Archive for the ‘Rilda A.Oe. Taneko’ Category

“Madonna and Child”
July 16, 2016


Cerpen Rilda A.Oe. Taneko (Koran Tempo, 16-17 Juli 2016)

Madonna and Child ilustrasi Munzir Fadly

“Madonna and Child” ilustrasi Munzir Fadly

LANA mengerjapkan mata. Ruang yang sepenuhnya putih. Dinding, lemari, meja dan lampu berdiri. Langit-langit yang tinggi. Dia tidak berada di kamarnya sendiri. (Dinding kamarnya dicat warna magnolia. Satu temboknya dipenuhi stiker dekorasi: sebuah pohon, beberapa burung, dan selarik kalimat puitik. Langit-langitnya rendah.)

Dia di Bygdoy Alle.

Mereka tiba senja kemarin. Dari Manchester ke Gardamoen, mereka menumpang pesawat SAS. Lalu Flytoget, kereta ekspres bandara, mengantar mereka sampai ke stasiun Nationaltheatret.

Bygdoy Alle terletak tak jauh dari stasiun itu.

Apartemen yang mereka tempati terletak di dekat Nasjonalbiblioteket, dengan dua kamar dan sebuah ruang terbuka untuk dapur, ruang duduk dan ruang makan. Setibanya di apartemen, sebelum membuka koper, Lana langsung pergi berbelanja di Kiwi. (more…)

Advertisements

Kawan Keluarga
April 24, 2016


Cerpen Rilda A Oe Taneko (Media Indonesia, 24 April 2016)

Kawan Keluarga ilustrasi Reza Pratmoko

Kawan Keluarga ilustrasi Reza Pratmoko

DAVE datang lagi. Untuk yang ketiga kalinya dalam bulan ini. Ketika ia masuk ke rumah, dibawanya pula salju dan udara dingin dari luar. Minus satu sore itu.

“Jika tidak keberatan, boleh kau tutup pintu?” tanya Wibi.

Dave menutup pintu. Ia melepas sarung tangan, kemudian memasukkannya ke kantong mantel. Topi dijejalkannya ke kantong satunya lagi. Ia membuka mantel dan menggantungnya di kaitan yang terletak di samping rak sepatu. Beberapa serbuk salju yang menempel di mantelnya jatuh ke lantai keramik khas zaman Victoria, meninggalkan bercak air di beberapa tempat. (more…)

Seekor Capung Merah
May 25, 2014


Cerpen Rilda A. Oe. Taneko (Media Indonesia, 25 Mei 2014)

Seekor Capung Merah ilustrasi Pata Areadi

TIRAI bambu melindungiku dari hangat mentari yang mulai terbenam. Aku berdiri di beranda rumahnya Rumi,  tetangga sebelah rumahku, dan memanggil-manggil namanya. Di samping tirai bambu, sebuah lonceng angin berkelening.

Rumi muncul dari balik pintu kawat nyamuk. Wajahnya ditutupi bedak putih. Dia menyukai itu. Dia selalu menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak tebal setelah mandi sore.

“Datanglah ke lapangan denganku,” pintaku.  (more…)

Penghuni Swan Yard
May 18, 2014


Cerpen Rilda A.Oe. Taneko (Koran Tempo, 18 Mei 2014)

Penghuni Swan Yard ilustrasi Munzir Fadly

Welcome to our house!

It isn’t usually as messy as today.

 It’s worse!

 

KALIMAT itu tertera pada lempengan kayu cemara yang digantung di dinding dekat pintu utama rumah, bersebelahan dengan sebuah salib kayu. Makelar mempersilakan mereka masuk. Makelar itu mewakili sebuah agen perumahan yang tidak terkenal di Lancaster. Ia seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun, berwajah sangat muda dan polos, bulu matanya panjang-lentik dan matanya hijau. Ia terlihat seperti kanak-kanak. Ditambah dengan tubuhnya yang mungil, menurut Els, makelar itu serupa kurcaci. Els membisikkan hal ini pada San, suaminya, namun San lekas meletakkan jari telunjuk di bibirnya.  (more…)

Joseph dan Sam
February 16, 2014


Cerpen Rilda A.Oe. Taneko (Koran Tempo, 16 Februari 2014)

Joseph dan Sam ilustrasi Yudha AF

”TAHUKAH kamu di mana orangtua kami?“ anak itu bertanya.

Dan pertanyaan semacam itu, baginya, adalah pertanyaan paling menyedihkan yang bisa dilontarkan oleh seorang anak kecil.

***

Buzzer kembali berdering. Ini untuk kali kedua. Kali pertama, anak itu membangunkan ia dari lelap yang baru saja akan nyenyak. Ia kembali melempar selimut dan berusaha bangkit dari tempat tidur. Kepalanya masih berat dan demam belum mau pergi dari tubuhnya. Terhuyung-huyung ia berjalan ke lorong rumah dan mengangkat gagang buzzer.   (more…)

Dongeng Peri
February 17, 2013


Cerpen Rilda A.Oe Taneko (Media Indonesia, 17 Februari 2013)

Dongeng Peri ilustrasi Pata Areadi

PINTU

Pintu telah dibuka. Engsel tuanya berderit menyayat. Sebuah pintu kayu, padat dan tebal, dicat merah dengan dekorasi cor cetakan besi legam berbentuk sulur tanaman jalar, yang seakan mencengkeram. Pintu yang tinggi besar, sekokoh, dan seraksasa ayah. (more…)