Archive for the ‘Triyanto Triwikromo’ Category

Ayoveva
July 30, 2016


Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 30-31 Juli 2016)

Ayoveva ilustrasi Munzir Fadly

Ayoveva ilustrasi Munzir Fadly

SETIAP orang hanya memiliki satu kali kesempatan tinggal di Ajjar. Begitu seseorang jatuh ke dalam dosa, ia akan terusir dari perdesaan berpagar hutan pinus segar itu dan tidak diperbolehkan kembali. Hukum Tuhan juga menyatakan: siapa pun yang menolak keindahan cinta, juga dipersilakan meninggalkan kawasan penuh bunga biru dan kupu-kupu ungu itu.

Ajjar memiliki satu Tuhan, 72 malaikat, 35 nabi, dan 135 iblis. Orang-orang Ajjar paham bahwa di area mereka tumbuh 75 pohon yang belum diberi nama dan 375 pohon bernama unik semacam kacaromatra, harakano, dan juguransomatone. Di luar pohon-pohon itu, ada satu pohon terbesar bernama Milhik. Pohon Milhik bisa bicara. Di ranting-ranting pohon itu bergelantungan ular-ular kuning yang masih sangat ranum. (more…)

Setelah 16.200 Hari
July 24, 2016


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 24 Juli 2016)

Setelah 16.200 Hari ilustrasi Ida Bagus Shindu Putra

Setelah 16.200 Hari ilustrasi Ida Bagus Shindu Putra

– Cerita untuk Gus Mus dan almarhumah Nyai Siti Fatmah Mustofa

 

/1/

“Allah telah mengutusku, Nyai.” [1]

“Ya, aku tahu…”

“Aku tidak bisa menghambat atau mempercepat.”

“Tetapi Abah [2] masih tidur.”

“Nanti kiai mulia itu akan bangun juga.”

“Aku sangat mencintainya.”

“Aku tahu.”

“Mengapa harus sekarang? Aku masih 62 tahun, Abah baru 72 tahun.” (more…)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua
June 26, 2016


Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani (Kompas, 26 Juni 2016)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya. (more…)

Sesat Pikir Para Binatang
January 30, 2016


Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 30-31 Januari 2016)

Sesat Pikir Para Binatang ilustrasi Munzir Fadly

Sesat Pikir Para Binatang ilustrasi Munzir Fadly

PELAJARAN pertama agar kau bisa bekerja dengan baik di kebun binatangku, Kalam, adalah mengetahui dengan saksama satwa apa yang bersemayam di dalam jiwamu,” kata Nuh, Direktur Kebun Binatang Halasnom berkaki pincang berusia 54 tahun itu, pada hari kelima aku bekerja.

Mematuhi anjuran itu, aku melihat dengan sangat serius aneka satwa berenangan di kolam, burung-burung di pepohonan, dan binatang-binatang laut yang dipelihara di akuarium raksasa. (more…)

Penguburan Kembali Sitaresmi
February 1, 2015


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 1 Februari 2015)

Penguburan Kembali Sitaresmi ilustrasi Jitet

SELAMA 50 tahun aku dipaksa menjadi orang bisu. Selama 50 tahun warga kampung mungkin sudah menganggap aku sebagai batu berlumut. Namun karena kau bersama puluhan anak muda tiba-tiba berniat membongkar gundukan menyerupai kuburan dan ingin memakamkan kembali siapa pun yang dibunuh dan dikubur di gundukan batu menyerupai makam di Bukit Mangkang, aku harus menceritakan kisah pembantaian konyol kepada 24 perempuan tangguh itu kepadamu. (more…)

Dongeng New York Miring Untuk Aimee Roux
March 16, 2014


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 16 Maret 2014)

Dongeng New York Miring Untuk Aimee Roux ilustrasi Gede Suanda

SESEORANG akan membunuhmu di Central Park yang membeku. Seseorang akan membunuhmu dalam badai salju. Nicole berkali-kali mendengarkan bisikan semacam itu justru ketika tiga hari lalu dia menerima telepon dari Manhattan, dari Aimee Roux: “Mungkin tak lama lagi aku akan meninggal. Temuilah aku sebelum Obama menendangku ke neraka.”

Ada nada guyon sekaligus mengiba-iba dalam suara yang sangat lirih dari sebuah rumah sakit di pusat kota. Justru karena itulah Nicole tak hendak mengabaikan keinginan Aimee, keinginan kekasih yang sudah setahun meneliti respons orang-orang Arab-Amerika terhadap pembangunan 9/11 Memorial dan 9/11 Memorial Museum di Ground Zero.  (more…)