Archive for the ‘Sunaryono Basuki Ks.’ Category

Golok Berdarah di Tanganku
December 2, 2012


Cerpen Sunaryono Basuki Ks (Jawa Pos, 2 Desember 2012)

Golok Berdarah di Tanganku ilustrasi Budiono

TIBA-TIBA golok berdarah itu sudah berada di tanganku. Aku tidak tahu dari mana datangnya, namun orang-orang menunjuk ke arahku dan mulai bergerak setelah terdengar teriakan:

“Itu jambretnya! Tangkap!” (more…)

Advertisements

Siapakah yang Menyuruh Kita Memukul Lesung?
June 27, 2011


Cerpen Sunaryono Basuki Ks (Suara Merdeka, 19 Juni 2011)

SIAPAKAH yang menyuruh kita memukul lesung saat terjadi gerhana dan meneriakkan kata-kata yang tak masuk akal?

Mengapa tidak meneriakkan, “Gerhana! Gerhana!” Orang-orang malahan memukul lesung. Kata mereka, untuk mengusir raksasa agar tidak jadi menelan bulan. Berapa besarkah raksasa itu sampai mampu menelan bulan yang demikian besar? Pastilah raksasa itu lebih besar dari besar bumi ini. Alangkah banyak yang disantap sehari-hari atau kalau raksasa hanya makan sebulan sekali, alangkah banyak makanan yang harus disantap? Apa dia juga harus mengisap air sungai atau danau untuk melepaskan dahaga? Mustahil ia mau minum air laut yang pasti akan membuatnya lebih dahaga, sebagaimana para nelayan yang terayun-ayun gelombang laut berhari-hari tetap akan berupaya mencari air tawar untuk melepas dahaga. Air laut akan menambah dahaga. Tenggorokannya terasa kering. (more…)

Lilin
June 7, 2011


Cerpen Sunaryono Basuki Ks. (Jawa Pos, 5 Juni 2011)

“Tersebab aku mustahil jadi matahari

Atau cahaya purnama muram,

Jadikanlah aku sebatang lilin,

Yang kemerlap dalam gelap”

 .

“BERTINDAKLAH seperti lilin, menerangi gelap di sekitar kita.” Itu kata Mbah Tahal Karyoutomo, ayah kandung ayahku. Tentu saja aku tidak mendengar langsung kata-kata Mbah Tahal atau Eyang Tahal atau Eyang Kakung, sebut apa saja. Bagiku sama saja. Anak-anakku menyebut kakek dan neneknya Mbah Kakung dan Mbah Putri, disingkat Akung dan Uti. Cucu-cucuku pun juga menyebut kami Akung dan Uti, tidak pernah menyebutnya dengan lengkap apakah Eyang atau Mbah. Apa bedanya? Kata sebagian orang, eyang lebih terhormat daripada mbah, tetapi ukuran apa yang dipakai? Aku menyadari bahwa aku hanyalah keturunan rakyat jelata. (more…)

Sebuah Pura di Air Terjun Gitgit
February 28, 2010


Cerpen Sunaryono Basuki Ks. (Jawa Pos, 28 Februari 2010)

Om Sang Hyang Pramasti Adi Guru. Byoh Angadeg ring luhur tan kening lupute

GUSTI Madi Agung menuntun lelaki botak berambut penuh uban yang berjalan tertatih-tatih itu setelah dia turun dari motornya. Lelaki itu dituntunnya masuk ke rumah berdekorasi China dengan warna merah yang dominan.

Seorang gadis cilik, mungkin berusia lima tahun, yang sedang sibuk membantu kakeknya menata kotak-kotak obat menyapa, “Silakan masuk.” Maksudnya masuk terus ke ruang belakang. (more…)