Archive for the ‘Taufik Ikram Jamil’ Category

Suara 1
June 1, 2014


Cerpen Taufik Ikram Jamil (Media Indonesia, 1 Juni 2014)

Suara ilustrasi Pata Areadi

TAK ada keistimewaan khusus dari upacara kematian yang diceritakan Murad sampai ia harus membatalkan janjinya dengan saya. Membatalkan pekerjaan besar yang telah kami rancang berbulan-bulan. Melalui pesan pendek (SMS) yang tiba di telepon genggam saya, Murad menulis, ‘Maafkanlah kalau aku tidak meminta maaf karena pembatalan ini, sebab aku harus mengikuti upacara kematian itu’.

Diakuinya bahwa sosok yang mati tersebut bukanlah saudara, bukan kaum kerabat. Bukan kawan, terutama bukanlah lawan. Tidak sosok terhormat, tak pula tokoh terpandang. Mengenalnya, pasti. Tapi ya sekadar kenal, tidak sampai menjadi sahabat, menjadi orang yang dapat dijadikan obat karena kepadanya semua persoalan dapat disampaikan. (more…)

Advertisements

Suara 3
May 25, 2014


Cerpen Taufik Ikram Jamil (Koran Tempo, 25 Mei 2014)

Suara 3 ilustrasi Munzir Fadly

KALAU hanya satu atau dua orang warga yang melaporkan kehilangan suara, kehilangan suara yang sesungguhnya, Abdul Wahab mungkin tidak begitu risau. Tetapi nyatanya, dalam satu hari ini saja, sudah tiga orang yang melaporkan hal ihwal serupa kepadanya. Tidak hanya karena sebagai Ketua Kampung, sebagai warga biasa pun, Wahab – demikian ia selalu disapa—pastilah merasakan bahwa peristiwa tersebut bukanlah kejadian biasa, malahan sesuatu yang luar biasa.

Sambil menyeruput kopi petang itu, tiba-tiba saja ia begitu yakin bahwa pelapor dalam kasus yang sama akan terus bertambah, terus bertambah. Perasaan itu yang menyeret langkahnya menuju halaman rumah. Dibiarkannya kopi yang tinggal setengah dalam gelas batu tanpa tutup dengan panas yang masih menyengat. Lupa ia bahwa masa seperti itu, Biah yang dinikahinya 40 tahun lalu, segera menemaninya sambil berbincang tentang apa saja sebelum senja melipatkan jubah merah kesumbanya untuk malam.  (more…)