Archive for the ‘Zelfeni Wimra’ Category

Tukang Beri Makan Kucing
March 13, 2016


Cerpen Zelfeni Wimra (Jawa Pos, 13 Maret 2016)

Tukang Beri Makan Kucing ilustrasi Bagus Hariyadi

Tukang Beri Makan Kucing ilustrasi Bagus Hariadi

“Jangan sampai lupa memberi makan kucing,” ucap suara lembut di seberang telepon seluler milik Pudin sebelum percakapan berakhir. Itu suara bininya. Pagi itu, mereka baru saja bercakap-cakap cukup lama. Bininya terdengar sangat menyukai perjalanannya sejak dari Padang hingga ke Wamena, menemui anak cucu mereka.

Termasuk yang baru lahir, cucu mereka sudah berjumlah sebelas. Tiga dari anak yang sulung, dua dari anak nomor dua, dua pula dari yang nomor tiga. Sementara yang nomor empat baru punya satu anak. Dan terakhir cucu yang baru lahir adalah cucu dari si bungsu yang kini berada di Wamena. Suaminya membuka rumah makan di sana. (more…)

Advertisements

Marini dan Marina
June 29, 2014


Cerpen Zelfeni Wimra (Media Indonesia, 29 Juni 2014)

Marini dan Marina ilustrasi Pata Areadi

BELUM genap jam sembilan pagi, Marini sudah merangkak masuk kandang. Di dalam kandang itu, ada puluhan ekor ayam liar yang sengaja belum dilepaskan. Marini akan menangkap seekor dari ayam-ayam itu. Ayam bujang untuk melengkapi syarat meminta petuah kepada dukun Pati di kampung seberang.

Selain ayam bujang, Marini juga sudah menyiapkan sebilah pisau dan segantang beras. Juga ada pakaian dalam miliknya dan milik suaminya dibungkus dalam plastik bersama beberapa lembar uang puluhan ribu. Semua menjadi syarat untuk menemui dukun keramat itu. (more…)

Diri Juga Ingin Pulang
August 11, 2013


Cerpen Zelfeni Wimra (Jawa Pos, 11 Agustus 2013)

Diri Juga Ingin Pulang ilustrasi Budiono

ALAM beringsut ke pagi. Detak jarum jam dinding seakan menjadi musik yang tekun mengiringi cuaca dingin. Diri baru saja hendak merebahkan badannya di pembaringan, ketika Awis tiba-tiba datang mengetuk dan membuka pintu. Sejak sore, Awis belum sempat beramah-tamah dengan Diri lantaran begitu banyak tamu dan urusan rumah makan yang harus diselesaikannya.

Awis menatap Diri begitu lama. Ia seperti berusaha mencegah matanya yang berkaca-kaca agar tidak meleleh. Mengapa sahabat sekampung halaman dan sangat berjasa padanya itu kini tampak begitu letih seperti kehabisan tenaga?  (more…)

Pelabuhan Matahari
May 5, 2013


Cerpen Zelfeni Wimra (Media Indonesia, 5 Mei 2013)

Pelabuhan Matahari ilustrasi Pata Areadi

SEMUA orang tahu, ia yang pertama kali menamai garis langit barat dengan pelabuhan matahari. Katanya, matahari akan menenggelamkan dirinya di sana bersama orang-orang yang hidupnya bahagia. Matahari akan menyemburkan semburat warna saga. Sewarna keriangan yang bersembunyi dalam setiap bahak tawanya. (more…)

Gadis Bermata Gerimis
October 30, 2012


Cerpen Zelfeni Wimra (Jawa Pos, 14 Oktober 2012)

AKU harus bertemu Gadis bermata gerimis itu menjelang siang beralih jadi senja. Menjelang matahari benar-benar lenyap dari pandangan dan perbukitan Batu Ampa telah disungkup gelap. Sebab, bila alam sudah kelam, tanjakan dan penurunan jalan yang akan dilalui jauh lebih sulit dilewati daripada ketika masih tersisa terang di garis langit. Aku mempercepat langkah. Garis kelabu masih tergurat di sekitar ufuk barat. Aku pererat tali sepatu yang terasa longgar. Jalan setapak menuju rumah gadang terpencil yang kini ditempati Gadis masih licin. Sisa hujan siang membuat badan jalan bertanah liat dan berbatu itu berbalut lumpur. (more…)

Urat Leher Burhan
July 6, 2012


Cerpen Zelfeni Wimra (Jawa Pos, 3 Juni 2012)

I

EMBUN jantan sudah turun. Pertanda malam segera beralih jadi pagi. Burhan meraih pena dan buku tulis, tebal tiga ratus halaman. Ia pun mulai menulis: Ini masih mengenai sunyi, Bu. Bukan sunyi penjara yang memancing menung-murung; sunyi yang membuat mata seorang tahanan cembung dan pipinya cekung. Bukan. Ini perihal sunyi yang berdenyut hangat di urat leherku. Rentakkan tenaga yang menjalar-menukik ke pucuk jantung. Bersama sunyi itu, bersama tenaga itu, sejalan guliran hari, aku masih ingin memacu tungkai ini berlari. Biar aku kayuh lagi udara dengan kedua daya di tangan. Sekalipun masih harus muncul-menghilang pada satu lapis dimensi, lalu menyeberang ke lapis dimensi yang lain lagi. Tetapi, Bu, bagaimana akan berlari, badan sebatang penyimpan denyut yang masih menjalar melintasi urat leherku ini kini sedang terkurung…. (more…)

Tuan Alu dan Nyonya Lesung
May 15, 2011


Cerpen Zelfeni Wimra (Koran Tempo, 15 Mei 2011)

TUAN Alu memeriksa setiap pori-pori di kepalanya. Bagian ujung dari tubuhnya yang selalu tertumbuk ke bumi itu kini ia sebut kepala. Ini bermula sejak sebilah parang memangkas badannya. Sejak ia terpisah dari akar yang membesarkannya. Sejak ia memutuskan untuk menerima hidupnya dengan perasaan terbalik. (more…)