Archive for the ‘Vika Wisnu’ Category

Telepon dari Istanbul
October 23, 2016


Cerpen Vika Wisnu (Kompas, 23 Oktober 2016)

telepon-dari-istanbul-ilustrasi-sunaryo-kompas

Telepon dari Istanbul ilustrasi Sunaryo/Kompas

Di Hagia Sophia seseorang lelaki asing menepuk bahu perempuan yang berdiri tak jauh di depannya dan bertanya, “Anda dari Indonesia?”. Si perempuan menoleh hingga rambutnya seolah melayang, mengiyakan dengan girang, ribuan kilo dari kampung halamannya di Pasuruan, ada yang mengenalinya, “Benar!” senyumnya lebar. Tapi takdir telah memilihkan akhir dari percakapan itu. Keduanya sama-sama terperanjat ketika mata mereka kemudian bersitatap. Beberapa detik tak bertuan sampai suara perempuan itu mengambil alih, “Apa kabar?”, nadanya sehalus arumanis hangat. Si lelaki tergeragap, lalu menukas lekas-lekas, “Oh, özür dilerim—saya minta maaf. Maaf. Salah orang.” Ia bahkan menolak berhenti sebentar atau sekedar menengok ulang, begitu terburu-buru. Perjumpaan memang bisa terjadi sesingkat itu. (more…)

Advertisements

Ada Yoko di Societeit Straat
March 6, 2016


Cerpen Vika Wisnu (Jawa Pos, 06 Maret 2016)

Ada Yoko di Societeit Straat ilustrasi Bagus

Ada Yoko di Societeit Straat ilustrasi Bagus

MINGGU pagi dua hari lalu aku melihatnya di pertengahan Jalan Veteran. Dari arak lima puluh meteran dan terhalang kaca jendela taksi, aku dapat mengenalinya dengan baik, Yoko berjalan sangat pelahan, seperti mau berhenti tapi urung. Menoleh ke kiri dengan gerakan luar biasa lambat—seperti sengaja diperlambat, matanya terkunci pada sebuah bangunan megah dari sebuah zaman, gedung yang pernah tersohor dengan nama Societeit Concordia.

Selamat pagi, kataku—entah apakah ia bahkan menyadari kehadiranku. Suhu udara 25 derajat Celcius. Yoko tak membalas dengan membungkuk dalam-dalam, ia sudah lama bukan lagi orang Jepang. Punggungnya tetap tegak, ujung dagunya saja yang menyentak sekilas. Kedua tangannya tersembunyi di balik jaket corduroy tebal seakan-akan sedang berada di tengah dingin yang tak tertanggungkan. (more…)

Nyonya Rumah Abu
March 17, 2013


Cerpen Vika Kurniawati (Kompas, 17 Maret 2013)

Nyonya Rumah Abu ilustrasi Risa Tania Tejawati

“LAGIPULA siapa yang akan memperkosa dan membunuh lelaki yang sudah renta ini?” Dan anak bungsu yang kena pulung ini hanya bisa menghela nafas mendengarnya. (more…)

Linea
October 17, 2012


Cerpen Vika Wisnu (Koran Tempo, 30 September 2012)

 

 

JIKA hidupku ini adalah sebuah novel, maka dia adalah lelaki paragraf pertama. Muncul dalam setiap bab, mengawali semua kisah, adakalanya demikian terus terang hingga aku mendapat petunjuk akhir seperti apa yang akan kudapat; di kali lain begitu samar, tak dibiarkannya aku berhasil menebak, dibuatnya aku penasaran, disengajanya aku jatuh terpesona, tak percaya, hingga mau tak mau aku harus mengulangi membaca dari mula—yang berarti: menemuinya lagi, sekali lagi, beberapa kali lagi, atau bahkan berulang kali. (more…)