Archive for the ‘S. Prasetyo Utomo’ Category

Kehidupan di Dasar Telaga
February 12, 2017


Cerpen S Prasetyo Utomo (Kompas, 12 Februari 2017)

kehidupan-di-dasar-telaga-ilustrasi-polenk-rediasa-kompas

Kehidupan di Dasar Telaga ilustrasi Polenk Rediasa/Kompas

APA aku mesti jadi Sobrah?” kelakar Arum, perempuan setengah baya itu, sebelum ia menaiki anak tangga untuk mencapai bibir perahu bermesin. Arum memandangi Suman, lelaki setengah baya, teman seperjalanannya dari kota. Lelaki itu masih berdiri di tepi telaga, terdiam. Cekatan lelaki setengah baya itu menaiki anak tangga, memijak papan dasar perahu. Duduk di bangku kayu, berdampingan dengan Arum, Suman merasakan guncangan agak menyentak saat tukang perahu—yang sudah memutih rambutnya, tetapi masih kekar—menghidupkan mesin. Lambat, perahu bercat biru tua itu mengarungi telaga. Tak ada perahu lain. Lelaki setengah baya itu berseloroh dalam hati: apa salahnya melakukan sobrah? (more…)

Advertisements

Pertunjukan Hari Ketujuh
January 22, 2017


Cerpen S. Prasetyo Utomo (Jawa Pos, 22 Januari 2017)

pertunjukan-hari-ketujuh-ilustrasi-bagus-hariyadi-jawa-pos

Pertunjukan Hari Ketujuh ilustrasi Bagus Hariyadi/Jawa Pos

INI hari ketujuh Kodrat dan orang-orang lembah Gunung Bokong menggelar pertunjukan di luar pagar istana negara, menanti presiden berkenan menghampiri mereka. Tetapi mungkinkah presiden berkenan keluar dari istana negara, menemui mereka, dan bertanya, “Mengapa Saudara menggelar pertunjukan di tempat ini?”

Kodrat ingin mengatakan semuanya kepada presiden bahwa pabrik semen yang didirikan di lembah Gunung Bokong merusak alam di daerah kapur itu, mematikan mata air, dan menghancurkan bumi tempat mereka bertani. Ia, mewakili kehendak warga, menyampaikan pesan agar pabrik semen itu segera ditutup. (more…)

Bayangan di Bawah Pohon Kersen
September 4, 2016


Cerpen S. Prasetyo Utomo (Jawa Pos, 04 September 2016)

Bayangan di Bawah Pohon Kersen iluatrasi Bagus

Bayangan di Bawah Pohon Kersen iluatrasi Bagus

RUMAH kayu yang menaungi kenyamanan Wulan, gadis matang yang menanti lamaran jejaka, dijual ibu. Telah beberapa bulan ibu meninggalkan ayah, Wulan dan Lintang. Ibu menghilang, membawa serta sertifikat rumah dan tanah—atas namanya. Tanpa sepengetahuan siapa pun rumah kayu dijual ibu pada seorang pengusaha. Hampir senja ketika Wulan melihat ayah terhenyak, pucat, dan gemetar saat didatangi seorang pengusaha yang mengusirnya untuk segera mengosongkan rumah. Ayah memandangi setiap sudut ruang: dapur, kamar-kamar, ruang makan, pendapa, teras, dan pelataran.

Di sudut kanan pelataran berdiri condong ke jalan pohon kersen, dengan daun-daun rimbun yang senantiasa luruh, tersebar, berserakan setiap angin berpusar kencang. Berguguran pula buah-buah kersen, ranum, bulat mungil, merah, dirontokkan codot-codot semalam. Di bawah pohon kersen itulah ari-ari (plasenta) Wulan ditanam ayah, 22 tahun silam, ketika bulan purnama. Di sisi lain tertanam pula ari-ari Lintang, adik perempuan Wulan, ketika bintang-bintang gemerlapan di langit. (more…)

Kiriman Seutai Bunga Anggrek
July 10, 2016


Cerpen S Prasetyo Utomo (Media Indonesia, 10 Juli 2016)

