Archive for the ‘Y Agusta Akhir’ Category

Sekuntum Mawar untuk Magdalena
March 6, 2016


Cerpen Y Agusta Akhir (Suara Merdeka, 06 Maret 2016)

Sekuntum Mawar untuk Magdalena ilustrasi Hery Purnomo

Sekuntum Mawar untuk Magdalena ilustrasi Hery Purnomo

Ia tak bisa mengingat lagi, kapan pertama kali bertemu dengan perempuan itu. Soal waktu, ia memang tak pernah menganggapnya penting. Setidaknya tentang perjumpaan pertama dengan perempuan yang bernama Magdalena.

Tapi peristiwa yang mengesankan itu tak mungkin bisa lepas dari ingatannya. Dan, bayangan wajah perempuan itulah satu-satunya yang mengisi batok kepalanya; mengajarkan padanya bagaimana mengingat peristiwa. Tapi, apakah ia tahu itu bernama kenangan? Dan siapa pula yang mengajarkannya makna sekuntum mawar yang sesekali ia berikan pada perempuan itu? (more…)

Advertisements

Balada Rindu Nek Padma
May 25, 2014


Cerpen Y Agusta Akhir (Republika, 25 Mei 2014)

balada-rindu-nek-padma-ilustrasi-rendra-purnama

Balada Rindu Nek Padma ilustrasi Rendra Purnama

MATA cekung Padma mengerjap menatap senja yang entah mengapa akhir-akhir ini terasa muram. Kerinduannya akan masa lalu seolah lindap pada semburat merah kekuningan itu. Hanya desir angin yang tak memberinya isyarat apa pun yang ia dengar. Atau, gemerisik daun-daun jambu yang tumbuh di pelataran yang sudah sangat akrab di telinganya.

Dulu, saat seperti ini, dari kursi beranda ia bisa saksikan bocah-bocah itu pulang. Dan, satu per satu mereka masuk ke dalam rumah dengan wajah masai usai bermain. Bocah-bocah itu kini telah dewasa, tapi tak bersamanya lagi sejak delapan tahun lalu. Pekerjaan telah membawa mereka meninggalkan rumah dan menyebar ke tempat yang jauh. Bahkan, ada yang di luar pulau. Dan, sejak itu pula, belum pernah mereka berkumpul bersama di rumah itu. Bahkan, saat Lebaran sekalipun.  (more…)

Lukisan Pelangi Ama
April 27, 2014


Cerpen Y Agusta Akhir (Suara Merdeka, 27 April 2014)

Lukisan Pelangi Ama ilustrasi Farewell

HUJAN baru saja berhenti beberapa saat lalu. Dari teras rumah, Ama masih menatap lekat lengkung pelangi yang menggurat di langit biru. Ia memandangnya seolah ada yang ia lihat selain garis warna merah, kuning dan hijau yang sudah mulai pudar itu. Kuperhatikan wajahnya. Masih ada gurat sedih di wajah mungilnya itu.

‘’Apakah ia masuk surga, Tante?’’ gumamnya tanpa berpaling dari lengkung pelangi itu.  (more…)