Archive for the ‘Muna Masyari’ Category

Dukka Ronjangan
January 20, 2013


Cerpen Muna Masyari (Jawa Pos, 20 Januari 2013)

Dukka Ronjangan ilustrasi Budiono

BIBIR Arsap menyungging sinis. Matanya tak lepas menatap orang-orang yang menyaksikan Marinten me-ngotek-kan alu ke bibir ronjangan [1]. Sakit hati Arsap terobati sudah. Bara di dadanya tersiram.

Bulan alis mengintip dari balik pelepah janur. Petromaks mendesis-desis di langit beranda, dan dikerubung hewan-hewan kecil. Sepasang paha sapi yang sudah dikuliti digantung sungsang di beranda dapur. Aroma dupa meruap terbawa angin. (more…)

Tumbal Suramadu
February 22, 2012


Cerpen Muna Masyari (Jawa Pos, 19 Februari 2012)

KULIHAT di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa yang beringas dan bermata bengis. Ia akan meremukkan sesiapa yang dianggapnya lengah dan lemah. Matanya menyimpan bilah-bilah pedang. Siap menjagal leher-leher menonggak tegak. Tangan kekarnya menggenggam palu besi, siap dihantamkan pada batok kepala yang kokoh mendongak, hingga tekuk. Menunduk takluk. Tak berkutik. Sepasang kakinya akan menginjak apa saja yang dianggap menghadang, hingga menjadi remah-remah tak bernilai. Kuku-kuku tajam dan panjang siap mencakar. (more…)

Kematian Damar Kembang
January 24, 2012


Cerpen Muna Masyari (Suara Merdeka, 22 Januari 2012)

Apakah perempuan memang ditakdirkan sebagai penunggu?

PAGI belum bermata. Namun kesunyian di rumah sederhana yang halamannya bertudung tenda biru itu sudah menguap ke udara. Para ibu riuh, sibuk mempersiapkan jejamuan untuk acara pangantan, jam delapan nanti. Bajik, nagasare, lemper, nangginang, sudah siap saji dalam piring mana suka. (more…)

Sumur
October 27, 2011


Cerpen Muna Masyari (Republika, 23 Oktober 2011)

SUDAH menginjak lima bulan lamanya matahari berpesta. Merayakan kemenangan atas pohon-pohon, tanah, kali, dan sungai. Daun-daun meranggas. Berguguran. Retak-retak tanah mengular. Pohon-pohon tembakau di sawah yang belum sempat dirobohkan berdiri kaku. Pohon kapuk berjajar gundul di sisi jalan kampung. Tinggal kapuknya yang berjatuhan dan bergelantungan dengan kulit mengering. Terkuak. Isinya menyembul, sebagian mulai tertiup angin. Bebatuan di dasar sungai teronggok diam menyaksikan pesta kemarau yang tak kunjung usai. (more…)