Kiriman Seuntai Bunga Anggrek ilustrasi Pata Areadi

Kiriman Seuntai Bunga Anggrek ilustrasi Pata Areadi

SEUNTAI bunga anggrek ungu tergeletak di meja teras. Zahra dan Aryo, pengantin baru, tak memperhatikan bunga-bunga segar berembun itu. Kupu-kupu menyingkap kabut tipis pagi di antara bunga-bunga anggrek ungu yang tumbuh di pelataran rumah. Pengantin baru itu duduk berdampingan, termangu-mangu di teras. Mencecap teh. Mereka berdiam diri. Tiba saatnya mereka turun ke kota, meninggalkan Umi, kembali bekerja. Mereka tak menemukan kata-kata untuk berpamitan pada Umi. Tak tega meninggalkan Umi. Tapi mereka juga ingin menempati rumah sendiri. Rumah di pinggir kota, tak jauh dari tempat kerja mereka. Di rumah itu Zahra, sebagai dokter, berketetapan hati membuka praktik sore, menolong orang-orang yang memerlukan pengobatan.

Umi mendekat dengan wajah menahan rasa kehilangan. Tersenyum. Duduk di teras, menghadap meja bundar dengan sekuntum bunga anggrek ungu di atasnya. “Kalau kalian akan menempati rumah sendiri, berangkatlah siang nanti. Biar Umi tetap merawat rumah ini, menjaga toko dan mengolah kebun bunga, sambil menunggu Abah pulang. Suatu saat nanti pasti Abah berhenti mengembara, kembali ke rumah.” (more…)

Delapan Kuda Putih Berpacu
April 3, 2016


Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 03 April 2016)

Delapan Kuda Putih Berpacu ilustrasi Hery Purnomo

Delapan Kuda Putih Berpacu ilustrasi Hery Purnomo

TAK pernah dipikirkan Aryo sebelumnya, bila Zahra, calon istrinya, seorang dokter, menolak menempati rumah baru. Aryo membeli sebuah rumah di kota baru—kawasan yang dibangun sejak lima belas tahun silam, dengan menebang hutan karet. Semula ia berharap Zahra akan bahagia bisa membuka ruang praktik di rumah. Tapi Zahra menolak. Zahra ingin memiliki rumah di kampung, di antara orang-orang papa agar bisa membantu mengobati mereka.

Memasuki kawasan kota baru, Aryo selalu terpana dengan sebuah tugu bertiang delapan, dikelilingi air mancur, di taman yang membelah jalan. Di ujung jalan menuju perumahan, patung delapan kuda putih berpacu didirikan di taman yang rimbun pohon trembesi. Kuda-kuda yang gagah, mengangkat kaki muka, berpacu, tanpa kereta, tanpa pangeran dan dewa yang menungganginya. (more…)

Getar Rel Kereta Api
February 15, 2015


Cerpen S Prasetyo Utomo (Republika, 15 Februari 2015)

Getar Rel Kereta Api ilustrasi Rendra Purnama

Getar Rel Kereta Api ilustrasi Rendra Purnama

Gemuruh rel kereta api di kejauhan itu seperti mengguncang Abah untuk meninggalkan rumah. Abah kelihatan gelisah. Memandang Abah termenung di ruang tamu, ia kehilangan setengah ruhnya. Wajahnya memucat.

Umi tak tega memandanginya. Secangkir kopi di meja bundar itu telah lama dingin, cuma dipandangi Abah. Rokok yang disulutnya tak pernah diisap, merapuh sebagai abu. Abah seperti kayu lapuk, yang dalam sekali sentak akan luruh—terhambur sebagai debu. “Sudahlah,” kata Umi, “tak perlu disesali. Kau tak terpilih dan kukira ini memang takdir kita.” (more…)

Tarian Membakar Diri
May 11, 2014


Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 11 Mei 2014)

Tarian Membakar Diri ilustrasi Farid

DALAM hati Ratu bertanya: mengapa mesti bimbang menarikan Sinta membakar diri di Teater Fujian? Telah berhari-hari, sebelum berangkat ke Fuzhou, Ratu melatih kelenturan tubuh di sanggarnya untuk bisa menarikan Sinta: antara keputusasaan dan harapan, antara pasrah dan menggugat Rama. Berpakaian serbaputih, gerakan tubuh gadis itu menyuarakan kepedihan hati perempuan suci yang mencebur dalam kobaran api. Ratu menepis rasa terasing, menari di panggung Teater Fujian, diiringi gamelan, membawakan tarian Sinta yang mesti membakar diri di hadapan penonton sebuah negeri yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia memerankan tarian seorang putri yang tersia-siakan, dengan gerak tubuh yang menyimpan kemarahan terpendam.  (more…)