Archive for the ‘Sanie B. Kuncoro’ Category

Kolong Meja
May 26, 2013


Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 26 Mei 2013)

Kolong Meja ilustrasi Budiono

RUMAHMU hening. Hening itu seakan menempatkanmu pada sebuah lorong panjang tak berpangkal, entah berujung. Menumbuhkan kesendirian yang senyap dalam dirimu. Tidak ada ragam suara yang kerap membuatmu merasa bising. Kau sadari kini bahwa suara itu tidak sekadar membawa berisik sebenarnya, melainkan penanda kehidupan. Bahwa kau tidak sendirian melainkan ada sesuatu atau seseorang yang berada dekat dan menemanimu.

Pesawat televisi di sudut itu, yang sering kau kutuk dalam keluhan perlahan, oleh karena tak berhenti menyala dan menyita terlalu banyak perhatian seluruh penghuni rumah sehingga seolah membuatmu terabaikan, kini bisu sama sekali. Bisu semacam itu hanya mungkin terjadi kalau ada pemadaman listrik, yang saat datangnya tidak selalu seperti keinginanmu. Aliran listrik tidak padam hari itu. Namun bisunya televisi tidak ingin kau syukuri, meskipun sungguh kau tahu bahwa itu demi untukmu. Demi membuatmu “tenteram”. Lebih tepatnya tidak menambah gelisah hati dan pikiranmu. Kau hela napasmu. Berat terasa di dada saat udara terembus. Bukan, bukan karena paru-parumu mulai rapuh, bukan pula karena pekatnya polusi udara di sekitar, melainkan karena risau dan kesedihan yang mengubah banyak hal menjadi beban pada pikiranmu.  (more…)

Advertisements

Tiang Garam
December 23, 2012


Cerpen Sanie B Kuncoro (Suara Merdeka, 23 Desember 2012)

Tiang Garam ilustrasi Hery Purnomo

KAULAH perempuan tak bernama itu. Pada kitab suci Perjanjian Lama sepanjang lebih dari seribu halaman yang terbangun dari 39 kitab, bermula dari kitab Kejadian hingga kitab terakhir Nabi Maleakhi, tak tersedia tempat bagi sebaris huruf namamu. Kau hanya dikenal sebagai istri Lot, yatim-piatu yang cucu Terah dan keponakan Abraham itu. Kisahmu hanya tercatat satu pasal pada kitab Kejadian. Pada pasal ke-19 yang terdiri dari 38 ayat itu, kau bahkan hanya tercantum dalam 3 ayat. (more…)

Gumading Peksi Kundur
November 18, 2012


Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 18 November 2012)

Gumading Peksi Kundur ilustrasi Jawa Pos

LAKI-LAKI itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi matahari masih tersisa di sekitarmu. Debu tipis melekat pada reranting dan dedaunan. Saat angin menghampiri, akan kau dengar gemerisik dedaunan yang seolah membisikkan dahaganya kepadamu. Tak hendak kau abaikan bisikan itu, namun kunjungan seorang tamu di beranda rumah tentulah harus dipedulikan terlebih dahulu. Siraman air untuk mereka haruslah menunggu. (more…)

Kredit Janda
January 5, 2012


Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 1 Januari 2012)

 

PAGI datang. Cahaya matahari bergegas mengeringkan basah embun sisa semalam. Helai-helai daun yang lembab bergetar lembut pada reranting penumbuhnya, seolah siap bersegera menyerap sinar matahari sebagai menu sarapan untuk akar dan batang pohon. Serupa denganmu yang memantik api demi mematangkan hidangan sarapan.

Kau tambahkan sebilah kayu bakar pada lubang di antara potongan bata yang tersusun sebagai tungku. Segera api membesar, bertambah daya panasnya untuk mendidihkan sepanci air yang terjerang di atasnya. Kau lepas simpul karung beras, harus kau cuci beras itu dengan segera sebelum air mendidih. Namun gerak sigapmu terhenti, bayang tubuh kecil anakmu di ambang pintu dapur seketika membuatmu membeku. (more…)

Kembang Pepaya
August 17, 2011


Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 14 Agustus 2011)

KAU berdiri di bawah cahaya lampu mercuri. Semburat warna kuningnya, menyiramkan terang pada tubuhmu seutuhnya. Maka berpasang-pasang mata yang melintas di jalan itu niscaya akan menangkap sosokmu. Entah menatapmu dengan sungguh sejak di kejauhan, mungkin mengalihkan pandang dengan segera,  atau mengabaikan dan bahkan menganggapmu seolah tak ada. (more…)

Tradisi Telur Merah
March 28, 2011


Cerpen Sanie B. Kuncoro (Kompas, 27 Maret 2011)

KAU tak hendak menghitung. Namun, tahun-tahun yang melintas itu setiap kali mengucapkan salamnya kepadamu. Seolah pamit sembari menerakan jejak yang melekat di dinding ingatanmu.

Nyaris sembilan tahun terlalui. Belum satu dasawarsa, tetapi bukan rentang waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Berapa lama lagi? Masihkah tersisa ketabahan untuk menjalani rentang masa yang tak terkira itu? (more…)

Randu Alas
January 24, 2011


Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 23 Januari 2011)

KAU terbangun pagi itu oleh nada dering telepon yang seolah memanggilmu dengan tergesa. Matamu belum sepenuhnya terbuka, masih terperangkap kantuk yang belum ingin melepaskanmu.

Wuk [1], apakah pulang pekan ini?” Itu suara bulikmu. Bernada tanya sekaligus menyimpan perintah di sebaliknya, yang biasanya tidak memberikan peluang bagimu untuk membantah apalagi menolak. (more…)