Archive for the ‘Risda Nur Widia’ Category

Rinjani: Pada Suatu Hari yang Malas
October 16, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 16 Oktober 2016)

rinjani-pada-suatu-hari-yang-malas-ilustrasi-hery-purnomo-suara-merdeka

Rinjani Pada Suatu Hari yang Malas ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Pada masa tuanya waktu seakan berjalan malas. Detak jam ikut-ikutan lesu memutar momentum di tubuh waktu. Bahkan rasa lambat diperparah dengan suasana ruangan tak terawat. Terlalu banyak debu yang menelingkupi perabotan rumah; menyaput ganas guci-guci mungil, piring dan gelas hias, patung-patung kurcaci yang terbuat dari kaca; yang membeku di etalase tua. Apabila kau melirik ke arah timur ruangan 5×6 itu, terdapat kalender usang yang telah lima tahun tak diganti.

Selain pemadangan muram itu, ada satu ruangan yang masih terlihat hidup: serambi rumah. Reva memiliki serambi yang tak terlalu besar. Hanya berukuran 2×3. Dan terdapat bunga melati, sedap malam, serta bonsai. Ruangan itu sedikit redup karena terhalangi rindang pohon akasia berusia 30 tahun. Di serambi, Reva sering duduk menghabiskan waktunya di kursi goyang yang terbuat dari rotan. Kursi yang mengelurkan decit lembut dan menghadirkan kantuk. Di sana Reva duduk menekur; menerawang sesuatu dengan sepasang mata yang mirip gundu. (more…)

Advertisements

Hitler dan Neraka yang Dibuatnya
July 31, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Jawa Pos, 31 Juli 2016)

Hitler dan Neraka yang Dibuatnya ilustrasi Bagus

Hitler dan Neraka yang Dibuatnya ilustrasi Bagus

INILAH kematian paling indah yang terjadi pada peradaban manusia. Tangisan. Kepala pecah diterjang peluru. Darah menyemburat seperti percik petasan tahun baru di langit-langit kota. Bilik-bilik rumah kayu tenggelam dalam abu kehancuran musim dingin di bulan Desember. Dan kau terjebak sebagai seorang Wehrmacht [1] dalam drama kematian ini. Tidak ada lagi doa yang pantas dijabarkan untuk menyelamatkan semua kehancuran ini. Bahkan para serdadu menganggap bahwa: Tuhan sudah enggan ikut campur dalam pertempuran penghabisan di Stalingrad.

Peperangan ini telah merenggut banyak nyawa. Mungkin juga kematian ini sudah dituliskan di almanak waktu, dan musim dingin di Stalingrad, kota Stalin, Volga, adalah saksi ketika kesedihan menggumpal; meresap, menjadikannya serpihan-serpihan udara hingga gugur bersama salju. Untuk membayangkannya kau tidak sanggup. 200 ribu lebih serdadu terbaik Jerman bertempur sia-sia. Bahkan seperti boneka kau berjejal bersama puluhan serdadu di gorong-gorong yang dibuat untuk menghalau musuh di sepanjang Sungai Don, di sisi utara Volga; sekaligus menjadi pemakaman bagi tubuh-tubuh itu bila sewaktu-waktu ajal merenggut nyawa. Di tengah gempuran peluru ratusan Red Army [2], Rusia, yang mengepung sisi lain sungai, kau melihat wajah-wajah murung. (more…)

Kisah Cinta yang Dungu
April 24, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 24 April 2016)

Kisah Cinta yang Dungu ilustrasi Rendra Purnama

Kisah Cinta yang Dungu ilustrasi Rendra Purnama

Gerimis baru saja reda. Senja tersaput mendung yang murung. Orang-orang bergegas dengan terburu: berlalu lalang dengan wajah panik memasuki ruang tunggu kereta di stasiun Tugu. Aroma perpisahan mengendap di setiap sudut stasiun.

