Archive for the ‘Putu Wijaya’ Category

Sejarah
September 25, 2016


Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 25 September 2016)

sejarah-ilustrasi-jeihan-sukmantoro

Sejarah ilustrasi Jeihan Sukmantoro

1.

Ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum aku lahir. Aku ingin berenang, tenggelam dalam sejarah. Agar aku tahu arah yang benar dalam meneruskan langkah.

Sejarahku mentok, berhenti sebelum aku lahir. Jadi biar pun sejarahku ngelotok, sampai tahu berapa ekor nyamuk sudah terbunuh dalam kamar ini, aku tetap saja buta ke masa lalu. Maka terus-terang sejarahku tidak afdol. Dan itu membuat panca inderaku cacat. Timpang.

Mataku, kupingku, mulutku, alat peraba, penciuman, terutama perasaanku tidak komplit. Semua yang tertangkap jadi tidak bulat, lengkap, tuntas, tapi hanya sebagian-sebagian. Bahkan celakanya, tak jelas, itu sebagian besar atau sebagian kecil? (more…)

Advertisements

Petisi
July 17, 2016


Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 17 Juli 2016)

Petisi ilustrasi Sheka Anindya

Petisi ilustrasi Sheka Anindya

Seorang lelaki setengah baya mendesak bertemu Amat. “Saya mau mengadukan nasib saya, Pak Amat. Saya dipecat dari pekerjaan saya. Apakah itu adil?”

Amat terkejut. Bukan karena dia ditanya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui dari orang yang tak dia kenal, tetapi, “kenapa orang itu memilih Bapak untuk dilempari curhatnya,” sambat Amat pada istrinya setelah orang itu pergi.

“Mungkin atas nasihat para tetangga kita, Pak!”

“Tapi Bapak kan bukan aktivis pergerakan buruh? Bukan pemimpin buruh, bukan anggota serikat buruh. Juga bukan pengamat sosial? Dengar-dengar sih, orang itu entah sudah dipecat atau akan dipecat, karena banyak bolos dengan alasan kerja adat.” (more…)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua
June 26, 2016


Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani (Kompas, 26 Juni 2016)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya. (more…)

PROTES
November 23, 2014


Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 23 November 2013)

Protes ilustrasi Sunaryo

Orang kaya di ujung jalan itu jadi bahan gunjingan. Masyarakat gelisah. Pasalnya, ia mau membangun gedung tiga puluh lantai.

Ia sudah membeli puluhan hektar rumah dan lahan penduduk di sekitarnya. Di samping apartemen, rencananya akan ada hotel, pusat perbelanjaan, lapangan parkir, pertokoan, kolam renang, bioskop, warnet, kelab malam, dan kafe musik. (more…)

Keadilan
October 18, 2012


Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 7 Oktober 2012)

ADA suatu masa, ada saat banyak pedagang es pudeng dari Jawa berkeliaran di Bali. Mereka memakai kostum yang menarik dengan topi-topi kerucut, gendongan es puter mereka desainnya cantik. Gelas-gelas kaca atau plastik ala koktail bergantungan dengan pudeng berwarna-warni. Kalau mereka lewat anak-anak selalu memburunya. Kadang-kadang tidak untuk membeli, tetapi untuk mengerumuninya. Pak Amat termasuk salah satu di antara anak-anak itu. Tanpa merasa malu, ia ikut berebutan untuk membeli es pudeng puter dan merasakan suasana cerianya. Bu Amat sampai malu melihat kelakuan suaminya seperti itu. (more…)

Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata
July 24, 2011


Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 17 Juli 2011)

 (Buat GM)

AKU menunggu setengah jam sampai toko bunga itu buka. Tapi satu jam kemudian aku belum berhasil memilih. Tak ada yang mantap. Penjaga toko itu sampai bosan menyapa dan memujikan dagangannya. (more…)