Archive for the ‘Yetti A. KA’ Category

Sepupu
February 25, 2017


Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 25-26 Februari 2017)

sepupu-ilustrtasi-munzir-fadly-koran-tempo

Sepupu ilustrtasi Munzir Fadly/Koran tempo

Pada usiaku yang ke-14 tahun, sepupu yang paling kusayangi memutuskan pindah agama dan menjadi seorang pembaca kitab yang taat. Sebelumnya, di mataku, dia seorang pelari yang hebat dan aku selalu senang melihatnya mengenakan kaus kaki panjang garis-garis hitam-putih dalam berbagai perlombaan yang diikutinya dan menunggu satu hari ia melempar kaus kaki itu ke dalam keranjang khusus barang-barang yang tak berguna lagi, dan aku segera memungutnya untuk kusimpan diam-diam dalam lemariku. Ketika sepupuku memutuskan pindah agama, aku sama sekali tidak merasa kehilangan dia, tapi di rumah bibiku seolah telah terjadi sebuah kematian yang mengerikan dan mereka berkabung hingga bertahun-tahun lamanya. Mereka memutuskan tidak berhubungan lagi dengan sepupuku dan semua orang dilarang bertemu dengannya dan aku merasa beruntung sekali telah menyimpan kaus kaki bekas itu. Paling tidak, dengan memiliki kaus kaki itu, aku merasa sepupuku tidak pergi ke mana-mana. Dia masih duduk di depanku, bercerita dengan mulutnya yang cenderung kecil dan sepasang matanya yang pemarah tentang seekor lutung yang tampak merana dalam kandang di kebun binatang, dan sepupuku terus bertanya-tanya kenapa manusia sering tega kepada makhluk lain. Itu tindakan brutal, kata sepupuku. Aku tidak punya pandangan sejauh itu. Fakta bahwa bibiku sangat menyukai dan mendukung adanya kebun binatang dan sering mengajakku ke sana di akhir pekan atau musim liburan membuatku harus hati-hati dalam mengeluarkan pendapat. (more…)

Advertisements

Lelaki yang Bercerita kepada Marinda
December 25, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 25 Desember 2016)

lelaki-yang-bercerita-kepada-marinda-ilustrasi-bagus

Lelaki yang Bercerita kepada Marinda ilustrasi Bagus/Jawa Pos

“Kau masih mendengarku?”

“Ya, aku mendengarmu.”

“Tapi kau pasti sudah mengantuk.”

“Jika aku tertidur sekali pun, jangan berhenti bercerita.”

***

Aku pernah melihat sebuah lukisan milik temanku, Marinda. Bukan objek lukisan itu—seorang perempuan berbibir terlalu tebal dan merah—yang menjadi perhatianku, melainkan tato kecil di lengannya. Aku melihatnya seperti seekor kupu-kupu, tapi temanku bilang itu sekuntum bunga yang belum mekar. Sampai terakhir bertemu, satu tahun lalu, perihal tato itu tetap kami perdebatkan dan kami tetap pada pendirian masing-masing. (more…)

Alangkah Gelap Pagi Itu, Jan
October 29, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 29-30 Oktober 2016)

alangkah-gelap-pagi-itu-jan-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Alangkah Gelap Pagi Itu, Jan ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

IA keluar rumah pukul lima pagi dan ditemukan mati dua jam kemudian di bawah batang kelapa. Lalu kau berkata, berhenti meratap, Sare!

 

KAU sama sekali tidak bersedih atas kematian suamiku. Kau hanya marah karena kematian itu mengoyak harga dirimu. Berhari-hari kau mengunjungi rumahku, duduk di pangkal tangga, mengasah kuduk bermata tajam dan berkilat putih. Berkali-kali kau berkata, Semua akan kubalaskan, Jan, semua pasti kubalaskan. (more…)

Ia Terus Mengguntingi Ujung Jarinya
October 9, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 09 Oktober 2016)

ia-terus-mengguntingi-ujung-jarinya-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Ia Terus Mengguntingi Ujung Jarinya ilustrasi Bagus/Jawa Pos

SEINGATKU, malam ketika Nona Kecil membakar dirinya di meja makan, Kiral terbahak sambil mengguntingi ujung jari-jarinya satu per satu. Aku tidak mungkin lupa jeritan Nona Kecil di antara kobaran api yang menyambar gaun dan dengan cepat bergerak ke ujung rambutnya yang halus—khas rambut anak-anak—dan panjang. Bagaimanapun ia seorang anak kecil yang tidak tahu persis apa yang ia lakukan. Ia hanya gegabah melampiaskan rasa tertekannya dan bermain-main dengan sebatang lilin yang tengah menyala. Namun, ketidakwarasan benar-benar tengah menyelimuti keluarga ini. Di saat Nona Kecil terus menjerit, Kiral malah mencari-cari potongan jari yang jatuh di dekat kakinya. Beruntung, seseorang menerobos pintu dan mengambil tubuh Nona Kecil yang menggeliat-geliat dan mulai menguarkan aroma daging panggang.

