Archive for the ‘Niduparas Erlang’ Category

Pagar Ayah
June 26, 2016


Cerpen Niduparas Erlang (Media Indonesia, 26 Juni 2016)

Pagar Ayah ilustrasi Pata Areadi

Pagar Ayah ilustrasi Pata Areadi

TANAH basah. Rintik hujan masih berdenting. Kau hanya ingin berlari ke halaman, berkecipak di rumputan, dan berputar-berjingkrak dalam hujan. Lalu, mungkin kau akan berjingkat dan berteriak di muka rumah Kaf, memanggilnya berulang-ulang, dan mengajaknya berhujan-hujan. Kau mengira Kaf akan senang. Bukankah Kaf selalu tampak semringah jika kau ajak bermain? Tentu kau pun tahu, Kaf telah menyukai rambut kucir ekor kudamu dan bedak tabur yang tak rata pada pipimu, sejak kalian pertama kali bertemu di kelas satu SD Inpres Gedebong Cau.

Tapi kau tidak beranjak ke luar. Tubuhmu sedang demam. Dan ibu tentu akan marah besar jika tahu kau masih berhujan-hujan ketika ia tidak di rumah. Kau hanya termangu di ruang tamu, dan sesekali menyibakkan gorden ungu bergambar bangau terbang itu. Menempelkan kening, hidung, dan bibirmu pada kaca jendela yang sesekali bergetar saat guntur menggelegar. Kau merasakan dingin yang menular. Berpindah dari kaca jendela ke kening, hidung, dan bibirmu yang meninggalkan bekas lucu di kaca bening itu. (more…)

Advertisements

Tarawengkal
February 21, 2011


Cerpen Niduparas Erlang (Koran Tempo, 20 Februari 2011)

TARAWENGKAL seukuran pantat gelas belimbing itu telah serupa bara kayu rambutan yang membakarnya. Merah menyala. Seperti cabe matang di pohon. Namun Durahim masih terus membolak-baliknya dengan penjepit dari pelepah kelapa yang dibelah dua, seperti ketika ia membakar terasi untuk membuat sambal. Ah, sambal. Sudah hampir seminggu Durahim tidak makan dengan sambal, meski tetap makan dengan lalapan. Hambar memang, tapi apa boleh buat. Lalapan seperti daun suraung, daun sintrong, daun jatake, jengkol yang sedang dipanennya, atau petai cina, dan sejenisnya masih dengan mudah didapatnya dari kebun sendiri. Tapi cabe? Ahai, ingatannya akan itu semua membuat selangkangan Durahim menjadi semakin perih-nyeri. Apalagi jika membayangkan gerusan setumpuk cabe dibalurkan pada sekitar kelaminnya. Panas dan perih. Barangkali, serupa-serasa dengan penyakit anyeng-anyengan yang tengah dideritanya, yang sedang diobatinya kini. (more…)