Archive for the ‘Raudal Tanjung Banua’ Category

Sebelas Orang Gila di Kotaku
February 12, 2017


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 12 Februari 2017)

sebelas-orang-gila-di-kotaku-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Sebelas Orang Gila di Kotaku ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

SEMALAM akubermimpi kedatangan seorang lelaki dengan rambut habis dicukur. Sisi rambutnya yang rapi hingga cambang di pipi tampak berkilat diminyaki, tak berbau, barangkali ia memakai minyak kemiri atau zaitun. Si lelaki tersenyum. Meski merasa cukup akrab dengan senyuman itu, sesungguhnya aku tak mengingat apa pun. Sampai ia menepuk pundakku dan berkata, “Terima kasih, Sampeyan telah mencukur dan memberi kami pakaian. Teruslah mencukur dan memberi pakaian, mudah-mudahan keburukan-keburukan Sampeyan juga terpangkas dan apa yang Sampeyan kenakan tak mudah tersingkap.” (more…)

Advertisements

Cerita Kecil tentang Jalan Masa Kecilku
August 27, 2016


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 27-28 Agustus 2016)

cerita-kecil-tentang-jalan-masa-kecilku-ilustrasi-munzir-fadly

Cerita Kecil tentang Jalan Masa Kecilku ilustrasi Munzir Fadly

HUBUNGAN apakah yang terjalin antara seseorang dengan sebuah jalan? Aku mencoba memahaminya, dan tahu bahwa jalinan itu menjangkau ruang batin yang teramat dalam. Kadang, hanya dengan membayangkan seruas jalan, ingatan kita akan terhantar ke banyak nama dan peristiwa. Karena itu, aku tak heran dengan tindakan seorang saudaraku yang baru bertugas di Jakarta. Suatu kali saat melintas di Terminal Rawamangun, mendadak ia putuskan membeli tiket bus jurusan Sumatera. Ia masih berpakaian dinas waktu itu—baju-celana loreng. Akibatnya, baru mencecahkan pantat di kursi rumah—setelah dua hari dua malam di kursi bus—si komandan meneleponnya, minta dia segera balik ke Jakarta!

“Terasa ada yang menarikku naik Gumarang, entah apa. Setiap lewat Rawamangun perasaan itu muncul, dan kulawan. Tapi aku tak tahan lagi. Melihat bus Sumatera masuk-keluar terminal, jalan di depan rumah ini terbayang terus,” ia menceritakan kepulangannya yang tak biasa itu, dan menyatakan siap menghadap komandan. (more…)

Cerita Laskar Merah dan Hilangnya Pesawat Terbang di Kampungku
June 11, 2016


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 11-12 Juni 2016)

Cerita Laskar Merah dan Hilangnya Pesawat Terbang di Kampungku ilustrasi Munzir Fadly

Cerita Laskar Merah dan Hilangnya Pesawat Terbang di Kampungku ilustrasi Munzir Fadly

HARI ketika pesawat Merpati Nusantara Airlines dengan registrasi PK-MVS hilang-lenyap dalam penerbangan Jakarta-Padang, diingat orang kampungku sebagai hari penuh kemalangan bagi Kutar bin Katidin. Pada hari itu, dua gigi Kutar nyaris tanggal, pipinya bengkak, betisnya lebam, dan celana kolornya ditarik paksa hingga membuat pantatnya berdarah seperti dicakar harimau tua. Itu semua karena pengakuan Kutar bahwa ia mendengar suara desing teramat kencang ketika ia bekerja di tengah ladang. Hanya saja ia berada di bawah rimbunan kulit manis sehingga tak bisa memastikan suara apakah gerangan, tapi ia duga itu suara benda besar yang menukik dari ketinggian, lalu angslup ke sebalik Bukit Timbulun, nun di hulu Sungai Manggis. (more…)

Wasiat Kematian Ben Anderson kepada Seorang Pengamen Jalanan di Jogja
May 8, 2016


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 08 Mei 2016)

Wasiat Kematian Ben Anderson kepada Seorang Pengamen Jalanan di Jogja ilustrasi Bagus

Wasiat Kematian Ben Anderson kepada Seorang Pengamen Jalanan di Jogja ilustrasi Bagus

TIGA bulan setelah kematian Benedict Richard O’Gorman Anderson di Batu, dan jasadnya sempat di semayamkan di Surabaya, barulah Palrus mengetahuinya dari selembar koran bekas yang ia pungut untuk membungkus sepatu. Laki-laki ceking yang berprofesi sebagai pengamen jalanan itu tercekat membaca berita singkat di halaman dua koran lokal tersebut. Ia yakinkan dirinya bahwa foto laki-laki bule berangkat tua tapi dengan sorot mata tajam itu benar Om Ben, orang yang pernah ia temani keliling Jogja.

Pelan ia lipat koran itu, urung ia gunakan membungkus sepatu. Kekagetannya mendapat berita hari itu—yang sangat terlambat!—sama kagetnya dengan ketika ia secara cepat menerima kedatangan Si Bule beberapa tahun lalu. Kalau tidak salah pertengahan 2008. Jika pertemuan merupakan awal pertemanannya, maka kabar kematian adalah akhir segalanya. (more…)

Kota Rawa
May 25, 2014


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 25 Mei 2014)

Kota Rawa ilustrasi Bagus

DI dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak.

Entah kenapa, ia meletakkan khayalku di antara malaikat dan kurcaci. Nomor tiga. Kita bisa saja menghitungnya dari Merkurius, di mana bumi memang terletak di urutan ketiga dari matahari. Tapi sejak bertahun-tahun lalu, orang-orang dari negara maju menganggap dunia ketiga itu identik dengan kemiskinan, dunia sedang berkembang. Jadi antara sebutan dan kenyataan bisa berbeda, kadang tak terduga.  (more…)

Kue Ramadan, Kue Lebaran, Kue-Kue dalam Kaleng
August 4, 2013


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Media Indonesia, 4 Agustus 2013)

Kue Ramadan, Kue Lebaran, Kue-Kue dalam Kaleng ilustrasi Pata Areadi

RAMADAN dan Lebaran kali ini membuat Kudal larut mengenang. Ya, mengenang hari baik bulan baik dari aroma manisan dan rempah. Hijau daun pisang. Singkong diparut. Bambu yang ditebang. Ibu dan adik sibuk di dapur. Semua melintas dalam ingatan, mengendap di indra penciuman. Tapi tidak di lidahnya. Tentu saja karena sudah lama ia tak pulang. Jika sekarang ia pulang, tak lain kue-kue masa kecil itulah yang membawanya datang lebih awal. Selain menghindari padatnya arus mudik, tiket yang sulit, dan calo gentayangan, alhamdulillah, juga lantaran pekerjaannya selesai lebih cepat.  (more…)