Archive for the ‘Teguh Afandi’ Category

Hujan Mawar di Lempuyangan
June 23, 2013


Cerpen Teguh Afandi (Media Indonesia, 23 Juni 2013)

Hujan Mawar di Lempuyangan ilustrasi Pata Areadi

AKU hendak menanam biji mawar di bibir wanita yang kutemui di bawah Jembatan Lempuyangan. Bibir merekah dan setengah terbuka. Akan kusemai biji mawar di kekenyalan bibirnya. Kupasang kawat berduri agar tak dipungut penjual gulali di utara palang kereta. Kukancing rapat, agar tak tercerabut saat tertawa.

Bibir-bibir wanita di bawah Jembatan Lempuyangan adalah bibir paling pas untuk ditanami biji bunga. Tidak tercemar narkoba. Tidak ditiduri nikotin dan ganja. Hanya sesekali asap timbal dan karbon monoksida menerpa. Membuatnya layu sebentar, lalu kembali segar dan lebih kebal serangan kuman.  (more…)

Advertisements

Melankolia di Tepian Thames
January 6, 2013


Cerpen Teguh Afandi (Suara Merdeka, 6 Januari 2013)

Melankolia di Tepian Thames ilustrasi Toto

AKU duduk di tepian sungai kebanggan orang London, Thames River. Sepuluh tahun ternyata begitu cepat. Seperti baru kemarin aku meninggalkan London. Suasana masih terekam sama: langit petang yang mirip lembayung di Lembang, kemilau riak air diterpa mentari, London Aquarium, kafe tempat menyambut malam dengan kursi dan meja berbahan kayu oak merah, dan ikon kota, London Eye. Hanya saja kincir besar warna putih gading yang berputar perlahan di depan Country Hall itu kini ramai dipenuhi wisatawan manca. Kabarnya kini sudah bertiket lebih dari 20 poundsterling. Perlu kecermatan yang ekstra untuk memastikan bahwa kapsul-kapsul kaca itu berputar hingga ke puncak, karena RPM-nya yang sedemikian pelan. Pantulan sinarnya menembus penjara-penjara di dada. Sepuluh tahun lalu kami bergandengan tangan, menyusuri tepian Thames River. Ada sungut-sungut hangat menjalar ke sela-sela jemari kami yang beradu erat. (more…)

Penyesalan
December 2, 2012


Cerpen Teguh Afandi (Republika, 2 Desember 2012)

Penyesalan ilustrasi Rendra Purnama

KALAU dihitung sudah hampir delapan tahun aku sendirian. Istriku meninggal terkena kanker kandungan. Anak-anakku sudah beranjak sukses dan bermukim di perkotaan. Mereka sudah bukan lagi anak kecil yang harus diawasi. Mereka punya jalan hidup yang dipilih sendiri. Sudah berhasil kutuntaskan pendidikan mereka sampai sarjana. Luhde menjadi kontraktor di Surabaya, seminggu sekali dia dan keluarganya menelepon. Gedeh, anakku yang kedua, berhasil mengikuti jejakku sebagai dokter, dia mengambil pendidikan spesialis kulit dan kelamin di Belanda. Anakku yang satu ini sudah berkali-kali mengajakku ke Belanda, tetapi kaki tuaku gugup saat harus boarding ke sana. Dan, si bungsu, Junde, baru selesai sarjana perminyakan dan bersiap bekerja di Papua. Junde memang mencita-citakan bekerja di Papua. (more…)

Telepon dari Makkah
September 23, 2012


Cerpen Teguh Afandi (Republika, 16 September 2012)

MENJELANG keberangkatan haji kloter ketiga, kami sekeluarga boyongan ke Sukoharjo. Ke rumah ibuku, tempat kedua orang tuaku menghabiskan masa pensiun dari guru. Tahun ini jadwal keberangkatan haji mereka, setelah hampir lima tahun menunggu giliran. Maklum semua orang kaya di Indonesia, termasuk Sukoharjo ingin berangkat haji sebelum mati. (more…)