Archive for the ‘M. Shoim Anwar’ Category

Tahi Lalat
February 19, 2017


Cerpen M Shoim Anwar (Media Indonesia, 19 Februari 2017)

tahi-lalat-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Tahi Lalat ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

ADA tahi lalat di dada istri Pak Lurah. Itu kabar yang tersebar di tempat kami. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang-orang masih sungkan untuk mengatakannya secara terbuka. Mereka menyampaikan kabar itu dengan suara pelan, mendekatkan mulut ke telinga pendengar, sementara yang lain memasang telinga lebih dekat ke mulut orang yang sedang berbicara. Mereka manggut-manggut, tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri, sebagai pertanda telah mengerti. (more…)

Advertisements

Sepatu Jinjit Aryanti
January 15, 2017


Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 15 Januari 2017)

sepatu-jinjit-aryanti-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Sepatu Jinjit Aryanti ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

PERMUKAAN tanah di bawah sana tampak botak-botak seperti rambut lelaki tua yang rontok. Dari jendela kamar di lantai 25, aku melihat gedung-gedung telah merebahkan bayangan. Matahari hampir paripurna dalam putarannya.

Pada gedung-gedung menjulang yang belum usai pembangunannya itu, tangga-tangga dengan katrol raksasa tak lagi bergerak, lehernya mendongak ke langit seperti kerangka pemangsa purba yang beku. Sementara bangunan-bangunan yang lebih pendek tampak seperti kotak-kotak berserakan dengan warna kelabu dan atap biru. Bangunan masih belum padat. Mobil-mobil terparkir di sekitarnya. Tak ada tanda-tanda denyut kehidupan di sana. Suasana sepi terasa dari pucuk-pucuk bangunan hingga ke bawah. (more…)

Lembah Bujang
July 10, 2012


Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 17 Juni 2012)

.

.

SELAT Malaka mengirimkan ombaknya yang renyah di Tanjung Dawai. Pasir terasa keropos ketika ombak menggerusnya di telapak kaki. Di sini kutemukan tiga dunia: laut menghampar, langit membentang, dan daratan menyatu dalam lengkungan waktu. Sebuah wilayah perbatasan, seperti antara hidup dan mati, di mana keinginan dan kenyataan menjadi romantisme yang kadang menakutkan. Perjalanan panjang kutempuh seperti nenek moyang menjalani hidup sebelum alam menimbunnya. (more…)

Sulastri dan Empat Lelaki
December 5, 2011


Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6 November 2011)

.

.

LAUT menghampar dari pantai hingga batas tak terhingga. Ini adalah Laut Merah. Ombak besar tak juga datang. Hanya semacam geligir bergerak di permukaan. Udara terasa panas. Butir-butir pasir digoreng matahari. Tak ada peneduh yang berarti. Pantai menyengat sepanjang garisnya. Dermaga yang menjorok ke tengah tampak sepi. Katrol di ujung dermaga juga masih berdiri kokoh dalam kehampaan. Tiang-tiang pengikat seperti tak pernah jenuh menanti kapal-kapal yang merapat dari negeri jauh melalui Lautan Hindia atau Terusan Suez, atau dari negeri di sebelah barat, mungkin Mesir, Sudan, Eritrea, atau angkutan domestik yang memilih jalur laut. Di bibir Laut Merah, dari Yaman hingga perbatasan Yordania, cuaca terasa membara. (more…)

Kota Kematian
March 10, 2011


Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6 Maret 2011)

KAMI pergi memang untuk mati. Dengan menempuh jarak ribuan kilo meter, kami hendak menyetorkan nyawa yang ada dalam tubuh masing-masing. Kami pasrah. Kami telah dilepas dengan prosesi kematian oleh sanak keluarga. Air mata menetes. Kali ini adalah perjumpaan terakhir dalam hidup kami. Segenap sanak famili, handai tolan, serta para warga memberikan penghormatan saat kami dilepas. Mereka melingkar di lapangan sambil tangannya disilangkan ke depan ketika mendengar kata sambutan. Kami pun lantas berjalan. Cuaca meredup mengiringi kepergian kami. Mereka yang agak jauh dari kami terlihat melambaikan tangan di rumah masing-masing dengan wajah haru. Anak-anak yang mereka dekap pun ikut melambai, sebagian yang lebih besar terlihat berlari mengikuti di belakang kami. Di sepanjang perjalanan pohon-pohon seperti berlari berlawanan dengan arah kendaraan kami. Pagar-pagar rumah juga demikian. Kampung halaman merenggang dengan tubuh kami. Makin jauh dan jauh. (more…)