Archive for the ‘Miftah Fadhli’ Category

Bunga Ilalang
December 21, 2011


Cerpen Miftah Fadhli (Jawa Pos, 18 Desember 2011)

ANAKKU, Sandy, berumur delapan tahun, tak kelihatan di antara anak-anak yang baru saja lewat di depan rumah. Di antara mereka aku bisa melihat Bagas, Sucipto, dan Adijaya berjalan beriringan. Pukul sebelas ini, anak itu seharusnya pulang bersama tiga serangkai itu. Tapi tak satu pun dari mereka yang melihat Sandy keluar sekolah. Bagas mengatakan, tiba-tiba saja dia kehilangan Sandy di halaman sekolah. (more…)

Advertisements

Menjelang Maut
May 9, 2011


Cerpen Miftah Fadhli (Republika, 8 Mei 2011)

SEBELUM matahari tegak lurus di atas kepalanya, dia bergegas meninggalkan rumah ketika azan berkumandang dari masjid yang terletak agak jauh di perempatan jalan raya. Lelaki itu agak ragu mengambil langkah demi menyeberangi jalan selebar sepuluh meter, sebab lalu lalang kendaraan yang tak ada habis-habisnya. Setiap hendak maju selangkah-dua langkah, dari arah kanan melintas tiga sepeda motor dengan kecepatan yang tak terduga. Dia dapat merasakan angin bagai ujung duri di cuping hidungnya. (more…)

Masjid Penuh Malaikat
December 6, 2010


Cerpen Miftah Fadhli (Republika, 5 Desember 2010)

“KI MA’UN, kenapa pintu masjid belum dibuka?” tanya Jawi ketika menghampiri Ki Ma’un yang hanya nongkrong di depan pagar masjid. “Lha, malah ngendhuk di sini. Kenapa belum dibuka masjidnya, Ki.”

Ki Ma’un tengadah. Kedua alisnya melorot membentuk kerut. Sambil membetulkan kopiah dan mengusap kerak ludah di ujung bibir, dia memberikan kunci mesjid kepada Jawi dengan wajah kusut. Jawi yang gelagapan karena saat itu dia belum siap melipat sarungnya terpaksa menerima dengan raut heran. (more…)

Ancaman
November 1, 2010


Cerpen Miftah Fadhli (Republika, 31 Oktober 2010)

HUJAN lebat mengguyur desa kami berhari hari. Enam bulan hujan tidak pernah menyentuh tetanah di desa ini. Begitu turun, derasnya serupa badai. Dari lubang-lubang dinding tepas atau celah jendela, kami mengintip keluar. Garis-garis hujan menyerupai kabut menutupi desa ini. Sesekali kami melihat selesat bayangan melintas, menembus renyai hujan. Beberapa dari kami mencoba menerka, siapa yang selanjutnya kalah dan memilih turun bukit? (more…)