Archive for the ‘Mashdar Zainal’ Category

Relikui Ibu
February 19, 2017


Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 19 Februari 2017)

relikui-ibu-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Relikui Ibu ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

CAHAYA berwarna kuning kunyit masih melimpahi kamar ibu, ketika kami mendapati si bungsu duduk bersimpuh meluberkan tangis. Tangan si bungsu menggenggam gulungan rambut tipis yang sebagian besar telah memutih. Rambut ibu. Sementara di hadapannya dompet kain kesayangan ibu tergeletak di lantai menumpahkan isinya: sejumlah uang receh dan remah-remah potongan kuku. Kuku ibu. (more…)

Advertisements

Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba
January 22, 2017


Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 22 Januari 2017)

sekoci-dan-sepasang-lumba-lumba-ilustrasi-hadi-soesanto-kompas

Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba ilustrasi Hadi Soesanto/Kompas

ARIMBI tak mengerti mengapa tiba-tiba ia sudah berada dalam sekoci itu. Semalam demamnya menjadi-jadi, badannya panas sekali. Saat itu—yang Arimbi ingat, Sugi datang dan membopong tubuhnya, lalu membaringkannya di suatu tempat yang dingin dan agak keras. Arimbi tak yakin di mana tempat itu. Apakah di puskesmas, atau di kamar Sugi, atau barangkali masih di kamar Arimbi sendiri. Tapi kini Arimbi tahu, di mana semalam Sugi membaringkan tubuhnya. Di dalam sebuah sekoci. Ya. Di dalam sebuah sekoci.

Kini, sekoci itu bergoyang-goyang ringan di tengah laut lepas. Dengan Arimbi yang duduk telimpuh sambil memandang laut yang bagai tanpa ujung. Laut lepas dengan warna abu-abu. Seorang diri. Tanpa Sugi. Dan tanpa siapa pun. (more…)

Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya
October 30, 2016


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 30 Oktober 2016)

perempuan-yang-tergila-gila-pada-mesin-cucinya-ilustrasi-suara-merdeka

Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya ilustrasi Suara Merdeka

“Akan kutunjukkan sesuatu,” katanya sambil menyeret tanganku menuju ruang dapur.

“Lihatlah!” serunya riang.

Di depan kamar mandi, di sebelah pintu, aku melihat benda terkutuk itu. Sebuah mesin cuci dengan penutup di bagian atas. Persis ibu-ibu gemuk yang mendekam karena kekenyangan.

Aku pun bertanya. “Mesin cuci? Kamu beli mesin cuci? Untuk apa?” (more…)

Kisah Sepotong Pai
August 7, 2016


Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 07 Agustus 2016)

Kisah Sepotong Pai ilustrasi Pata Areadi

Kisah Sepotong Pai ilustrasi Pata Areadi

TAS plastik putih bertuliskan nama toko roti itu tergeletak lunglai di tepi trotoar. Ada bekas goresan tipis yang cukup membuat tas plastik itu nyaris koyak menjadi dua. Di dalam tas plastik itu ada sebuah kardus mungil yang sudah penyok. Dalam kardus penyok itu ada sepotong pai. Sepotong pai kacang yang juga sudah bonyok. Tak berbentuk lagi. Kardus penyok itu sedikit basah di bagian atas. Mungkin karena lelehan saus atau gula atau mentega.

Sepotong pai yang tersesat dan tak lagi memiliki tuan. Sepotong pai yang kehilangan takdirnya sebagai pai lezat yang seharusnya karam dengan bahagia di lambung seorang bocah. Sepotong pai yang menyedihkan. (more…)

Penglihatan
April 17, 2016


Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 17 April 2016)

Penglihatan ilustrasi Nur Khaerunnisa

Penglihatan ilustrasi Nur Khaerunnisa

Aroma napas ibu berwarna seperti akar rumput yang baru dicabut dari tanah basah. Mirip aroma rempah yang segar.

Ibu telah menjelaskan puluhan kali. Bahkan mungkin ratusan kali. Dengan napas aroma akar rumput basah yang sama. Bahwa aku terlahir sempurna. Tubuh dan indraku utuh, tidak ada yang cuwil atau rompal. Tidak ada yang panjang sebelah ataupun kecil sebelah. Semua sempurna. Bahkan sepasang mata ini. Sepasang mata ini. Orang bilang aku buta. Tapi ibu bilang, aku hanya melihat dengan cara berbeda. Melihat dengan cara berbeda. Itu saja. (more…)

Danau, Sinyo, dan Seorang Bocah Bertopi Gatsby
June 14, 2015


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Juni 2015)

Danau, Sinyo, dan Seorang Bocah Bertopi Gatsby ilustrasi Toto

TAK  lama setelah Sinyo duduk, mengaitkan umpan di kail, dan melemparkannya ke dalam air, bocah lelaki bertopi gatsby itu datang. Ia tersenyum pada Sinyo. Tapi Sinyo tak membalasnya. Ia tak pernah menyukai anak kecil. Bahkan seandainya itu dirinya sendiri sewaktu kecil. Sinyo melirik bocah itu, seolah mendoakan supaya bocah itu tidak mengail di sampingnya.

Tapi bocah itu malah duduk tepat di sebelahnya, sekitar dua meter dari tempat Sinyo duduk. Bocah itu melakukan persis yang dilakukan Sinyo: mengait umpan di kail, lalu melemparkan kail ke dalam air. Tiba-tiba Sinyo merasa, bocah itu sengaja meniru gerak-geriknya. Sinyo mendengus, dasar makhluk peniru. (more…)