Archive for the ‘N Mursidi’ Category

Subuh Kesembilan
February 9, 2014


Cerpen N Mursidi (Republika, 9 Februari 2014)

Subuh Kesembilan ilustrasi Rendra Purnama

SUBUH. Mobil jip melaju kencang dari arah selatan, melintasi sebuah mushalla, lalu berhenti di tikungan jalan. Suara musik dari sound mobil memekakkan telinga. Seorang lelaki berumur 35 tahun turun dari jip, lalu berjalan dengan gontai. Jip menderu lagi dengan kencang, seperti pada Subuh yang lain, dan lelaki itu melangkah memasuki gang sempit ke arah rumahnya.  (more…)

Advertisements

Tidak Ada Seribu Kunang-kunang di Langit
August 13, 2012


Cerpen N Mursidi (Suara Merdeka,12 Agustus 2012)

BERTAHUN-TAHUN, laki-laki itu menunggu Ramadhan (tahun ini) cepat datang. Ramadhan yang akan menggenapi usianya tepat enam puluh tiga tahun dan dia merasa yakin, jika Ramadhan tahun ini, suatu peristiwa yang sudah ditunggu-tunggu lama itu akan tiba. Dia menemui ajal, selepas shalat tarawih tepat di malam Lailatul Qadar. (more…)

Mbah Kardoen
July 25, 2012


Cerpen N Mursidi (Republika, 22 Juli 2012)

MUSHOLLA itu terselip di sebuah gang kecil. Tak ada peziarah yang sempat singgah. Tak ada pengelana yang menumpang shalat, kecuali hanya beberapa orang yang tinggal di sekitar musholla. Bertahun-tahun sejak musholla itu berdiri, nyaris sepi dan hening. Tak ada shalat berjamaah di siang hari. Bangunan untuk tempat sembayang itu baru mulai hidup dan bernapas tatkala petang menjelang, tepat azan Maghrib berkumandang. Tujuh sampai sepuluh orang kampung mulai berdatangan untuk shalat Maghrib berjamaah. Tapi, saat Isya tiba, jumlah itu mulai berkurang. Tidak lebih lima orang. Waktu Subuh, tinggal tiga atau empat orang. Demikianlah musholla itu menghembuskan irama. Setiap hari seperti itu, tak pernah ramai. (more…)

Sepasang Mata Malaikat
June 30, 2012


Cerpen N Mursidi (Kompas, 3 Juni 2012)

LELAKI itu berdiri di dekat jendela. Temaram lampu kamar, membingkai bayangannya seperti setengah memanjang. Sesaat, aku hanya menangkap nuansa kesedihan di wajahnya. Wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan melingkupi langit. Dia lebih banyak diam, mendengarkan dengan syahdu suara seseorang di seberang. Aku tahu, dia sedang mengangkat telepon istrinya. Tetapi, aku tak mendengar dengan jelas: suaranya pelan setengah berbisik, seperti dengung serangga. Sesekali, ia mengangguk-angguk. (more…)