Archive for the ‘Sungging Raga’ Category

Nalea
September 18, 2016


Cerpen Sungging Raga (Kompas, 18 September 2016)

nalea-ilustrasi-hery-sudiono

Nalea ilustrasi Hery Sudiono

Tidurlah, Nalea. Esok kita abadi.

***

Gadis kecil itu memucat, bibirnya membiru karena dingin. Hujan belum juga reda sejak sore tadi. Jalanan basah dan sebagiannya menampakkan genangan pekat seperti menandakan begitu kelamnya kehidupan kota ini.

“Ini, pakai jaket,” kata ayahnya. Lelaki itu menyentuh kening Nalea, dan memang terasa hangat. “Sepertinya kamu masuk angin.”

Mereka sedang berteduh di etalase toko. Kemilau basah lampu-lampu jalan, papan reklame, juga sorot mobil dan motor, semua adalah cahaya yang menyelingi udara dingin di sekujur kota. (more…)

Advertisements

Satu Hari di Awal Musim Semi
February 7, 2016


Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 07 Februari 2016)

 

Suatu Hari di Awal Musim Semi ilustrasi Pata Areadi

Suatu Hari di Awal Musim Semi ilustrasi Pata Areadi

GADIS itu sedang mengamati deretan bunga Peony yang berbaris di halaman kuil ketika seorang lelaki muda menyentuh pundaknya.

Sore itu adalah awal musim semi, setelah bulan-bulan dengan suhu setajam jarum es, kini bunga-bunga mulai bermekaran, kuncup bunga Peony adalah yang pertama menarik perhatian gadis itu.

“Aku membayangkan mereka berbaris menyambut keberuntungan tahun baru. Kelopaknya lebar dan berdesakan.” (more…)

Sepertiga Malam Terakhir
September 21, 2014


Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 21 September 2014)

Sepertiga Malam Terakhir ilustrasi Pata Areadi

DI sepertiga malam terakhir itu, Dirminto masih duduk di belakang rumahnya. Ia sedang termenung memandangi langit. “Benarkah Tuhan turun di saat-saat seperti ini?”

Sambil mengisap rokoknya,Dirminto memperhatikan rembulan yang gersang, yang kadang dilewati awan tipis, tapi kemudian lengang kembali. Di sekeliling rembulan ada bintang-bintang yang pendiam, sebagian berkedip, sebagian lagi bersinar cukup terang. Lelaki itu lantas melangkah masuk ke rumahnya yang sempit, istrinya ternyata sudah bangun, sibuk melipat baju-baju. Sementara itu, dua anak gadisnya masih terlelap di atas tikar, Manisha yang berusia empat tahun, dan Nalea tujuh tahun. (more…)

Bidadari Serayu
April 6, 2014


Cerpen Sungging Raga (Kompas, 6 April 2014)

Bidadari Serayu 6 April 2014

DI sungai Serayu, pada suatu pagi tahun 1886, ditemukan sesosok mayat lelaki mengambang, tubuhnya tersangkut di salah satu besi penyangga bendungan. Lelaki itu adalah Salimen, yang sejak malam sebelumnya dinyatakan menghilang dari rumah.

Alkisah, beberapa saat setelah kejadian tersebut, warga mulai berkumpul…

”Ini sudah mayat keempat belas di Serayu.”

”Mengerikan.”

”Bahkan Salimen yang tidak pernah macam-macam pun ikut jadi korban!”

Tak seperti penemuan mayat-mayat sebelumnya di mana warga segera mengangkat mayat itu dari sungai, kini mereka hanya berdiri di tepian, melihat dengan raut yang ketakutan.  (more…)

Cartesia
May 19, 2013


Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 19 Mei 2013)

Cartesia ilustrasi Pata Areadi

SIAPAKAH yang berani mengganggu hantu terbang Flying Britishman di Stasiun Kingscote yang sudah tak digunakan sejak puluhan tahun lalu itu?

Suasana remang selalu tampak setiap kali Stasiun Kingscote dipandang dari arah perbukitan Turners Hill. Konon, sudah lama stasiun itu menjadi tempat persemayaman makhluk halus. Dalam radius 2 kilometer dari stasiun, selalu terdengar suara dengung kereta api, hiruk-pikuk penumpang, gelak tawa, obrolan-obrolan dengan bahasa yang tak dimengerti. (more…)

Sebatang Pohon di Loftus Road
April 14, 2013


Cerpen Sungging Raga (Kompas, 14 April 2013)

Sebatang Pohon di Loftus Road ilustrasi Sandi Jaya Saputra

BAGAIMANA kau membayangkan seorang wanita yang menjelma sebatang pohon, hidup selama puluhan tahun, dan tak pernah kembali menjadi manusia?

Konon, seringkali ada wanita yang menjelma pohon di sepanjang Loftus Road, sebuah jalan yang di kanan-kirinya dipenuhi baris pepohonan seperti hutan buatan, jalan itu terus memanjang ke arah barat, menuju matahari terbenam. Pohon-pohon itulah, entah siapa yang memulainya, kemudian dicurigai dan diyakini sebagai jelmaan manusia. (more…)