Archive for the ‘Randu Wangi’ Category

Skarf
September 1, 2012


Cerpen Desi Puspitasari (Koran Tempo, 26 Agustus 2012)

SILVIE masuk dan meletakkan tas dengan wajah muram. Ia melepas jaket dan melipatnya menjadi semacam buntalan lalu menyoroknya masuk ke dalam almari. Ia mengganti sepatu kets dengan sepatu bertumit lima senti. Matanya melirik ke arah jam dinding. Lima belas menit lagi pukul tiga sore. Ia membetulkan sekali lagi kemeja dan rok spannya. Memeriksa riasan di wajah. Ketika membubuhkan beberapa tepuk bedak di wajah, ia melihat seseorang dari cermin kotak bedak. Ia menoleh. “Mau apa kau?” (more…)

Advertisements

Heute Herbst
November 21, 2011


Cerpen Desi Puspitasari (Koran Tempo, 20 November 2011)

BEL yang digantung di pintu berkelinting.

“Menjelang musim dingin yang beku!”

Katja Heinenmann menaikkan kacamata tuanya. Ia melihat Klaus, salah satu profesor tua sekaligus pelanggannya yang setia, melepas mantel. Laki-laki itu baru pulang dari kampus tempatnya mengajar. (more…)

Ayahmu Mati
October 17, 2011


Cerpen Desi Puspitasari (Jawa Pos, 16 Oktober 2011)

AKU sedang merencanakan pembunuhan terhadap ayahku. Laki-laki itu baru saja berteriak padaku—dan aku balas berteriak padanya. Tidak ada yang salah menurutku, bagian berteriak. Seperti hukum fisika—ada aksi, akan ada reaksi bukan? Aku adalah seorang manusia, punya hati, punya perasaan, dan punya luka. (more…)

“La Vie”
March 28, 2011


Cerpen Randu Wangi (Koran Tempo, 27 Maret 2011)

“INGIN mati.”

“Pagi, Ange,” Tristan menyapa dengan nada biasa. Terlalu sering ia mendengar kalimat yang sama. Kalimat favorit Angelie. Tristan tidak lagi ambil pusing dan cemas. Pura-pura saja tidak mendengar. Tidak menanggapi. (more…)