Archive for the ‘Marhalim Zaini’ Category

Tak Sampai Bersampan ke Kampung Kusta
December 21, 2010


Cerpen Marhalim Zaini (Jawa Pos, 19 Desember 2010)


KONGKAM berkali-kali mengusap tempias rinyai hujan di wajahnya. Berkali-kali ia mendongak. Sungguh tak ia duga, langit di atas laut kecil Selat Air Hitam ini tiba-tiba berubah legam, disusul angin yang mengibaskan gerimis. Padahal saat bertolak dari Selat Panjang lima belas menit lalu, matahari tampak tegak segak. Kendati pun kini perahu pompong [1] yang ia tumpangi berjoget teregok-egok kian limbung diayun ombak, Kongkam sebetulnya taklah risau sangat. Tak serisau saat ia melewati laut besar Selat Malaka dari Tanjung Balai Karimun tiga hari lalu, saat angin musim Utara mengayun-hempaskan perahunya bagai sabut kelapa. Lagi pula ia bukan budak kecik yang baru belajar bersampan, yang harus takut gelombang, takut mati tenggelam. Sebab bertahun sudah, ia pulang-balik dari Selat Panjang ke Bokor, lalu ke Kampung Kusta, bertahan hidup dengan menjual ayak [2] dan ikan. Maka mati tenggelam, baginya hanyalah satu pilihan lain saja untuk tidak mati sebagai penderita kusta. (more…)

Advertisements

Kolase Waktu (Percakapan-Percakapan yang Tak Selesai)
October 5, 2010


Cerpen Marhalim Zaini (Suara Merdeka, 3 Oktober 2010)

GELAP bangkit seperti kelelawar raksasa yang merentangkan sayap di atas kampung ini. Agaknya, malam di mana-mana, selalu menanggungkan kecemasan yang tak mudah diuraikan. Terasa berat, memekat, misterius, itulah hitam. Kalaupun ada gangguan kosmis yang secara tak disangka-sangka bersilang sengkarut di depan mata telanjang kita, apalagi di belakang punggung kita, tak ada yang bisa diperbuat selain diam. Membiarkan ia lewat, atau kalaupun singgah sebagai hantu jembalang, cukuplah kita berkomat-kamit melafazkan beberapa baris ayat, memberi dinding bagi tubuh kita yang rumpang. Apa sesungguhnya yang paling kita takutkan dari hidup yang tak seberapa lama ini? Kampung yang telah lama mati suri ini, hutan-hutan yang kian meninggi dan berbiak dengan rambut daunnya yang kacau, akan menyembunyikan dari mata langit tentang apa pun yang sedang bernapas di bawahnya. Orang-orang adalah makhluk yang kadang ada sebagai sebuah kenyataan yang ganjil, dan kadang tiada dalam bayang-bayang aneh tentang masa lalu, juga masa depan. Masa kini, adalah dunia yang pikun, bahkan tanpa ingatan. Jadi, seraplah kolase waktu yang bergerak kadang cepat, terlampau cepat, kadang lambat, terlampau lambat, kadang malah bagai bandul jam yang ke sana kemari dalam kebimbangan yang konstan. Atau, kita melihatnya hanya sebagai sebentuk benda mati yang bergoyang, dan tak mampu lagi mencatat suhu tubuh dalam musim apa pun. (more…)