Sudah puluhan tahun lamanya dan aku tetap saja bertanya-tanya siapa orang yang mengambil tubuh Nona Kecil itu dan di mana mereka sekarang berada? Aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya ketika itu. Seolah wajah itu ditutupi cahaya pelindung dan tidak satu mata pun bisa mengintip ke dalamnya. (more…)

Tubuh yang Dikerubungi Semut
July 24, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 24 Juli 2016)

Tubuh yang Dikerubungi Semut ilustrasi Bagus

Tubuh yang Dikerubungi Semut ilustrasi Bagus

SIAPA yang tak mengenal Salgi? Perempuan itu sekarat selama 20 tahun dan sepertinya belum akan mati hingga beberapa tahun yang akan datang. Di rumah yang terbuat dari kayu tenam, ditemani lelaki yang pernah mencintainya (lelaki itu kini duduk menungguinya, meski hati dan pikirannya berlayar ke laut jauh), sepanjang waktu Salgi telentang dengan mata lebih banyak tertutup dan tubuh yang diam. Hampir semua kulit punggungnya hitam dan mengelupas akibat tidur yang panjang itu hingga memperlihatkan beberapa bagian daging merah pucat. Kuku-kukunya bulat berwarna kehijauan seolah akan segera meletus dan mengeluarkan cairan busuk. Kepalanya sudah lama sekali botak, menyisakan rambut tipis tak merata mirip bulu anak burung baru keluar dari cangkang telur. (more…)

Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri
May 22, 2016


Cerpen Yetti A. KA (Jawa Pos, 22 Mei 2016)

Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri ilustrasi Bagus

Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri ilustrasi Bagus

AKU tokoh utama dalam cerita Tentang Luisa yang ditulisnya empat tahun lalu. Sebelum ia menulis cerita itu—mari abaikan fakta soal hujan yang sudah berhari-hari turun lebat disertai petir menyambar-nyambar pada bulan Januari dan menyebabkan sejumlah pohon terbakar, tabrakan beruntun di salah satu ruas jalan raya, air selokan yang hitam meluap ke jalan, dan televisi yang tidak henti mengulang-ulang gambar rentetan bencana itu—aku tahu ia sedang patah hati atas cintanya yang dalam terhadap Tuan H (Ia memaki: Sialan, aku terlalu mencintaimu, Bajingan.).

Berjam-jam ia duduk gelisah di tepi tempat tidur, tanpa ingin memikirkan apa-apa, tanpa mau melakukan apa pun, tanpa keinginan untuk peduli atas apa yang sedang terjadi di luar dirinya. Segelas susu yang dibuatnya dua jam sebelumnya, tidak disentuh sama sekali. Lambungnya tidak mau menerima semua jenis makanan sejak hari ia merasakan sakit yang teramat menusuk di sekitar dada. Asam lambung yang dipicu stres, kata seorang dokter yang sudah seperti temannya sendiri hingga ia bisa bebas bertanya lewat pesan atau sambungan telepon dan tentu ia dianjurkan untuk segera cek kesehatan, serta mendapat nasihat agar memperbaiki pola hidup dan lebih banyak bergembira. (more…)

Sweter
February 28, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 28 Februari 2016)

Sweter ilustrasi Bagus

Sweter ilustrasi Bagus

AKU tahu siapa yang meletakkan stoples itu di atas bufet kayu tepat di sisi foto keluarga —foto kita; aku, kau, dan papamu yang tentu saja mengenakan sweter terbaiknya. Waktu itu kau ingin memerangkap serangga. Kau tak pernah mendapatkan serangga jenis mana pun, sebab binatang itu lebih banyak hinggap di dinding luarnya saja atau sebagian terbentur tak sengaja lalu buru-buru terbang lagi. Namun, tak disangka, suatu hari ternyata stoples itu berhasil memerangkap waktu dan setelah itu waktu seolah berhenti di sini dan aku banyak berada di masa lalu. Kalau saja kau melihatnya sekarang, kalau saja kau di sini, kau mungkin akan terpana dan berteriak sekencang-kencangnya sampai suaramu menembus atap rumah cokelat tua kita. (more…)