Archive for the ‘Yudhi Herwibowo’ Category

Pohon Buku
November 20, 2016


Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 20 November 2016)

pohon-buku-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Pohon Buku ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

1

LAKI-LAKI itu datang dengan penuh keyakinan. Melangkah ke dalam rumah seakan ia telah mengenal pemiliknya dengan baik. Setelah mengamati sekeliling, ia bertanya, “Kalian sudah mendengar tentang pohon yang berbuah buku?”

Papa Zamaradra pemilik rumah yang dari tadi diam karena tahu laki-laki ini bukanlah orang sembarangan—hanya menggeleng tak mengerti. (more…)

Advertisements

Museum Luka
July 10, 2016


Cerpen Yudhi Herwibowo (Jawa Pos, 10 Juli 2016)

Museum Luka ilustrasi Bagus

Museum Luka ilustrasi Bagus

SEJAK sang kekasih meninggalkannya, Araning memutuskan satu hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Ia tahu–mungkin—orang-orang akan menganggapnya gila. Tapi sekarang ini ia tak mau memikirkan orang lain. Orang-orang itu tak tahu seberapa banyak ia telah dilukai oleh laki-laki, yang semuanya nyaris dicintainya dengan tulus. Seperti kekasih terakhirnya itu, yang tanpa tanda-tanda apa pun, tiba-tiba saja berkata, “Kupikir ini tak akan berhasil. Sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini.”

Dan Araning tak bisa berucap apa-apa. Sampai laki-laki itu pergi dari hadapannya, ia hanya bisa menahan tangis. Tapi ia tak ingin menangis sekarang. Ia bosan menangis gara-gara hal seperti itu. Membuatnya terlihat lemah. Ia ingin berdiam diri saja di sini. Memandangi apa yang ada di sekelilingnya, seperti lukisan perempuan yang tengah termenung di depan jendela, yang tepat ada di depannya. Entah kenapa, ia merasa lukisan itu begitu mirip dengan keadaannya sekarang. (more…)

Kitab Ular
May 8, 2016


Cerpen Yudhi Herwibowo (Suara Merdeka, 08 Mei 2016)

Kitab Ular ilustrasi Farid

Kitab Ular ilustrasi Farid

Hah… hah… hah…

Matahari tepat di atas kepalaku. Keringat seperti sudah membasuh tubuhku. Membasahi seluruhnya. Mulai kurasakan kakiku tak lagi sekokoh sebelumnya, seakan tanah yang kujejak terasa goyah. Aku tahu dalam keadaan seperti ini, aku seharusnya berhenti sejenak untuk beristirahat. Ini sudah memasuki hari kedua aku berlari. Wadah airku telah kosong—kosong beberapa saat setelah aku meninggalkan dusunku—tapi aku terpaksa menolak keinginan itu. Kupikir, di padang gersang seperti ini, istirahat hanyalah sesuatu yang percuma.

Hah… hah… hah… (more…)

Pagar Batu
November 9, 2014


Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 9 November 2014)

Pagar Batu ilustrasi Pata Areadi

DAPAT dikatakan ia buta sejak lahir. Tapi sebenarnya, ketika lahir ke dunia, matanya masih normal. Namun di malam pertama ia tidur, sesuatu yang entah apa, mencuri matanya. Hingga pagi-pagi saat orangtuanya bangun, mendapati bayinya sedang menangis dengan lubang mata yang kosong!

Orang-orang selalu merasa kasihan padanya. Tapi sebenarnya ia tak perlu dikasihani. Lepas dari dirinya yang tak bisa melihat, ia memiliki kelebihan yang tak dimiliki manusia lain. Kedua tangannya mampu menaklukkan batu-batu. Apa pun jenis batu yang dipegangnya, akan kehilangan massa, seakan-akan menyerah padanya. Ia mudah mengangkat batu-batu itu. Maka, setelah dewasa, ia memilih menjadi tukang batu. (more…)

Pohon Emas
May 11, 2014


Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 11 Mei 2014)

Pohon Emas ilustrasi Pata Areadi

KISAH ini dimulai dari seorang bocah yang menemukan sebuah tunas berwarna keemasan di sebuah hutan. Karena kagum dan ingin menunjukkan kepada orangtuanya, ia mengambil tunas itu dengan mengeruk tanah yang ada di akar-akarnya. Lalu, dengan wadah kedua telapak tangan, ia segera berlari ke arah desa. Namun, sebelum ia menemukan orangtuanya, akar tanaman itu ternyata telah tumbuh menembus kedua telapak tangannya.  (more…)

Gogor
February 16, 2014


Cerpen Yudhi Herwibowo (Suara Merdeka, 16 Februari 2014)

Gogor ilustrasi Farid

SSTTT… jangan ke sana! Kukatakan padamu: jangan ke sana! Aku tak mengucapkan kata-kata kosong. Aku serius! Sangat serius! Aku tahu, aku seharusnya tak perlu mencampuri urusanmu. Aku juga tak ingin seperti itu. Bukankah selama ini selalu begitu? Walau sejak lama kau sudah menjadi orang yang kupilih, dari ratusan manusia di desa ini.

Sudah belasan tahun, kau memilih tinggal di tanah ini, tanah Botodayakan. Aku sudah mengenal dirimu sejak lama. Bahkan sejak kau masih dalam perut hangat ibumu, aku sudah menandaimu. Awalnya tentu saja, aku tak pernah ingin perduli dengan kau, juga dengan semua manusia yang ada di sini.  (more…)