Archive for the ‘Wendoko’ Category

Bulan Merah
September 3, 2016


Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 03-04 September 2016)

Bulan Merah ilustrasi Munzir Fadly

Bulan Merah ilustrasi Munzir Fadly

KREET, Kreeet. Lia membuka matanya. Suara itu sangat mengganggu, seperti memaksa masuk ke dalam tidurnya.

“Ling, itu kamu?”

Kreet…. kreeet.

Lia bangkit dari ranjang. Beberapa jenak ia berjuang mengakurkan matanya dengan cahaya lampu 8 watt di kamar itu. Lalu ia melihat sesosok tubuh duduk di kursi goyang kecil di dekat lemari. Sosok itu adalah anak perempuan kecil berambut poni dan mengenakan daster panjang untuk tidur.

“Ling, itu kamu?” (more…)

Advertisements

Nebulae
April 20, 2014


Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 20 April 2014)

Nebulae ilustrasi Munzir Fadly

GURUKU mendongak ke langit. Katanya, gumpalan cahaya itu seperti bilah api di sumbu lilin. Warnanya kebiruan, agak gelap di tepi, dan dikerubuti serabut-serabut kuning atau jingga. Jika diamati, serabut-serabut itu seperti bergerak—merambat, menyebar, lalu merapat. Pada langit malam yang berbintang, gumpalan cahaya itu tampak besar tapi buram, seolah serpihan kabut atau awan dengan cahaya yang samar.

Aku teringat, guruku pernah menyebutnya massa yang berawan di langit.  (more…)

Gerimis yang Menari
February 17, 2013


Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 17 Februari 2013)

Grimis yang Menari ilustrasi Yuyun Nurrachman

LEWAT teleskop di senapan Steyr-nya, ia mengamati keadaan di bawah sana. Ia melihat kerumunan mahasiswa, mungkin lebih dari 1.000 mahasiswa, memenuhi jalan dari gerbang kampus sampai ke dekat kantor lama walikota. Ia hanya berjarak 400 meter dari mereka. Hampir seluruh mahasiswa itu berjaket biru-tua, tapi ia juga melihat beberapa orang yang berjaket kuning dan krem-pudar. Lalu beberapa orang berkaus oblong tapi mengikatkan jaket ke pinggang atau melingkar di leher. (more…)

Fenghuang
December 16, 2012


Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 16 Desember 2012)

Fenghuang ilustrasi Yuyun Nurrachman

NAMAKU FENGHUANG. Kata Niang, fenghuang adalah burung yang paling besar. Fenghuang juga burung dengan bulu-bulu paling indah. Campuran antara merah, jingga, dan kuning—dan waktu mengepakkan sayap, bulu-bulunya berkilau seperti warna emas. Tetapi fenghuang hanya bertelur satu kali sepanjang hidupnya. Telur itu kelak akan menetas dan menjelma bayi fenghuang yang tak kalah indahnya. Karena itu fenghuang bersarang di dahan pohon-pohon yang tinggi. (more…)

Afrodit
April 17, 2012


Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 15 April 2012)

IA melihat cahaya kemerahan. Ia melihat cahaya bergoyang goyang cepat, seolah sambar an lampu pijar. Cahaya yang merobek gelap, dan meninggalkan jejak. Cahaya yang menyorot ke kanan, dan kadang menghantam ke mukanya, menyisakan selaput katarak dalam noda-noda hitam. Kadang cahaya itu melambat, dan tinggal pendar-pendar kuning-limau atau jingga-pudar. (more…)

Jazz!
March 6, 2012


Cerpen Wendoko (Suara Merdeka, 4 Maret 2012)

Kau Belum Datang

Di kafe ada perempuan berseragam kantor, dengan senyum yang angkuh. Perempuan bermata hitam-redup, yang menatap kosong ke laptop. Perempuan dengan lipstik ungu dan terus memijit pangkal hidung. Perempuan berkacamata dan wajah lebih banyak maskara, yang berceloteh ribut. Perempuan berambut keriting—duduk dengan kaki melingkari kursi. Perempuan yang menggosok-gosokkan bibir, sewaktu menyeruput kopi. (more…)