Archive for the ‘Sori Siregar’ Category

Senjata
March 13, 2016


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 13 Maret 2016)

Senjata ilustrasi Made Somadita

Senjata ilustrasi Made Somadita

Gerson berkali-kali memperingatkan Iros. Duduk di samping jendela dengan wajah yang kelihatan dari luar adalah mengundang bahaya fatal. Jendela double glazing tidak berarti tidak tembus peluru. Jendela berkaca ganda ini hanya untuk mengusir suara bising dan udara dingin.

Iros paham akan peringatan Gerson. Di negeri ini, orang dapat membunuh siapa saja tanpa alasan. Para pembunuh itu bukan mantan GI yang bertaruh nyawa dalam perang Vietnam. Tapi orang-orang sakit yang ingin menyembuhkan penyakitnya dengan membunuh. Korban yang tumbang telah terlalu banyak. Tidak berkurang dari tahun ke tahun. (more…)

Advertisements

Syukuran
April 13, 2014


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 13 April 2014)

Syukuran ilustrasi 13 April 2014

SETELAH aku baca, undangan itu kulemparkan ke meja di depanku. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil keputusan, tidak akan memenuhi undangan itu. Ini tak dapat ditawar karena merupakan keputusan final. Tidak akan.

Tidak ada yang salah sebenarnya jika untuk memasuki rumah baru Dilan mengadakan upacara selamatan atau syukuran. Tapi mengaitkannya dengan pembebasan Darmola terlalu mengada-ada. Aku mengenal Dilan selama dua puluh tahun. Sebagai pegawai negeri sipil, kejujurannya mengagumkanku. Ia menabung bertahun-tahun untuk membayar sebagian uang muka rumah jenis T-70. Pembayaran cicilan juga akan dilakukannya bertahun-tahun.  (more…)

Fordesia
September 1, 2013


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 1 September 2013)

Fordesia ilustrasi Mangku Wayan Bawa

DI kegelapan Fordesia ini menjadi lampu yang membawa terang. Namun, ketika memecahkan masalah yang konkret Fordesia berfungsi sebagai puisi yang mengantarkan pembacanya kepada yang abstrak dan gulita. Ada orang yang mengatakan begitu. Benarkah?

Ketika seorang laki-laki muda masuk ke sebuah apotek dan menyodorkan selembar kertas kepada perempuan yang bertugas di apotek itu, petugas apotek berkata:

”Kami tidak menjual obat ini lagi. Yang tersedia di sini hanya obat lain yang fungsinya sama. Harganya tidak mahal. Hanya setengah harga obat yang tertulis di kertas ini.”  (more…)

Muammar Memilih Jalan Sendiri
October 19, 2012


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 14 Oktober 2012)

MALAM telah merangkak jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik di luar. Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam menjelang pagi itu ia tetap terjaga.

Risiko seperti ini tidak pernah terbayangkannya dua puluh tahun lalu. Ia, istrinya, Maryam, dan putranya, Muammar, datang ke negeri yang jauh ini untuk memulai kontrak kerjanya dengan sebuah lembaga pemerintah. Ketika itu Muammar baru berusia dua tahun. Adiknya, Fatur, lahir di negeri yang jauh ini dua tahun kemudian, disusul oleh Fayed dua tahun setelah itu. (more…)

Kimpul
November 21, 2011


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 20 November 2011)

AWAN hitam merangkak pelan. Awan seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat tak lama lagi hujan akan mencurah deras. Curah hujan belakangan ini memang tinggi. Banjir dan genangan air kemudian menyusul di beberapa tempat. (more…)

Pilihan Sastri Handayani
June 27, 2011


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 19 Juni 2011)

BEGITU Sastri selesai membaca berita dan keluar dari studio, Barbara juga keluar dari cubicle—ruang operator tempat Barbara sebagai produser mengawasi karyawan yang bertugas menyiar—dan menyambut Sastri dengan tersenyum. (more…)