Archive for the ‘Teguh Affandi’ Category

Amplop Susulan
February 12, 2017


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 12 Februari 2017)

amplop-susulan-ilustrasi-rendra-purnama-republika

Amplop Susulan ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Dada rasanya diguncang gempa, ketika tangan kiri saya masukan dan raba-raba saku celana dan benda itu masih tersimpan di dalam sana. Amplop yang semestinya saya berikan kepada Ustaz Jazuli usai memberi ceramah di masjid kompleks. Keringat sebiji-biji nangka membasahi peci, menetesi pipi, dan seketika membuat kemeja koko yang saya kenakan basah oleh keringat gugup.

“Celaka!” saya refleks menepok jidat. Saya akan disalah-salahkan oleh panitia lain, bila tahu amplop yang diamanahkan kepada saya tertukar. (more…)

Advertisements

Berkereta ke Surga
July 10, 2016


Cerpen Teguh Affandi (Suara Merdeka, 10 Juli 2016)

Berkereta ke Surga ilustrasi Suara Merdeka

Berkereta ke Surga ilustrasi Suara Merdeka

Pikirannya agak goyah seperti sebotol minuman soda yang dikocok berulang kali kemudian dibuka dan berhamburanlah semua isinya keluar. Mungkin karena Mulatin sudah tua dan seumur hidup tidak memiliki anak, demikian terkaan orang. Tapi sejatinya, musabab mengapa Mulatin sedemikian berang tiap ada hal kecil menganggu—misal lepek kopi yang dirubung semut, koran yang basah karena si loper koran melemparkan buru-buru dan mengenai genangan air hujan di emper rumahnya, atau tepung karambol yang makuk kuku dan susah dibasuh—ialah karena dua karib sejawatnya, Mudakir dan Muyasir, telah mati mendahuluinya.

Mulatin beserta Mudakir dan Muyasir adalah gerombolan yang semenjak muda gemar menyentil-nyentil biji karambol di pos ronda saban usai sembahyang isya. Mereka bertiga berkelakar tanpa mengenal waktu. Tak peduli kopi di gelas telah hampir tandas menyisakan ampas kental. Atau suara jangkrik malam mulai bersahutan pertanda malam hampir turun ke fajar. Kita habiskan malam sebelum malam ini mengunyah kita, demikian rayu Mulatin untuk mengikat Mudakir dan Muyasir yang memang dasarnya tak punya kemampuan bergadang setangguh Mulatin. (more…)

Reuni
May 15, 2016


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 15 Mei 2016)

Reuni ilustrasi Rendra Purnama

Reuni ilustrasi Rendra Purnama

Saya baru merasakan kalau waktu itu seperti mengejar ekor layang-layang putus. Sampai napas ini hampir habis, tak sekali pun dia mau mampir di tangkapan. Hari seperti berlari. Pekan tak sampai dikejar. Bulan menggelinding penuh kecepatan. Dan tahun yang lewat membuat semua tubuh ini makin rapuh. Bukan hanya soal waktu yang tidak bisa diputar bak piringan hitam belaka. Menikmati waktu pun perlu usaha ekstra.

Saya masih mengingatnya betul. Di ujung-ujung perpisahan, kami bertiga berjanji untuk sesekali menelepon, mengirimkan pesan, atau sengaja mengatur janji bertemu bisa jumpa dengan jeda liburan. Tapi, hidup kami ternyata lebih susah diatur. Mula-mula kami masih sering bertelepon seminggu sekali di tengah kesibukan kerja. Juga saling kunjung. Kegembiraan kami masih sama, seperti saat kami masih di kota yang sama dulu, Jogja. (more…)

Doa Pulitan
December 27, 2015


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 27 Desember 2015)

Doa Pulitan ilustrasi Daan Yahya

Doa Pulitan ilustrasi Daan Yahya

ADA labirin di kepala Pulitan. Labirin rumit yang menjadikan Pulitan tersesat dalam pikirannya sendiri. Hingga membuat orang terseok-seok mengikuti alur berpikirnya. Saban mencoba mencerna kejanggalan sikap dan ucapan Pulitan yang seruncing taring, berbisa seperti kecubung, justru kita akan terjerembap di kedalaman sesat atau terbentur tembok buntu. Banyak tetangga tak menyukai dan mengucilkannya. Bahkan istri-istrinya—Pulitan tiga kali menikah tiga kali berpisah—selalu punya alasan untuk minta talak. (more…)

Eyang Veteran
August 9, 2015


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 09 Agustus 2015)

Eyang Veteran ilustrasi Rendra Purnama

Eyang Veteran ilustrasi Rendra Purnama

Setiap Agustus mulai tampak di almanak ruang tengah, ada semacam ritual tahunan yang dilakukan Eyang Vet. Beliau akan sibuk tanpa menghiraukan orang sekitaran.

Eyang Vet akan mulai mencari seragam tentara yang sudah usang di tumpukan lemari. Beberapa ujung seragam dimakan kutu pakaian, lipatan setrika sudah sedemikian kentara menjejak, lubang-lubang bekas peniti emblem dan pangkat penghormatan jamak terlihat di sekitaran saku, dan bila tidak disemprot dengan pewangi tentu aroma apak akan menguar. Senja yang membuat kakinya gemetar dan rabun seolah tak mempan membuat semangatnya berkobar. (more…)

Kolak
July 5, 2015


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 05 Juli 2015)

Kolak ilustrasi Rendra Purnama

Kolak ilustrasi Rendra Purnama

Seolah, selama setahun disembunyikan dan hanya digelontorkan saat Ramadhan, kolak melimpah ruah sepanjang hari-hari puasa. Meskipun misterius, kurma yang mendadak melimpah di swalayan modern hingga pasar tradisional masih masuk nalar. Meski bermula dari Tanah Persia, nyatanya sebulan menjelang puasa hingga pasca- Lebaran kurma mudah sekali ditemukan. Bersama hadis cara Nabi berbuka, buah pokok Phoenix dactylifera lantas mendunia. Lantas, bagaimana dengan kolak? Tak ada ulama, kiai, ustaz, atau wali menyahihkan bahwa kolak kudapan khusus saat Ramadhan. Tapi, semua seperti sepakat kolak hanya enak dimakan saat buka puasa.  (more…)