di Kotaku ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

SEMALAM akubermimpi kedatangan seorang lelaki dengan rambut habis dicukur. Sisi rambutnya yang rapi hingga cambang di pipi tampak berkilat diminyaki, tak berbau, barangkali ia memakai minyak kemiri atau zaitun. Si lelaki tersenyum. Meski merasa cukup akrab dengan senyuman itu, sesungguhnya aku tak mengingat apa pun. Sampai ia menepuk pundakku dan berkata, “Terima kasih, Sampeyan telah mencukur dan memberi kami pakaian. Teruslah mencukur dan memberi pakaian, mudah-mudahan keburukan-keburukan Sampeyan juga terpangkas dan apa yang Sampeyan kenakan tak mudah tersingkap.” Read the rest of this entry »

Amplop Susulan

February 12, 2017 - Leave a Response

Cerpen Teguh Affandi (Republika, 12 Februari 2017)

amplop-susulan-ilustrasi-rendra-purnama-republika

Amplop Susulan ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Dada rasanya diguncang gempa, ketika tangan kiri saya masukan dan raba-raba saku celana dan benda itu masih tersimpan di dalam sana. Amplop yang semestinya saya berikan kepada Ustaz Jazuli usai memberi ceramah di masjid kompleks. Keringat sebiji-biji nangka membasahi peci, menetesi pipi, dan seketika membuat kemeja koko yang saya kenakan basah oleh keringat gugup.

“Celaka!” saya refleks menepok jidat. Saya akan disalah-salahkan oleh panitia lain, bila tahu amplop yang diamanahkan kepada saya tertukar. Read the rest of this entry »

Kehidupan di Dasar Telaga

February 12, 2017 - Leave a Response

Cerpen S Prasetyo Utomo (Kompas, 12 Februari 2017)

kehidupan-di-dasar-telaga-ilustrasi-polenk-rediasa-kompas

Kehidupan di Dasar Telaga ilustrasi Polenk Rediasa/Kompas

APA aku mesti jadi Sobrah?” kelakar Arum, perempuan setengah baya itu, sebelum ia menaiki anak tangga untuk mencapai bibir perahu bermesin. Arum memandangi Suman, lelaki setengah baya, teman seperjalanannya dari kota. Lelaki itu masih berdiri di tepi telaga, terdiam. Cekatan lelaki setengah baya itu menaiki anak tangga, memijak papan dasar perahu. Duduk di bangku kayu, berdampingan dengan Arum, Suman merasakan guncangan agak menyentak saat tukang perahu—yang sudah memutih rambutnya, tetapi masih kekar—menghidupkan mesin. Lambat, perahu bercat biru tua itu mengarungi telaga. Tak ada perahu lain. Lelaki setengah baya itu berseloroh dalam hati: apa salahnya melakukan sobrah? Read the rest of this entry »