Archive for the ‘Rifan Nazhif’ Category

Haji Moraldin
November 7, 2012


Cerpen Rifan Nazhif (Republika, 28 Oktober 2012)

ENTAHLAH! Terkadang orang tak memedulikan arti namanya sendiri. Di lain pihak, ada yang merasa namanya kurang keren. Tapi bagi lelaki itu, nama yang dia sandang terasa berat.

Moral. Itulah namanya. Dari kecil hingga dewasa, memang dia acuh tak acuh dengan nama itu. Setelah menikah dan memiliki dua anak, kemudian berangkat haji, barulah dia merasa-rasa ada yang tak beres dengan nama itu. Apakah dia memang sudah sangat bermoral sehingga layak dipanggil Moral? Apakah dia memang sudah menjadi hamba yang takwa sehingga berhak dipanggil haji? (more…)

Advertisements

Nek Sirih
July 7, 2012


Cerpen Rifan Nazhif (Suara Merdeka, 10 Juni 2012)

MAHMUNAH mengurut satu demi satu jari tangannya, seolah menghitung dan takut salah satu jarinya hilang. Dia menatap silau atap seng warung yang berjejer di hadapannya.

Sesiang ini belum ada seorang pembeli pun yang singgah di lapak dagangan Mahmunah. Bergulung lembaran sirih, daun gambir, pasta gambir, pinang muda yang telah dibelah-belah kecil, ibarat barang tak berguna saja. (more…)

Surat Tanah
February 28, 2012


Cerpen Rifan Nazhif  (Republika, 26 Februari 2012)

DARAHKU mendidih. Tubuhku gemetar. Terasa sekali pandanganku berkunang-kunang. Andaikan aku tengah berdiri, kemungkinan besar tinjuku langsung melayang ke wajah lelaki itu. Kali ini aku memang tengah duduk menunggu azan Maghrib dan sudah mengambil air wudhu. Percuma aku meladeninya sekarang kalau akhirnya wudhuku bakalan batal. Lagi pula, Maghrib-Maghrib tak baik mengumbar amarah. Kuelus dada, mencoba menurunkan tensi darah. (more…)

Tangan
December 31, 2010


Cerpen Rifan Nazhif (Republika, 26 Desember  2010)

SUDAH beberapa hari ini tanganku sering sulit diangkat. Apalagi untuk diayun-ayunkan. Aku sudah mendatangi Mantri Amak. Tapi, jawaban darinya tak ada yang salah di tubuhku. Dia hanya memberikan aku obat tidur. Menurut mantri, aku hanya kelelahan. (more…)

Gerobak Bakso
June 6, 2010


Cerpen Rifan Nazhif  (Republika, 6 Juni 2010)

Gerobak Bakso ilustrasi Rendra

SUARA itu menggema lagi memukul-mukul lorong hatiku. Tapi, aku masih saja terus berdiri di sini. Lumayan, pembeli lagi mengantre. Kalau aku pergi demi memenuhi kehendak suara itu, aku akan kehilangan banyak pembeli. Mereka mungkin merasa disepelekan, kemudian mendendam untuk tak singgah lagi di gerobak baksoku. Lagi pula kasihan, mereka sedang kelaparan. Mereka hanya memiliki waktu sempit di sela jeda kantor atau toko tempat mereka bekerja demi mengganjal perut dengan menikmati baksoku yang kata orang terkenal superlezat. (more…)