Archive for the ‘M. Iksaka Banu’ Category

Selamat Tinggal Hindia
November 7, 2012


Cerpen Iksaka Banu (Koran Tempo, 28 Oktober 2012)

CHEVROLET tua yang kutumpangi semakin melambat, sebelum akhirnya berhenti di muka barikade bambu yang dipasang melintang di ujung jalan Noordwijk. Sebentar kemudian, seperti sebuah mimpi buruk, dari sebelah kiri bangunan muncul beberapa orang pria berambut panjang dengan ikat kepala merah putih dan aneka seragam lusuh, menodongkan senapan. (more…)

Advertisements

Penabur Benih
July 22, 2012


Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 15 Juli 2012)

SESUAI pesan Pater Albrecht van der Gracht, doa arwah kubawakan dalam bahasa Latin sepenuhnya sebelum tubuh kaku yang diberi pemberat itu dengan tergesa diluncurkan ke laut lewat sebilah papan. Tak ada kain linen yang tersisa untuk membungkus jenazah. Si mati tampil apa adanya. Menganga, dengan gusi dan bibir yang hancur dikikis sariawan. Masih terlihat noda kecokelatan, sisa muntah, bercak darah, dan air seni di beberapa bagian baju yang dikenakan almarhum. Sepintas tadi, kami seperti sedang menghukum seorang pemberontak dengan cara membuangnya hidup-hidup ke laut. Orang-orang di kapal ini memang keterlaluan. Tak kujumpai wajah berduka, belas kasih, ataupun penghargaan. Padahal sebelum menjadi mayat, ia adalah Letnan Meeus van Scheveningen, legenda perang Antwerp yang selama ini kami hormati. (more…)

Bintang Jatuh
February 28, 2012


Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 26 Februari 2012)

DINI hari. Sisa ketegangan masih melekat di setiap sudut benteng, menghadirkan rasa sesak yang menekan dari segala arah. Sesekali aroma busuk air Kali Besar tercium, bergantian dengan bau barang terbakar. Ingin sekali aku berendam telanjang di dalam bak mandi setelah enam jam berteriak memberi komando serta melepaskan tembakan. (more…)

Racun untuk Tuan
February 27, 2011


Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 27 Februari 2011)

BERANDA berbentuk setengah lingkaran, dan seorang perempuan kecil di hadapanku. Sudah ratusan kali aku duduk di beranda ini bersamanya. Biasanya mulai pukul lima, sepulangku dari kerja. Persis seperti saat ini. Ia akan datang dengan kopi serta kudapan dalam toples. Lalu kami bercakap sedikit tentang peristiwa hari itu, atau sekadar termangu menatap kaki bukit, memerhatikan galur-galur ladang tembakau yang tampak seperti permukaan kasur berwarna hijau tua. Pemandangan luar biasa yang tak pernah kujumpai di tanah kelahiranku. Namun karena sejak pagi berkutat di tengah ladang tembakau, seringkali aku lebih tertarik membenamkan diri di balik lembaran koran. (more…)

Keringat dan Susu
November 15, 2010


Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 14 November 2010)

“LETNAN Pieter Verdragen, Sir!” sebuah seruan membuatku menunda menyalakan rokok. “Pesan radio dari Bravo!”

Godverdomme. Sampai mana mereka, Rufus?” kutatap kopral tambun di seberang meja yang tampak sibuk dengan radionya. “Seharusnya mereka sudah di sini setengah jam yang lalu.”

“Di sekitar Meester Cornelis,” sahut Rufus. “Pecah ban.” (more…)

Di Ujung Belati
August 8, 2010


Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 8 Agustus 2010)

AUCHMUTY. Samuel Auchmuty. Itu nama Skotlandia biasa. Aku pernah mendengar nama yang lebih aneh. Semula kubayangkan ia gemar berkebun atau menyimpan uang, seperti kebanyakan orang Skotlandia lainnya. Tetapi dalam rapat darurat perwira petang kemarin, Jenderal Jean-Marie Jumel terlihat sangat gelisah saat menceritakan sepak terjang pemilik nama itu kepada kami. Ya, Auchmuty yang ini seorang Mayor Jenderal. Pemimpin armada Inggris di India. (more…)