Archive for the ‘Romi Zarman’ Category

Jalak di Punggung Kerbau
October 14, 2011


Cerpen Romi Zarman (Koran Tempo, 9 Oktober 2011)

SAYA tak percaya pada awalnya. Bagaimana mungkin seekor kerbau dengan tubuh yang tampak lebih besar daripada rumah tiba-tiba hadir di tengah kota? Lihatlah. Di sana, di dalam pagar itu, tubuhnya terlihat jelas. Tanduknya melengkung runcing dengan kepala menunduk ke bawah. Ia tampak begitu asyik memamah rumput untuk mengisi perut. Sampai-sampai, saya yang berdiri di dekat pagar tak terlihat olehnya. Akan tetapi, itu lebih baik. Karena kalau sampai ia menyadari kehadiran saya, tentu ia akan melangkah keluar pagar. Sungguh tak terbayangkan bila kerbau sebesar itu menerpa tubuh saya. (more…)

Advertisements

Bunga Merah
August 1, 2011


Cerpen Romi Zarman (Koran Tempo, 24 Juli 2011)

“RUNI ingin jadi bunga. Runi ingin jadi bunga.”

“Kenapa?”

“Karena Runi suka warnanya.”

“Oh ya?”

“Ya.”

“Akan tetapi,” kata kakaknya, “buat apa jadi bunga bila kelopak menggugurkannya?” (more…)

Ulat Bulu
April 24, 2011


Cerpen Romi Zarman (Koran Tempo, 24 April 2011)

BEGITU keluar dari gedung Perwakilan Rakyat ini, aku langsung teringat pada Tigris. Gadis kecil dengan seraut senyum akan menyambutku di depan pintu. “Ayah pulang, Bu. Ayah pulang.” (more…)

Babi
October 18, 2010


Cerpen Romi Zarman (Koran Tempo, 17 Oktober 2010)

“DASAR babi!”

“Dasar babi?”

Saya tak mengerti: kenapa ucapan itu terdengar lirih. Bukankah ia hendak memaki saya? Kenapa ia tak berani lantang? Beberapa detik saya pikirkan. Ah, mungkin karena ia sudah terlalu lelah. Berjam-jam ia memeriksa saya. Sejak kemarin lusa, ini pemeriksaan kali kedua. Tapi sampai sekarang ia belum juga mendapatkan apa-apa. (more…)

Tentang Sebatang Jambu yang Tumbuh di Perut Suami Saya
August 15, 2010


Cerpen Romi Zarman (Suara Merdeka, 15 Agustus 2010)

UNTUK kali ketiga, anak saya kembali menangis. Saya sudah membujuknya. Tapi ia tetap tak mau. Ia minta dicarikan jambu. Bukan jambu yang ada di pasar, tapi jambu yang langsung dari batang. Seperti yang pernah dibawakan ayahnya, tiga hari yang lalu. Saya sudah berusaha mencarinya, ke sekeliling rumah. Tapi tetap tak ada batang jambu. Semua ini gara-gara dinihari itu. Waktu itu suami saya pulang, membawa jambu biji di tangan. Katanya, ia mendapatkan langsung dari batang. Anak saya langsung memakan. Enak sekali, katanya. Saya pun ikut menikmati, bersama suami. (more…)

Tentang Binatang Peliharaan Saya
May 9, 2010


Cerpen Romi Zarman (Koran Tempo, 9 Mei 2010)

SAYA tak tahu harus berbuat apa. Sejak binatang peliharaan saya dilepaskan oleh istri saya, saya lebih banyak bermenung ketimbang biasanya. Seperti kali ini, saya duduk di beranda, memikirkan burung buta yang pernah saya pelihara. Kenapa istri saya melepaskannya? (more…)

Jam
February 7, 2010


Cerpen Romi Zarman (Koran Tempo, 7 Februari 2010)

RUANG tunggu itu berdinding putih. Dua foto tergantung dengan gambar Garuda di atasnya. Seperti di kantor lain, dua foto yang dipisahkan oleh gambar Garuda itu tersenyum ke arah saya. Hening. Tak ada suara. Saya alihkan pandang ke arah Pak Tua. Saya lihat ia, duduk menghadap ke arah dinding kaca. Lalu, dengan pura-pura bergumam, saya berkata, “Sofa yang empuk.” (more…)