Archive for the ‘Satmoko Budi Santoso’ Category

Badut
August 14, 2016


Cerpen Satmoko Budi Santoso (Media Indonesia, 14 Agustus 2016)

Badut ilustrasi Pata Areadi

Badut ilustrasi Pata Areadi

SEPULUH tahun sudah Fahri menjalani kehidupannya sebagai badut di sebuah kelompok sirkus keliling. Dari kota ke kota Fahri dan kelompoknya setia mengais rejeki. Banyak orang mengenal nama Fahri karena kelompok sirkus itu juga kerap muncul di koran. Formasi para pemainnya, nama dan perannya, tentu saja diingat baik, lekat di hati masyarakat. Tentu juga, banyak aksi dalam sirkus keliling itu yang ditunggu-tunggu. Ada atraksi menegangkan antara orang dan harimau. Orang dan ular. Orang dan gajah. Orang dan lingkaran api, dan sebagainya.

Namun, diam-diam, di antara semua atraksi menegangkan itu, yang paling ditunggu adalah aksi Fahri. Aksi Fahri selalu mengundang gelak tawa. Memang, ia akan selalu beraksi sebagai pemecah suasana tegang, setelah atraksi-atraksi sebelumnya yang sungguh mendebarkan. (more…)

Peci Ayah
August 31, 2014


Cerpen Satmoko Budi Santoso (Media Indonesia, 31 Agustus 2014)

Peci Ayah ilustrasi Pata Areadi

KAKEK selalu mengenakan peci. Kapan pun, di mana pun. Peci kesayangannya tak pernah lepas dari kepala. Bahkan hingga ia jatuh tertidur, peci itu bisa saja nangkring menutupi wajahnya, hingga dapat menyaring suara ngorok yang keluar dari mulutnya. Sebagai cucunya, sesekali saya iseng membuat kakek kelimpungan. Satu-satunya peci miliknya, dan hanya seminggu sekali dicuci itu, beberapa kali sengaja saya sembunyikan. Kalau sudah begitu, keributan akan terjadi. Karena ada banyak cucu, merekalah yang kemudian menjadi sasaran tuduhan. (more…)

Di Persimpangan di Perbatasan
March 17, 2013


Cerpen Satmoko Budi Santoso (Suara Merdeka, 17 Maret 2013)

Di Persimpangan di Perbatasan ilustrasi Putut Wahyu Widodo

SETIAP ada persimpangan jalan, orang Jawa bisa menyebutnya pertigaan, perempatan, atau perlimaan, sesuai berapa simpangan atau silangan jalan yang ada, saya berhenti cukup lama. Saya bisa berhenti cukup lama karena ke mana-mana saya memang hanya memilih mengendarai sepeda. Dengan begitu, ketika pas lampu pengatur jalan menunjukkan hijau, misalnya, saya justru bisa malah berhenti. Sebab karena bersepeda, posisi saya toh hanya di pinggiran jalan. Tentu, kebiasaan semacam itu akan cukup sulit saya lakukan jika saya mengendarai mobil. Sebenarnya, saya mampu memiliki mobil atau motor. Tetapi, sudah cukup lama kebiasaan saya pergi ke mana-mana memanglah hanya bersepeda. Boleh dikata, sudah puluhan tahun. (more…)