Archive for the ‘Putu Oka Sukanta’ Category

Kaos Hitam, Payung Hitam
March 26, 2017


Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 26 Maret 2017)

Kaos Hitam, Payung Hitam ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg

Kaos Hitam, Payung Hitam ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

TERIK membakar kota. Beberapa gumpalan awan abu-abu tua tampak di langit. Perlahan bergerak, bagaikan orang tua bongkok yang memikul beban berat di punggungnya. Angin terhalang berembus. Jalan kota macet. Udara pengap. Saya sudah membuka semua jendela agar angin yang malas berlari bisa lebih cepat mengusap kulit yang basah oleh keringat. (more…)

Advertisements

Merawat Peti Ingatan
September 25, 2016


Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 25 September 2016)

merawat-peti-ingatan-ilustrasi-pata-areadi

Merawat Peti Ingatan ilustrasi Pata Areadi

SUATU hari saya menerima email dari seorang kandidat doktor sebuah universitas di ‘Negeri Kanguru’. Setelah membacanya, saya terhenyak ke perut kursi. Saya menjadi sedikit emosi, terasa ada yang berubah, suhu badan naik, dan kepala tidak nyaman. Padahal suratnya, walau agak panjang, intinya sangat sederhana. Kalau bersedia, katanya, tolong ia diperkenalkan dengan keluarga eks-Tapol 1965, terutama generasi kedua atau ketiganya. Ia yang bernama Maria S itu, akan melengkapi data lapangan tentang dampak yang dialami oleh mereka.

Saya menarik napas panjang, pikiran menerawang, hinggap, dan terbang tidak menentu di langit kehidupan. Burung-burung beterbangan, asap knalpot mencucuk hidung dan suara bising bersahut-sahutan entah dari mana datangnya. Saya merasa tertekan. Saya tidak menjawab e-mail-nya. Saya seperti mendengar kembali suara Mbak Inuk yang menuduh saya sebagai makelar, mempromosikan kesakitan, mengobok-obok luka lama menjadi pameran dunia yang tidak mendatangkan apa-apa bagi korban. Keuntungan diraup oleh pihak lain. “Mana buktinya kita diuntungkan?” suaranya serak cempreng seolah tikaman pisau di gendang telinga, sakitnya menjalar ke sekujur tubuh. (more…)

Surat untuk Ado
August 28, 2016


Cerpen Putu Oka Sukanta (Kompas, 28 Agustus 2016)

Surat untuk Ado ilustrasi Bunga Jeruk

Surat untuk Ado ilustrasi Bunga Jeruk

Ado, ini surat aku tulis sepulang dari rumahmu. Engkau telah membawa aku ke kawah kerinduan yang luka. Sisa langit kelam, desing letupan di telinga, petir cambuk api seolah tersimpan di pembuluh darah halus bola matamu yang liar seperti ketika engkau menarikan tari Baris Bali. Tidak hanya itu Ado, aku masih sempoyongan ketika meninggalkan rumahmu, sebab pukulan kata-katamu yang mengentak di pangkal sanubari. Engkau dengan ringan tanpa perasaan bersalah apalagi berdosa membuka obrolan kita dengan ucapanmu, “Saya sengaja melupakannya. Terlalu berat untuk dibawa-bawa terus. Mengingat terus masa lalu seperti dililit spiral kawat berdurinya sejarah. Saya mau membebaskan langkah untuk kehidupan yang lebih baik.” Dan engkau mengarahkan mukamu ke arahku seolah menantang.

“Ayo kamu mau bilang apa?” (more…)

Cinta Berdarah di Balik Foto
March 13, 2016


Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 13 Maret 2016)

Cinta Berdarah di Balik Foto ilustrasi Pata Areadi

Cinta Berdarah di Balik Foto ilustrasi Pata Areadi

Pita merah dan matahari

Cinta berdarah sampai mati (Agam Wispi)

 

“MADE akan benar-benar aman jika mau jadi istri Bli.”

Ni Made Sari belum menjawab. Bibi yang memperkenalkannya kepada I Ketut Danu, seorang anggota polisi, memandang tajam kepada keponakannya. Ia bisa membaca keraguan dan kekhawatiran dari pancaran bola mata Ni Made Sari. Ketiganya membisu beberapa saat. (more…)

Penjara Kedua
September 28, 2014


Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 28 September 2014)

Penjara Kedua ilustrasi Pata Areadi

APA yang akan terjadi besok? Rasanya seperti merenungi anak sungai yang bermula pada bersit mata air, menyalurkan rembesan air dari celah bukit, menyusup di celah-celah bebatuan, dan membelah hutan. Menuruni lereng, terjun ke jurang, lalu hilang. Tiba-tiba sudah bermuara di laut yang jauh. Tak terjangkau oleh perhitungan angka, juga waktu. Tak tergambarkan, tak tertangkap oleh insting-insting peradaban yang menghidupkan nalar. Begitulah saat badan sudah dikurung dalam sel penjara. (more…)