Archive for the ‘M Daniel Ilyas’ Category

Pusako Tinggi
October 17, 2011


Cerpen M. Daniel Ilyas (Republika, 16 Oktober 2011)

SEJUTA tahun yang lalu, sebuah gunung meletus di Pulau Sumatra. Kawah gunung menjelma menjadi sebuah danau. Proses alamiah selama ribuan tahun mengubah dinding kawah menjadi deretan bukit subur memagari danau. Di utara, tanah landai menghampar dari kaki bukit sampai ke tepian. Di tempat lain, dinding bukit semakin merapat ke tepi danau. Di dalam rimba raya, pohon Meranti, Pulai, dan Surian tumbuh besar-besar dan tinggi. (more…)

Advertisements

Revolver
August 17, 2011


Cerpen M Daniel Ilyas (Republika, 14 Agustus 2011)

KABUT pagi masih menyelimuti desa saat desingan peluru mortir pertama melesat diikuti gelegar ledakan. Kicau burung dan kokok ayam yang semula riuh, membungkam sepi. Tembakan pertama disusul tembakan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh dan seterusnya sampai aku keliru menghitungnya. Penduduk yang telah berangkat ke sawah dan ke ladang buru-buru pulang ke rumah masing-masing. Anak-anak yang telah sampai di sekolah berlarian ke sana ke mari seperti anak ayam kehilangan induk. (more…)

Pak Sakim
March 28, 2011


Cerpen M Daniel Ilyas (Republika, 27 Maret 2011)

PAK Sakim baru saja naik bus di terminal bus Grogol. Dia langsung duduk di tempat duduk yang kosong. Walaupun penumpang belum penuh sesak, sopir tergesa-gesa memberangkatkan bus menuju Depok. Sebuah bus dengan rute yang sama sudah masuk ke dalam terminal. Dari arah belakang, seorang anak muda berjalan di antara para penumpang. Tangannya menggenggam sebuah dompet hitam. Spontan Pak Sakim meraba kantong belakang celananya, tempat dia biasa menaruh dompet. Ternyata, dompet itu sudah tidak ada. Semula Pak Sakim merasa ragu dan takut bertindak. Pak Sakim yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta tahu betul pencopet di Jakarta ini kalau beroperasi tidak pernah sendirian, berdua bahkan bertiga. Mereka juga membawa senjata tajam. Dalam keadaan kepepet, mereka tidak segan-segan melukai korbannya. Mengetahui pencopet itu sendirian, timbul keberanian Pak Sakim. Buru-buru ditangkapnya tangan anak muda itu dan minta dompetnya dikembalikan. Tanpa banyak bicara, anak muda itu menyerahkan dompet itu kepada Pak Sakim. Pak Sakim memeriksa isinya. Semua masih utuh, uang maupun kartu-kartu. Mungkin anak muda itu mengira aku punya ilmu, pikir Pak Sakim. (more…)