Archive for the ‘Ni Komang Ariani’ Category

Pohon Kelapa di Kebun Bibi
January 15, 2017


Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 15 Januari 2016)

pohon-kelapa-di-kebun-bibi-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Pohon Kelapa di Kebun Bibi ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

TUMPUKAN cucian piring sudah menunggu. Aku bisa menciumnya dari jarak beberapa langkah. Bahkan mungkin aku sudah merasakannya, jauh sebelum memasuki rumah. Seperti apa baunya? Sulit dijelaskan. Aku mencium sayur basi, ikan basi, ayam basi, kecap basi. Bercampur-campur sampai sulit dikenali.

Pada saat itu terngiang-ngiang kalimat bibiku, Me Man Rindi. Perempuan tinggi besar yang menghabiskan hidupnya dengan buah kelapa. (more…)

Advertisements

Telapak Kaki yang Menyimpan Surga
September 18, 2016


Cerpen Ni Komang Ariani (Jawa Pos, 18 September 2016)

telapak-kaki-yang-menyimpan-surga-ilustrasi-bagus

Telapak Kaki yang Menyimpan Surga ilustrasi Bagus

SATU harian ini aku mengelus-elus telapak kakiku. Sesekali mencoba menghadapkannya ke arah mukaku. Untuk melihat surga yang konon tersimpan di sana.

Setiap malam menjadi dingin dan kering, ia kisahkan cerita itu. Tentang surga yang tersembunyi di balik serat-serat hitam di telapak kakiku. “Di balik keburukan, selalu tersimpan kebaikan. Kebaikan tak akan hilang walaupun tersimpan di tempat yang buruk. Jangan mengeluhkan telapak kakimu yang buruk, kaki yang buruk menunjukkan kau sudah memanfaatkannya sebaik-baiknya. Untuk berbakti. Untuk menjadi perempuan yang agung.”

Mahluk yang agung. Itulah yang ia katakan tentangku. Sambil mengusap keningku yang mungkin bercahaya, ia perdengarkan lagi suaranya yang merdu di telingaku. “Segala lakumu akan membanggakan aku, atau mempermalukanku. Kalau kau meninggikan dirimu, aku pun menjadi tinggi.” Aku mendengarkan dengan takzim. Menekuri kuku-kuku kakiku yang telah panjang dan tidak terawat. (more…)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua
June 26, 2016


Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani (Kompas, 26 Juni 2016)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya. (more…)

Laki-laki tanpa Cela
September 14, 2014


Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 14 September 2014)

Laki-laki tanpa Cela ilustrasi Pata Areadi

DIA hanya memberikan saya waktu sepekan untuk berpikir. Kata-katanya selama sepekan ini begitu manis dan jernih. Pertanda bahwa itu diucapkan oleh orang yang berhati bening. Seperti dia. Laki-laki yang bagi saya, tidak punya cela sedikit pun.

Ia bicara tentang keputusan yang terpaksa dilakukannya. Ia bicara tentang seorang perempuan muda yang sedang dirundung kesusahan. Mengandung anak hasil perkosaan, dengan ayah seorang berandal yang sudah masuk penjara. (more…)

Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya
May 24, 2011


Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 22 Mei 2011)

INILAH saatnya aku menyesal telah menikahi perempuan yang tergila-gila pada idenya. Tidak cukupkah ia menjadi perempuan biasa saja, seperti aku suaminya yang merasa cukup hidup sebagai orang biasa. Seharusnya aku tahu perempuan ini akan memilih cara kematian yang indah untuk dirinya sendiri. (more…)

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara
May 30, 2010


Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 30 Mei 2010)

DEWA Made Dinaya sudah menduga di mana ia akan berakhir. Di tempat ini dengan posisi seperti ini.

Inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapapun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala dunia, ia tahu semua itu akan sia-sia belaka. Ketika kedua orangtuanya memintanya untuk meneruskan kuliahnya, Dinaya menolak mentah-mentah anjuran itu. (more…)