Archive for the ‘Martin Aleida’ Category

Tanah Air
June 19, 2016


Cerpen Martin Aleida (Kompas, 19 Juni 2016)

Tanah Air ilustrasi Polenk Rediasa

Tanah Air ilustrasi Polenk Rediasa

Hatiku teduh. Dia kelihatan tenang. Cuma matanya saja yang terus memandangiku dengan ganjil. Seakan aku ini siapa, bukan istrinya. Tadi, sambil duduk berdampingan menjuntaikan kaki di tubir tempat tidur, perlahan kupotongi kuku-kukunya yang panjang, hitam berdaki. Dari tangan sampai kaki. Gemertak pemotong kuku meningkahi angin pagi yang deras dan dingin memukuli jendela.

Tanpa menatapku barang sekejap pun, seperti berbisik pada dedaunan di luar, lagi-lagi dia mengulangi igauan yang saban pagi, menjelang matahari terbit, diucapkannya seperti merapal mantra. Atau pesan yang aku tak tahu kepada siapa. “Setengah jam lagi. Begitu matahari terbit, mereka akan datang membebaskan kita,” desisnya dengan mata yang tetap saja liar, dan sepertinya aku entah di mana, tidak berada di seberang bahunya. Siapa yang akan membebaskannya? Aku tak tahu. Dan aku tak pernah mau bertanya. Tetapi, yang jelas janji akan pembebasan selepas subuh itulah yang kelihatan membuat penderitaannya lebih dalam. (more…)

Advertisements

Asmara dan Kematian di Perbatasan Tiga Negara
March 6, 2016


Cerpen Martin Aleida (Kompas, 06 Maret 2016)

Asmara dan Kematian di Perbatasan Tiga Negara ilustrasi Koeboe Sarawan

Asmara dan Kematian di Perbatasan Tiga Negara ilustrasi Koeboe Sarawan

“Dreilandpunkt. Drielandpunt. Aux Trois Bornes.” Dengan lafal yang ganjil, aku terbata-bata membacakan kata-kata yang terpatri di semacam koin berbentuk lonjong yang ditemukan cucuku.

Membolak-balik benda pipih yang terbuat dari perunggu itu, kubujuk dia: “Ini bukan mata uang, sayang. Atok peroleh dengan memasukkan uang logam sungguhan ke dalam sebuah mesin mekanik. Memutar engkolnya. Dan keluarlah tanda mata ini. Oleh-oleh untukmu dari titik pertemuan batas negara antara Jerman, Belanda, dan Belgia, yang masih terselip di sakuku.” (more…)

Surat Nurlan Daulay Kepada Junjungan Jiwanya
June 14, 2015


Cerpen Martin Aleida (Kompas, 14 Juni 2015)

Surat Nurlan Daulay Kepada Junjungan Jiwanya ilustrasi Melodia

Las,

Sesungguhnya aku ingin tak henti-hentinya menulis kepadamu, tetapi kalaupun yang ini menjadi penutup tumpukan surat-surat kita sejak lima puluh tahun lalu, maka ia akan kuterima sebagai takdir. Suka atau tidak, segala sesuatu ada akhirnya. Juga pertalian antara kau dan aku. (more…)

Perempuan yang Selalu Menggelitik Pinggangku
November 18, 2012


Cerpen Martin Aleida (Kompas, 18 November 2012)

Perempuan yang Selalu Menggelitik Pinggangku ilustrasi Mahendra Mangku

QUEENARAKU, kuingat benar. Jauh sebelum Ibu-Bapakmu memperkenalkan dunia luar dengan mendaftarkanmu ke playgroup, berkali-kali kau memintaku lagi untuk mendongeng. Kau menarik-narik lengan bajuku, membelai jenggotku. Merengek meminta aku memulai. Tapi, aku tak pernah bisa, kecuali mengulang cerita Si Kancil yang cerdik dan buaya yang besar kuat tetapi dungu. Pendiam, pemalu, acapkali salah tingkah, itulah takdir kakekmu ini. Aku bukan si pencerita yang baik untuk kau, cucu semata loyangku. Yang kupunya hanya kaki yang selalu enteng menghampirimu, dan tangan, yang acapkali semutan, untuk mengecup kening dan rambutmu. Mengagumi matamu…. (more…)

Batu-Asah dari Benua Australia
February 14, 2012


Cerpen Martin Aleida (Kompas, 12 Februari 2012)

PUCUK cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat.

Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku. (more…)

Melarung Bro di Nantalu
December 13, 2010


Cerpen Martin Aleida (Jawa Pos, 12 Desember 2010)

TAK pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjemput ajal. Kami sadar, pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami merasa tak nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis. (more…)