Archive for the ‘Ratih Kumala’ Category

Pacar Putri Duyung
August 24, 2014


Cerpen Ratih Kumala (Media Indonesia, 24 Agustus 2014)

Pacar Putri Duyung ilustrasi

TAK ada yang mencintai laut melebihi laki-laki itu. Hari itu, seperti kemarin-kemarin juga, Gede duduk di tepi laut, membiarkan tubuhnya diterpa sinar matahari, hingga mengubah kulitnya menjadi kecokelatan, rambut hitamnya menjadi kemerahan. Sepasang kaca mata hitam yang mencantol di hidungnya, membuat ia lebih nyaman memandang jauh ke samudra. Ia sedang menunggu ombak. Jika ombak yang dinantinya tak datang selama beberapa saat, ia akan melinting ganja, dan setengah jam sekali ia akan terus-menerus mengisapnya hingga kepalanya serasa berputar. Putaran di kepalanya itu mengingatkan ia pada wave tube. Saat ombak bergulung-gulung dan ia berselancar mengejar pipa ombak yang memanjang. Sering, jika sudah terlalu banyak ganja, matanya akan memerah. Kacamatanya akan berfungsi menutupi mata merah itu. Ia akan terlihat setengah mengantuk, tapi penglihatannya justru makin jelas dan tajam. (more…)

Advertisements

Bau Laut
February 9, 2014


Cerpen Ratih Kumala (Media Indonesia, 9 Februari 2014)

Bau Laut ilustrasi Pata Areadi

KETIKA lelaki itu pulang dari melaut, ia menemuiku. Kupikir ia sudah mati ditelan laut.Tubuhnya legam. Air asin dan matahari telah memanggang kulitnya. Rambutnya kemerahan. Matanya menyipit dan cekung. Aku melihat ceruk ketakutan di situ, sekaligus sejuta perlawanan. Aku memang tidak mengerti laut, meski sepanjang umur aku hidup di tepi laut.Aku tidak paham apa yang mesti ditakuti di laut yang tak ada apa-apa selain ikan, air, dan matahari. Mungkin karena tidak ada apa-apanya itulah ia menjadi takut.

Namanya Mencar, anak nelayan yang menjadi dewasa di dalam kapal. Sejak dia kecil, ayahnya telah membawanya ke laut. Dia bisa melihat ikan dari kejauhan, matanya tajam dan awas. Hingga dewasa, dia terus bertugas memberi tahu awak kapal di mana mereka bisa menemukan gerombolan ikan untuk ditangkap. Dia akan naik ke tiang kapal, bergelantungan serupa layar, dan berteriak dengan semangat sambil menunjuk ke satu titik.  (more…)