Archive for the ‘Mardi Luhung’ Category

Kunjungan
June 5, 2016


Cerpen Mardi Luhung (Jawa Pos, 05 Juni 2016)

Kunjungan ilustrasi Bagus

Kunjungan ilustrasi Bagus

Setiap malam dia mengunjungi rumahku. Rumah jejaka yang berumur 30 tahun ini. Dan saat mengunjungi, dia melompati pagar belakang. Masuk lewat jendela. Terus ke dapur. Di dapur, seperti biasa, dia membuka kulkas. Apa yang ingin diambilnya? Tak ada. Dia hanya menghitung-hitung, dan memilah-milah. Jika ada yang tertarik, dia pun mengambil terus menciuminya. Menimang-nimang. Sambil terpejam seperti orang berdoa. Berdoa untuk apel, sirsak, ikan, bayam, sawi, kangkung, dan juga segelas jus wortel yang selalu aku minum setiap pagi. Jus wortel yang berwarna merah tua. Jus wortel yang segar, sebab aku tambahi susu dan gula.

Lalu setelah puas, dia pun menuju kamar mandi. Gebyar-gebyur, gosok gigi, keramas, dan bersiul-siul. Gemericik air membuncah. Juga pancuran keran yang aku pasang agak tinggian menyemprot. Jika begini, rasanya, dia seperti pengembara yang tersesat selama berminggu-minggu. Pengembara yang ketika ketemu kamar mandi menjelma monster yang kerjanya mengaduk dan mengaduk air. Akibatnya, kamar mandi pun jadi berantakan. Seperti kapal oleng di tengah laut yang berbadai. Kapal oleng yang berwarna kelabu. Sebab terus-menerus dihantam ombak. (more…)

Advertisements

Sampah, Gang Tujuh dan Terbang
November 5, 2012


Cerpen Mardi Luhung (Koran Tempo, 21 Oktober 2012)

KAMPUNGKU, kampung pesisir ini dulunya adalah pantai. Pantai yang diuruk sampah. Sampah besar. Sampah kecil. Sampah keras. Juga sampah keriting. Dan sebagai pantai yang diuruk sampah, kampungku pun pernah menjadi rawa. Tempat kadal dan ular berseliweran. Serta nyamuk bertelur. Dan kata orang, di rawa itu, dulu banyak orang yang bertapa. Ada yang bertapa dengan cara duduk di pinggirannya. Berendam setengah badan. Juga memancing tanpa kail tanpa umpan. Hanya lonjoran bambu yang diikat tali. Dan talinya dicelupkan ke rawa. (more…)

Keluarga “Z”
July 16, 2012


Cerpen Mardi Luhung (Jawa Pos, 27 Mei 2012)

I

AKU kini berumur empat puluh enam tahun. Sudah berkeluarga. Sudah punya tiga anak. Dan satu istri. Satu istri? Ya, aku punya satu istri. Padahal, semasa muda dulu, aku berkeinginan punya istri lebih dari satu. Tapi, ketika aku melihat ada tetanggaku punya istri dua, dan kebetulan keduanya bersamaan hamil,  aku jadi mengkeret. Ternyata punya istri lebih dari satu itu minta ampun susahnya. (more…)

Jembatan Tak Kembali
April 5, 2012


Cerpen Mardi Luhung (Kompas, 1 April 2012)

AKU akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian? Karena, setiap yang menyeberang di jembatan itu, tak akan kembali. Disergap oleh batas yang ada di seberang sana. Seberang yang berkabut. Dan berisi kesempurnaan. (more…)

Anakku dan Gajahnya
July 5, 2011


Cerpen Mardi Luhung (Koran Tempo, 26 Juni 2011)

INI adalah sebuah cerita yang biasa. Sebiasa ketika aku berada di warung kopi ngomong ngalor-ngidul. Ngomong yang tak jelas juntrungannya. Habis ngomong bensin, ngomong sekolahan. Habis ngomong harga lombok, terus berbelok ke soal gajah yang kabur dari kebun binatang. Gajah yang besar. Gajah yang jika berjalan—bum, bum bum! Yang membuat setiap yang ketemu pasti takut dan bergegas menjauh. Gajah, yang ketika ada di mimpi anakku, anakku yang masih berumur lima tahun, adalah kawan bermain yang baik hati dan tidak sombong. Kawan bermain yang selalu dipanggil: “Jah, Jah, Gajah!” (more…)

Hamil
January 9, 2011


Cerpen Mardi Luhung (Jawa Pos, 9 Januari 2011)

I

BELAKANGAN aku terganggu oleh sebuah kata. Kata itu terdiri atas lima huruf. Tiga huruf konsonan. Dan dua huruf vokal. Bunyi kata itu adalah: “Hamil,” ya, hamil! Dan seperti bola, kata itu pun selalu melenting ke pojok kiriku. Melonjak ke pojok kananku. Lurus. Kemudian, menabrak setiap apa yang ada di depanku. Untuk kemudian kembali ke pojok yang semula. Bersiap-siap untuk segera melenting balik. Membuat aku terganggu lagi. (more…)