Archive for the ‘Yanusa Nugroho’ Category

Ha-hi-hu-he-hooo
November 13, 2016


Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 13 November 2016)

ha-hi-hu-he-hooo-ilustrasi-adi-wirawan-kompas

Ha-hi-hu-he-hooo ilustrasi Adi Wirawan/Kompas

“… dan adalah aku berasal dari perut bumi, yang kemudian dimuntahkan lewat kawah-kawah gunung, menjelma debu, pasir, dan batu-batu. Itulah sebabnya, aku menyimpan seribu satu dongeng yang bisa kau jadikan permata hidupmu…,” bisikan itulah yang dengan jelas selalu menggema di lorong telinganya, melekat erat pada sanubarinya yang bening.

Dia berjalan, seperti meneliti setiap jengkal tanah yang akan dilaluinya. Di matanya, seolah setiap butir kerikil, atau pasir, bahkan debu sekalipun adalah penting. Terkadang, dia terdiam di sebuah titik, seperti mengamati, mengajak bicara pada sesuatu yang dipandanginya, kemudian tersenyum, bahkan tertawa riang. Lalu, tangannya mulai mengorek-orek tanah, mengeluarkan sebungkah pecahan batu, membersihkannya dari sisa tanah dan menempelkannya ke telinga kanannya. (more…)

“Perkenalkan, Namaku Gerimis…”
June 21, 2015


Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 21 Juni 2015)

Perkenalkan, Namaku Gerimis ilustrasi Jitet

Begitulah suara yang tiba-tiba muncul, di suatu sore musim kering.

Dia terhenyak di antara sunyi yang mengepungnya. Begitu saja, perempuan muda itu datang dan berucap salam kepadanya. Tiba-tiba saja, dia seperti terdesak dan terpaksa masuk ke sebuah dunia yang selalu disebutnya sebagai kenangan. Kenangan, di manakah sebenarnya tempat itu? (more…)

Bukit Cahaya
February 16, 2014


Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 16 Februari 2014)

Bukit Cahaya ilustrasi Herjaka HS

KALAU itu batu, tentunya batu-batu itu adalah emas. Jika itu kerikil, tentu kerikil-kerikil itu intan. Semuanya itu menyatu, membentuk sebuah bukit yang bercahaya, bersinar terang, berkilau memukau, pada malam tertentu di bulan tertentu.

Aku harus menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.

Kisah itu memang kudengar dari banyak orang. Sepotong demi sepotong, cerita tentang bukit yang bercahaya itu menyambangiku; seperti kehadiran seorang sahabat yang sudah lama tak jumpa. Ada yang muncul ketika di perjalanan pulang kantor, ada yang hadir ketika aku harus keluar kota untuk urusan kantor. Ada yang ”numpang lewat” di Facebook. Dan semuanya, seperti puzzle, kepingan-kepingan itu menuntut untuk disatukan. Anehnya, aku tak kuasa menolak atau mengabaikannya.  (more…)

Perut Tanah
January 26, 2014


Cerpen Yanusa Nugroho (Media Indonesia, 26 Januari 2014)

Perut Tanah ilustrasi Pata Areadi

MALAM larut, pekat, panas seperti ter. Tak ada udara yang mau bergerak, dan orang-orang itu pun seperti kehilangan pikiran. Sementara laki-laki itu sendiri bahkan tak punya sebatang rokok pun untuk diisap. Kemarin istrinya marah besar. Mungkin kesurupan roh Betari Durga. Semua dikutuknya. Bahkan tempayan kosong, yang sudah beberapa bulan ini tak sempat terisi apa-apa, dikutuknya habis-habisan. Untunglah, kutukannya tidak manjur, sehingga tempayan itu tetap berwujud tempayan.

Sesaat dia hanya melihat sekeliling. Panas yang pengap ini tak memberi harapan apa-apa. Suara orang-orang mengaji di surau dan langgar-langgar terdengar sayup, menyelusup dari celah-celah udara panas. Sampai malam ini, istrinya masih saja mengomel dan mengutuki apa saja yang bisa dikutukinya. Mungkin itulah yang bisa dilakukannya untuk saat ini. Dan, laki-laki itu memilih keluar rumah.  (more…)

Burung Kecil dan Hujan
January 27, 2013


Cerpen Yanusa Nugroho (Media Indonesia, 27 Januari 2013)

Burung Kecil dan Hujan ilustrasi Media Indonesia

MENYAKSIKAN guyuran hujan dari bawah lindungan halte bus, aku merasa tak berdaya. Aku hanya bisa memandang entah apa, tanpa pernah bisa berbuat lain kecuali diam dan merasa hampa. Jauh di atas sana, langit kelabu, pertanda hujan akan cukup betah menyiksaku dengan ruang hampanya.

Aku merasa sendirian di bawah halte ini. Mungkin juga mereka yang tengah bergumpal di bawah halte yang sama ini merasakan kesendiriannya masing-masing. Tak ada keinginan untuk sekadar bicara, karena memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Di dekatku ada anak muda, kuduga saja dia mahasiswa—perempuan—asyik dengan gadgetnya. Mungkin dia tenggelam dalam percakapan maya, entah dengan siapa, yang jelas bukan dengan satu pun di antara kami yang ada di sekitarnya. Aneh juga, tak satu pun orang mau menyalakan rokok. Dan memang sangat terkutuklah jika di suasana seperti ini ada yang mengepulkan asap rokok. (more…)

Bukit Mawar
May 9, 2012


Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 29 April 2012)

NAMANYA Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya “Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan “Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum.

Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Arjuna, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit gemetar bahwa itu pilihan ibunya. Ibunya hanya penjual bunga di makam. (more…)