Pun ditambah deru mesin kereta yang siap bergegas pergi: membuat seorang seolah terjebak pada keterbatasan ruang dan jarak untuk saling menyapa. Saling bertemu. Begitu pula dengan aku dan kau. Hari ini kita bagai ikut merayakan perpisahan di stasiun Tugu. Kita saling berpegang tangan: tidak mau telepas dan berpisah dari pertemuan terakhir yang sentimentil ini. (more…)

Kereta Pengantar Roh
February 21, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 21 Februari 2016)

Kereta Pengantar Roh ilustrasi Rendra Purnama

Kereta Pengantar Roh ilustrasi Rendra Purnama

Kereta melaju di bawah hujan dengan menyeret gerbong-gerbong tua yang seolah padat berisi kesedihan. Lantang tubuh kereta menerjang rinai air yang tak pernah putus sejak berangkat dari stasiun kota. Suasana kelabu menyingkap langit. Kemuning padi tenggelam pada kelam; terabadikan pada gurat lanskap lukisan alam yang murung.
Mataku pun menangkap kilas-kilas bayang itu dengan pasrah: asing.

Bayangan hujan di luar kusen jendela hadir bagai sebuah layar televisi; menghidangkan begitu banyak kilas perjalanan yang muram. Dua biji mataku menangkap potongan-potongan film lama: wajah bulat dan tatapan beningmu; menyingkapku ke dalam nostalgia yang begitu purba. Aku seketika membayangkan senyummu yang merekah di waktu itu; di suatu perpisahan yang sebenarnya juga tak pernah kita harapkan. (more…)

Filosofi Rumah
January 24, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 24 Januari 2016)

Filosofi Rumah ilustrasi Rendra Purnama

Filosofi Rumah ilustrasi Rendra Purnama

Waktu cepat tergelincir ketika ia mulai merancang sebuah rumah yang kelak akan ditinggalinya bersama sang istri. Sebuah tempat yang dapat membuatnya memiliki alasan untuk pulang; tinggal di dalam dan menghabiskan masa tua hingga malaikat maut mengetuk pintu rumah; menjemput pada batas waktu yang telah ditentukan. Maka, sebelum semua itu terjadi, ia tidak ingin serampangan merancang sebuah rumah. Karena, selain nyaman untuk ditinggali, rumah baginya juga harus mampu menyimpan seluruh harap sepanjang hidup. (more…)

Sekantong Wajah
January 17, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 17 Januari 2016)

Sekantong Wajah ilustrasi Farid

Sekantong Wajah ilustrasi Farid

Ada lima wajah terbungkus plastik di atas meja. Semuanya berbeda. Baru. Wajah-wajah itu terlihat rupawan; menguarakan karisma dan kesantunan seorang alim ulama yang sering Tarno tonton di televisi. Sekilas juga mirip seorang kiai terkenal yang menjadi panutan setiap orang. Tarno mengamati wajah-wajah di dalam plastik; melihat kelima wajah yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Ia harus lekas memilih satu dari kelima wajah untuk mengganti wajah lamanya saat ini; menanggalkan dirinya yang lama, menjadi sosok yang baru. (more…)

Pohon Langit
October 11, 2015


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 11 Oktober 2015)

Pohon Langit ilustrasi Rendra Purnama

Pohon Langit ilustrasi Rendra Purnama

Sudah puluhan hari kabut menutup desa kecil itu. Asap tebal itu berasal dari sisa pembakaran pohon-pohon—yang dibabat secara liar—selama berbulan-bulan. Petak-petak hutan menjadi gundul. Kehidupan benar-benar bagai mimpi buruk mengerikan yang menampilkan wajah bopeng penuh luka di setiap sisi: tanah gersang, kekeringan, dan kurangnya sumber pangan. Penyakit berbiak dengan subur di antara penduduk. Kematian bisa setiap saat datang menjemput: mengetuk pintu lantas merenggut nyawa pemilik rumah tanpa permisi. (more…)