Archive for the ‘Oka Rusmini’ Category

Kekayi
February 5, 2017


Cerpen Oka Rusmini (Jawa Pos, 05 Februari 2017)

kekayi-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Kekayi ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

PEREMPUAN tua itu masih menyisakan gurat-gurat kecantikan yang tidak dimiliki perempuan-perempuan lain di negeri ini. Matanya tajam, mata seorang penari yang begitu menggoda. Jika menatapnya, lelaki pasti akan bertekuk lutut dan menghamba kepadanya. Kerlingnya bisa mematahkan hati. Lelaki paling setia pun akan tunduk, takluk, dan melupakan istri yang dicintainya.

Mata itu mampu mengatur hidupnya, sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dialah perempuan yang sadar bahwa tubuh perempuan adalah alat, tepatnya senjata mematikan! Jika perempuan mampu memainkan dengan baik dan penuh percaya diri, tubuh itu bernama: kekuasaan! (more…)

Advertisements

Palung
April 26, 2011


Cerpen Oka Rusmini (Jawa Pos, 24 April 2011)

PEREMPUAN itu mengurai rambutnya yang mulai berwarna kelabu. Cermin di depannya membuatnya selalu merasa ingin berpaling. Ya, dia ingin sekali menonton wajahnya. Membaca remah-renah yang membuat warna kerutan di wajahnya makin keras, seperli goresan garis di kanvas. Setiap garis memiliki maknanya sendiri. Semua lekuk dan kerut itu pasti memiliki cerita. Kelamkah? Ia ingin sekali mengenal dengan detail setiap wajahnya. Seperti sebuah lekuk peta. Oh, bukan. Bukan peta, mungkin lebih tepat palung. (more…)

Sipleg
April 25, 2010


Cerpen Oka Rusmini (Jawa Pos, 25 April 2010)

LUH SIPLEG nama perempuan tua itu. Perempuan kurus dengan beragam kerut-kerut tajam yang membuat takut orang yang menatapnya. Menurutku, Sipleg perempuan aneh, yang selalu memandang orang dengan mata penuh curiga. Penuh selidik, penuh tanda tanya. Kadang, dia juga seperti perempuan kebanyakan. Serba ingin tahu. Sering juga kulihat dia diam seperti batu kali. Aku menyukai gayanya yang naif itu. Bagiku, Sipleg perempuan dengan buku terbuka. Tak sembarang orang bisa membacanya. Akulah salah satu perempuan yang dibiarkan memasuki masa lalunya dengan santai. Tanpa dia pernah tahu aku telah mendapatkan cerita tentang hidupnya tanpa dipaksa. Aku juga tidak pernah merengek. (more…)