Archive for the ‘Sunlie Thomas Alexander’ Category

Perihal Orang-Orang China di Belijong
January 29, 2017


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 29 Januari 2017)

perihal-orang-orang-china-di-belijong-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Perihal Orang-Orang China di Belijong ilustrasi Bagus Hariadi – Jawa Pos

“ALANGKAH besarnya kota ini!” seloroh ayahku suatu hari, kemudian terkekeh. Aku –yang waktu itu baru duduk di bangku kelas dua entah tiga SD– juga ikut tertawa geli begitu memahami apa maksud kelakarnya. Seketika itu pula, terbayanglah olehku Taiping Jong dan Taisi Jong [1] dalam cerita-cerita Akong. Ah, samudra yang terhampar demikian luas!

Kecuali Kota Kecamatan Kelapa yang nyaris seluruh warganya orang Melayu, setiap kota di pulau kecil kami memang memiliki sebuah nama China-Hakka. Pinkong untuk Pangkalpinang, Liatkong untuk Sungailiat, Komuk untuk Koba, Sabang untuk Toboali, Buntu untuk Muntok, Nampong untuk Jebus, dan Belijong untuk Belinyu. [2] Ya, begitu pun dengan nama kampung dan jalan-jalan. Ada yang memperoleh nama Hakka-nya dulu, ada pula yang terlebih dulu diberi nama Melayu. (more…)

Advertisements

Kakek dari Tong San
December 18, 2016


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 18 Desember 2016)

kakek-dari-tong-san-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Kakek dari Tong San ilustrasi Bagus/Jawa Pos

KERAPKALI selepas makan malam kami sekeluarga akan berkumpul di ruang toko jahit yang tak begitu luas itu. Dengan Akong duduk di belakang mejanya yang besar-panjang, tempat ia menggambar dan menggunting pola-pola pakaian (ah, meja peninggalan kakek buyutku yang usianya sudah puluhan tahun!). Sementara ayahku duduk di balik mesin jahitnya; aku dan Mama duduk di lantai samping pintu depan beralaskan selembar triplek sisa menyekat kamar Bibi Ngiat Ngo di lantai atas. Bibi keduaku itu (yang saat itu masih tinggal bersama) kadangkala ikut nimbrung jika sedang tak ada kesibukan.

Paman tertuaku Ngiu Long (begitulah ia kerap dipanggil orang) lebih suka berdiri di pojok ruangan; di belakang sebuah lemari kaca rendah yang digunakan untuk memajang pakaian-pakaian siap jual. Ia tak pernah beranjak dari sana, kendati sesekali harus membungkuk menggaruk kakinya yang diserbu oleh kawanan nyamuk. Sedangkan Man-Man—paman kecilku yang autis—tidak pernah duduk diam di satu tempat. Terkadang ia duduk di lantai semen di hadapanku, di lain waktu ia berpindah ke samping Akong dan duduk di kursi rotan di sebelah kursi tinggi ayahnya. Tak betah di sana, ia akan berpindah lagi ke dekat ayahku sebelum akhirnya diusir Papa karena mengeluarkan suara kentut nyaring. (more…)

Judi Kodok-Kodok
February 7, 2016


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 07 Februari 2016)

Judi Kodok-Kodok ilustrasi Bagus

Judi Kodok-Kodok ilustrasi Bagus

DULU saat aku masih kecil, di kampung kami semua orang bisa bermain judi dengan bebas dan riang di teras rumah, pekarangan, bahkan di pinggir jalan, tanpa harus takut diciduk polisi atau sekadar diganggu tentara yang datang meminta uang dengan pongah. Tidak seperti sekarang, mesti sembunyi-sembunyi di sepetak kamar pengap atau di balik kandang babi; yang ujung-ujungnya jika ketahuan dan digerebek, perkaranya tetaplah juga uang!

Itu hanya bisa terjadi pada masa-masa Paman A Nam masih hidup dan berjaya sebagai juragan lada, tauke beras, dan pemilik dua buah toko kelontong besar di pasar, sekaligus bandar togel Singapura. Para anak buahnya—ai, semacam pegawai tak resmi yang jika tertangkap haruslah bung kam—enjoy berkeliaran dari rumah ke rumah dengan pulpen dan kupon putih. Jumlahnya mungkin ada puluhan: tua-muda, laki-perempuan, sampai gadis-gadis remaja. Layaknya para sales panci, siang-malam mereka menjajakan angka dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun bermotor. Sebagian hingga ke kampung-kampung lain di sekitar, termasuk perkampungan Melayu. (more…)

Kenangan pada Sebuah Pertandingan
July 5, 2015


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Media Indonesia, 5 Juli 2015)

Kenangan pada Sebuah Pertandingan ilustrasi Pata Areadi

LAPANGAN yang tak adil, kata Aswin. Bek kanan yang tangguh, tapi mudah terpancing emosi. Ia tidak membenarkan, tak juga menyangkal. Pemain lawan juga sering mengeluh jika bertanding di lapangan sepak bola kampungnya itu. Kesebelasan yang mendapat giliran menempati sisi lapangan yang landai mesti berjuang lebih keras. Bola bakal bergulir lebih liar dan lawan menyerbu seperti air bah. Setiap kali bola datang, Aswadi kiper timnya, terpontang-panting mengamankan gawang. Sebaliknya, alangkah sulitnya menggiring si kulit bundar ke gawang sebelah. (more…)

Sunat
June 21, 2015


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 21 Juni 2015)

Sunat ilustrasi Jawa Pos

PERCAYAKAH Anda? Kalau di kampung halamanku, khitan atau yang lebih kerap kita sebut sunat, tak hanya membuat anak-anak Melayu menjelang akil baliq menangis ketakutan setiap kali mendengarnya, tetapi juga anak-anak Tionghoa. Ya, kendati mereka mungkin tak bakal mengalaminya.

Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana ceritanya, sunat bisa menjadi semacam momok bagi anak-anak Tionghoa. Yang kutahu sejak aku masih kecil, kata itu memang sudah jadi ancaman yang kerap kali terlontar dari mulut orangtua kami. (more…)

Thung Se
March 9, 2014


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 9 Maret 2014)

Thung Se ilustrasi Bagus

SEBAGIAN orang menganggap mendiang ayahku sebagai orang yang beruntung karena terpilih sebagai perantara dewa. Sebagian yang lain masih mengenangnya sebagai orang baik yang ringan tangan. Bahkan sampai sekarang –dan ini menurutku keterlaluan– masih saja ada yang menganggap beliau sebagai orang sakti!

”Kalau bukan karena A Fui (begitulah semasa hidupnya ayah akrab disapa) atas petunjuk dewa yang memintaku mengubah arah pintu dapurku, mungkin sampai sekarang aku masih hidup melarat…“ Atau, ”Dokter sudah menyerah dengan ngilu di punggungku, tapi A Fui hanya menyuruhku menabur beras dan garam di sudut kamar.“  (more…)

Makam Seekor Kuda
February 10, 2013


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 10 Febuari 2013)

 

“INI makam seekor kuda,” kuingat jawaban ibuku ketika aku pertama kali menanyakan perihal makam yang terletak di tengah-tengah kota kecamatan kecil kami itu—tepatnya di samping kantor lurah yang bermuka-muka dengan rumah dinas camat. Itu kurang lebih dua puluh lima tahun silam dan aku masih duduk di sekolah dasar. (more…)