Archive for the ‘Muliadi Gf’ Category

Dari Gigi untuk Gigi
December 11, 2016


Cerpen Muliadi G.F. (Jawa Pos, 11 Desember 2016)

dari-gigi-untuk-gigi-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Dari Gigi untuk Gigi ilustrasi Bagus/Jawa Pos

TEMPAT paling menakutkan di muka bumi versi Madeali adalah Ruang Poli Gigi. Di ruang tunggu puskesmas pada Selasa pagi, pemuda yang bekerja sebagai guru honorer itu menggenggam kartu antrean nomor 2 dengan tangan gemetar. Di matanya, pintu Ruang Poli Gigi tampak seolah-olah meleleh dan menjelma wajah besar menyeringai dengan gigi-gigi yang tajam.

Tiba-tiba…, “Alihkan perhatianmu! Alihkan!” suara ini membuatnya menoleh. (more…)

Advertisements

Penjaga Toko Bernama Jung yang Ingin Menjadi Pencipta
August 14, 2016


Cerpen Muliadi GF (Jawa Pos, 14 Agustus 2016)

Penjaga Toko Bernama Jung yang Ingin Menjadi Pencipta ilustrasi Budi

Penjaga Toko Bernama Jung yang Ingin Menjadi Pencipta ilustrasi Budi

MESKI tak menjanjikan penyelesaian—mungkin akan berakhir di tengah jalan seperti yang lainnya—aku tetap berharap yang satu ini berbeda. Semoga ia hidup dan terbang ke luar sana, menuju benak orang-orang dan dihidupkan oleh mereka.

Bila keberuntunganku berlanjut, suatu hari mungkin aku bisa melihat salah satu tokoh ciptaanku berdiri di muka toko, memandangku dengan tatapan akrab dan sekaligus asing. Kubayangkan ia berseru:

“Hei, Jung, aku ingat hari itu, hari ketika kau menulisku!”

Aku akan ke luar, lalu menatapnya lekat-lekat. Setelah menoleh ke kanan-kiri dan percaya tak seorang pun memperhatikan kami dan kalaupun ada mereka takkan tahu hubungan antara kami berdua, barulah aku berani membuka mulutku—Oh, harus kuingat, mestinya suara tak di butuhkan saat itu!

“Kau mengenalku?” (more…)

Saudara-Saudara Sejalan Poros
May 29, 2016


Cerpen Muliadi Gf (Jawa Pos, 29 Mei 2016)

Saudara-Saudara Sejalan Poros ilustrasi Bagus

Saudara-Saudara Sejalan Poros ilustrasi Bagus

SEPERTI dari tepukan tangan pesulap, motor itu  tiba-tiba muncul di samping Leman. Ia, yang selalu percaya sampai kapanpun akan tetap muda meski sekarang usianya menginjak 50 tahun, memang mengayuh sepeda kencang-kencang dari utara. Tapi ketika mendekati bukaan jalan—yang memotong satu jalur berlawanan arah—ke jalan simpang menuju dusun pesisir, ia sebenarnya telah memelankan sedikit laju sepeda. Makanya, ia sangat terkejut ketika berbelok di bukaan itu muncul sebuah motor mengerem mendadak mencoba menghindarinya.

Leman menginjak ban belakang dengan sandal jepitnya, tapi terlambat; motor itu mencoba menepi tapi terlambat juga—semua serba terlambat. Sial bagi keduanya. Si pengendara motor jatuh dengan motor menindih pahanya. Sedangkan Leman terlempar ke selokan. Saat bangkit, dilihatnya sepedanya telah mencong ke kanan. Menaikinya bisa membuat orang-orang curiga ketiak kiri Leman bisulan karena si sepeda pasti bersikeras belok sendiri ke kanan. (more…)

Buku Imajiner Tentang Sungai
February 22, 2012


Cerpen Muliadi Gf (Republika, 19 Februari 2012)

BUKALAH buku itu, Sahabat, dan kau akan menemukan sungai. Setelah halaman pertama, kita akan sampai ke halaman milik Om Amir. Bila hendak ke sungai, seperti dulu, kita harus melampaui halaman itu. Satu halaman penuh telah beliau isi dengan jambu mete, ubi, dan beberapa tanaman lain. Halaman itu lebih pantas kita sebut kebun. (more…)

Rumah Sakit di Kota Hudiman A
September 13, 2011


Cerpen Muliadi Gf (Jawa Pos, 4 September 2011)

AKU akan bercerita tentang sebuah rumah sakit di kota Hudiman A.

Rumah sakit itu berdiri di daerah dataran tinggi. Kita masuk di gerbang rendah sejajar pos satpam yang dijaga anak kecil berpakaian biru-biru. Jika kau termasuk pasien baru yang butuh pertolongan segera, maka kau dituntun ke kanan menuju UGD, yang dijaga anak kecil berpakaian merah-merah. Jika menurut mereka kau membutuhkan infus, mereka segera menusuk-nusuk punggung tanganmu hingga 10 kali, berulang-ulang, mencoba-coba, mencari pembuluhmu. “Tidak apa-apa,” kata mereka tertawa-tawa, kau bisa melihat gigi taring di laring mereka. (more…)