Archive for the ‘Utami Panca Dewi’ Category

Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue
January 22, 2017


Cerpen Utami Panca Dewi (Suara Merdeka, 22 Januari 2017)

air-mata-yang-terperangkap-dalam-sepotong-kue-ilustrasi-suara-merdeka

Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue ilustrasi Suara Merdeka

A Ma masih di kelenteng melakukan sembahyang untuk leluhur ketika Lilian sibuk mengelus-elus sepotong kue keranjang yang paling kecil pada tumpukan paling atas. Lilian memutuskan untuk tinggal di rumah dan tidak mengikuti langkah A Ma. Bukan saja karena ia tak mau repot menahan mulutnya dari keharusan bersin berulang-ulang setiap kali menghirup aroma dupa yang terbakar. Bukan pula karena sengaja ingin menyakiti hati A Ma. Ia ingin di rumah saja, meresapi setiap kesedihan yang terperangkap dalam kue-kue keranjang berbentuk bundar dan berwarna cokelat itu.

Ini hari terakhir sebelum Tahun Baru tiba. Dan hidangan Imlek telah disiapkan A Ma untuk menyambut kedatangan sinchia. Sepiring siu mie (mie panjang umur), teh telur, jeruk mandarin, daging ikan, ayam dan babi. Termasuk setumpuk kue keranjang tiga tingkat yang semakin ke atas semakin mengecil dan mengerucut. (more…)

Advertisements

Kebun Kelapa Bapak
August 21, 2016


Cerpen Utami Panca Dewi (Suara Merdeka, 21 Agustus 2016)

Kebun Kelapa Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Kebun Kelapa Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Jadi, kebun kelapa itu akan dijual untuk kepentingan pakde Parsidi pergi ngulon—menjalankan rukun Islam yang kelima. Kebun itu sebelumnya memang milik bapak. Warisan dari simbah untuk anaknya yang wuragil. Kebun yang berdampingan dengan kebun milik pakde Parsidi, anaknya simbah yang pertama. Kedua kakak bapak yang lain tidak mendapatkan warisan karena meninggal dunia sewaktu masih bujang. Namun semenjak bapak menggadaikan kebun itu kepada pakde—demi kelanjutan studiku di Perguruan Tinggi—surat tanah kebun kelapa itu akhirnya dikuasai pakde.

“Beruntung Pakdemu masih mengizinkan Bapak mengambil nira dari pohon kelapa yang tumbuh di kebun itu, Le. Jadi simbokmu masih bisa menitis dan mengolah legen menjadi gula merah untuk sangu kuliahmu. Begitupun dengan kelapanya,” begitu kata bapak saat melepas surat tanah demi mendapatkan pinjaman uang sepuluh juta rupiah, agar aku bisa merasakan bangku kuliah. (more…)