Archive for the ‘Rama Dira J’ Category

Apresiasi (sebagian) Pembaca dan Sekelumit Cerita di Balik “Kucing Kiyoko”
November 21, 2011


Oleh Rama Dira

“SAYA menyukai film-film karya Alejandro Inarritu (Babel, Biutiful). Menurut saya, cerita-cerita Rama Dira adalah versi tertulis dari karya-karya Inarritu yang kelam, tragis, dan mengaduk-ngaduk perasaan namun penuh permenungan. Anda menyukai Inarritu? Bacalah Kucing Kiyoko.” (Lukman al-Hakim, Fotografer, Samarinda) (more…)

Advertisements

Rindu di Penghujung Petang
March 28, 2011


Cerpen Rama Dira (Suara Merdeka, 27 Maret 2011)

DI pengujung petang itu, lidah-lidah api jingga berkeretap liar, memangsa cepat sejengkal demi sejengkal badan kapal dongfeng berbahan kayu milik Hosni Mubaroq. Dari kejauhan, orang-orang pulau yang bergegas mendekat belum bisa memastikan apakah juragan ikan itu ada dalam dongfeng yang tengah sandar di dermaga itu. (more…)

Tulang Belulang
January 9, 2011


Cerpen Rama Dira (Kompas, 9 Januari 2011)

KINI, kemana pun pergi, tulang belulang anaknya itu selalu ia bawa.

Semuanya bermula dari kematian sang istri. Nyawa perempuan itu habis di tangan sendiri. Ia terjun bebas dari lantai dua belas. Pikiran sehatnya tandas setelah mendapati perutnya semakin membesar, berisi benih majikannya. Pada akhirnya, perempuan itu pulang dari negeri yang jauh dengan kondisi yang tak manusiawi, dalam sebuah peti mati murahan. (more…)

Sesungguhnya Dia Sangat Cemas
August 2, 2010


Cerpen Rama Dira J. dan Benny Arnas (Jawa Pos, 1 Agustus 2010)

MESKI malam telah sempurna, perempuan itu masih saja termenung di mulut pintu. Ia tak bisa tidur. Kebimbangannya menggunung. Adik-adiknya telah sedari tadi dibekap mimpi. Pikirannya berlari-lari, berputar-putar, sampai akhirnya bermuara pada seorang lelaki yang sehabis magrib tadi turun melaut bersama beberapa kawan. (more…)

Verkooper Kompas
March 21, 2010


Cerpen Rama Dira J (Jawa Pos, 21 Maret 2010)


MULANYA Nicholas de Travenier datang dari Nederland sebagai penembak artileri dalam pasukan perang. Keahliannya dalam melukis, membuatnya beralih pekerjaan menjadi seniman setelah Gubenur Jenderal yang terpesona pada goresan kuasnya dalam suatu kunjungan ke tangsi, meminta Nicholas dengan hormat untuk menjadi pelukis resmi VOC. Selanjutnya, Nicholas mendapatkan perlakukan istimewa dari sang Gubernur Jenderal yang memiliki kecintaan yang luar biasa pada seni lukis itu. Ia bahkan meminta Nicholas tinggal di Kastil Batavia, kompleks kediamannya, menempati salah satu kamar di lantai bawah. (more…)