Archive for the ‘Rio Johan’ Category

Lucas
June 23, 2013


Cerpen Rio Johan (Suara Merdeka, 23 Juni 2013)

 Lucas ilustrasi Putut Wahyu Widodo

AKU selalu merasa Lucas lebih dari sekadar kakakku. Lucas bahkan lebih penting daripada Papa atau Mama. Aku tidak bisa menemukan sebutan yang tepat buat Lucas, yang jelas aku selalu merasa Lucas lebih dari sekadar kakakku.

Tentu saja aku tidak sedang beromong kosong tentang Lucas. Sepanjang ingatanku yang belum genap 10 tahun, Lucas seorang diri yang senantiasa mengasuh dan mengurusiku, bukan Mama apalagi Papa. Lucas selalu ada buatku. Ketika aku mengompol tengah malam, Lucas sudi menolongku membersihkan badan dan tempat tidur kami -di rumah sempit dan kumuh kami, aku tidur sekamar dan seranjang dengan Lucas. Sesungguhnya aku malu, terlebih karena aku laki-laki dan badanku juga sudah mulai tinggi. Untungnya Lucas tidak pernah murka, bahkan ketika basah pipisku merembesi celana tidurnya. Dia cuma akan memberiku nasihat, lantas kami tidur lagi.  (more…)

Advertisements

Aksara Amananunna
January 27, 2013


Cerpen Rio Johan (Suara Merdeka, 27 Januari 2013)

Aksara Amananunna ilustrasi Toto

BERBULAN-BULAN setelah Tuhan mengacaukan bahasa, Amananunna belum pula menemukan bahasanya. Pemuda yatim piatu itu bagai punya kutuk dalam garis kismatnya. Berminggu-minggu dihabiskannya mengelilingi kaki ziggurat Raja Nimrod yang jadi biang amuk Tuhan, menajamkan telinga dan bersusah-payah menangkap bebunyian yang datang dari mulut-mulut manusia sekitar. Tidak satu pun bunyi yang dia mengerti. Lidah yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda sama sekali. Seringnya yang dia tangkap cuma suara-suara asing yang coraknya tak bisa dia kenali apalagi rumuskan. Semuanya seperti bunyi kacau yang justru menganggu ketimbang mampu dimengertinya. Kesal, dia menendang basis ziggurat yang jadi perlambangan hubrisitas Raja Nimrod itu. (more…)