Archive for the ‘Noviana Kusumawardhani’ Category

Kota Tanpa Kata dan Airmata
March 24, 2013


Cerpen Noviana Kusumawardhani (Kompas, 24 Maret 2013)

Kota Tanpa Kata dan Airmata ilustrasi Polenk Rediasa

AWAN bergerak dengan pola yang tak beraturan. Kota ini seperti tidak asing. Warna-warna perak yang terpantul di ujung-ujung genting seperti menyisakan ingatan dari sebuah masa.

Warna perak dengan ukiran pujian para malaikat untuk yang Maha Indah secara acak berganti-ganti dengan kepul asal kendaraan deru pikuk berteriak tentang banyak hati yang sepi. Aneh. Seperti amat sangat mengenal kesunyian yang berbicara atas nama sepi dan terus berbaur bersama udara, seperti senja yang begitu akrab melahirkan ketakutan akan sunyi, dan dari jendela kereta yang baru saja berhenti tepat menjelang matahari lenyap di batas hari, kubaca lagi alasan mengapa aku begitu saja mau datang ke kota ini. (more…)

Advertisements

Pemanggil Bidadari
February 22, 2012


Cerpen Noviana Kusumawardhani (Kompas, 19 Februari 2012)

KENANGAN itu seperti kotak-kotak kardus yang berserak. Seperti saat ini ketika kumasuki desa tempat Simbah Ibu tinggal.

Batu-batu jalan setapak seperti memuntahkan kembali rindu yang tiba-tiba mencuat seperti kancing yang lepas begitu saja dari baju seragam anak sekolah. Ketika kumasuki desa itu, malam mulai merapat pada warna jingga di cakrawala. Malam yang selalu menakutkan bagi anak-anak ketika ibu mereka memberi warna hitam pada sebuah hari di mana matahari sedang penat menampakkan cahayanya. Malam pada akhirnya selalu menjadi kutukan. Tak ada satu pun yang menyukai malam di desa itu, hanya Simbah Ibulah yang selalu menyukai waktu di mana semua pekat menjadi penguasa sebuah hari dan sunyi. (more…)

Pemburu Air Mata
February 27, 2011


Cerpen Noviana Kusumawardhani (Kompas, 27 Februari 2011)

BUAT penggemar matahari, malam selalu menakutkan. Karena hanya pada malam, semua kayalan tentang iblis dan hantu memiliki tempatnya. Malam entah kenapa selalu mampu memecahkan rongga-rongga dada dan membuat denyut jantung lebih cepat. (more…)

Rongga
August 31, 2010


Cerpen Noviana Kusumawardhani (Kompas, 29 Agustus 2010)

DESA yang aneh. Saat warna merah di ujung langit, desa  itu senyap. Begitu hening dan pulas. Meski lampu-lampu mulai dinyalakan, nyaris tak ada desah keluar. Suara bisu desir angin yang berbisik di celah hutan bambu, mencekam. Batu-batu jalanan desa seperti tahu bahwa tidak seharusnya suara menjadi penguasa saat senja mulai datang, dan kesedihan tanpa terasa saling menyapa di antara awan  yang berwarna jingga. (more…)